Categories
Berita

Temui Bupati, Wahdah Mamuju Sosialisasi Tablig Akbar dengan Tema Menjaga NKRI

Mamuju – Pengurus Wahdah Islamiyah Mamuju melakukan audiens dengan Bupati Mamuju H. Habsi Wahid, Kamis (05/12/19). Dalam pertemuan silaturahmi ini pengurus Wahdah Islamiyah Mamuju menyampaikan  beberapa agenda keummatan yang tertuang dalam program Wahdah Islamiyah sebagai salah satu ormas islam yang eksis dalam kegiatan sosial, keagamaan di Kab. Mamuju.

“Dalam silaturahmi hari ini kami menyampaikan harapan kepada Bupati Mamuju untuk hadir dalam kegiatan Tablig Akbar Wahdah Islamiyah Mamuju yang akan dilaksanakan 08 Desember 2019 nanti Insya Allah”. Ungkap Ustadz Amiruddin, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Mamuju.

Tablig akbar dengan tema “Merajut Persatuan Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia” rencananya  akan berlangsung di Masjid Nurul Muttahidah Mamuju yang Insya Allah diisi oleh seorang alumni dari Universitas Islam Madinah dan Universitas King Saudi, H. Aswanto Muhammad Takwi. Lc., MA.

Sementara itu, Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Sulbar, Muhammad Yamin Saleh yang turut hadir dalam pertemuan ini menuturkan bahwa “dewasa ini banyak hal yang terjadi di tengah masyarakat yang berpotensi memicu terjadinya perpecahan bahkan lebih jauh lagi dapat menyebabkan disintegrasi bangsa”.

Merespon hal itu kata Ustadz Yamin, Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah menginstruksikan kepada semua DPW dan DPD Wahdah Islamiyah seluruh Indonesia untuk menggelar acara Tablig Akbar dengan tema seragam merajut persatuan menjaga NKRI.

“Tujuan kami hari ini untuk menyampaikan kepada pemerintah daerah maksud dan tujuan tablig akbar ini dan Alhamdulillah Bapak bupati merespon dengan baik”. Jelas Muhammad Yamin.

Kedepan, kita sangat mengharapakan agar pemerintah dan masyarakat utamanya ormas terus membangun sinergitas. Kalau masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi, saya kira negara kita akan kuat”, tutup Yamin Saleh (Laporan Humas Wahdah Mamuju).

Categories
Berita

Depsos Wahdah Mamuju Gelar Murojaah Penyelenggaraan Jenazah

Mamuju–Sebagai Ormas yang bergerak dalam bidang dakwah dan sosial, Wahdah Islamiyah Mamuju senantiasa selau berbenah demi memberikan pelayanan yang terbaik kepada kaum muslimin.

Melalui Departemen Sosial, 29/10/2019, selepas Sholat Isya, Wahdah Mamuju kembali menggelar Murojaah Penyelenggaraan Jenazah. Kegiatan ini berlangsung di Markas Dakwah, Masjid Al-Ihsan, Jalan Musa Karim Mamuju.

Kegiatan yang dimaksudkan untuk merefreshing kembali pemahaman dan kemampuan para anggota Tim dalam memberikan pelayanan penyelenggaraan jenazah. Hal ini dipertegas oleh Ketua Depsos Wahdah Islamiyah Mamuju, Ashriady, SKM., M.Kes bahwa kegiatan ini sifatnya pengulangan atau sharing sesama anggota tim sehingga bisa menjadi media evaluasi atas pelayanan yang dilakukan selama ini.

Sementara itu Koordinator Tim Penyelenggaraan Jenazah Wahdah Islamiyah Mamuju, Zainuddin Mz, S.IP dalam pengarahannya kembali memberikan semangat kepada para anggotanya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Dalam memberikan pelayanan Penyelenggaraan Jenazah di tengah-tengah Masyarakat, tentu banyak tantangan yang ditemui. Dalam kondisi seperti ini para anggota tim diharapkan senantiasa bersabar seraya berusaha mengapdate kemampuannya agar lebih profesional lagi. Ujar Ustadz dengan sapaan akrab Abu Sahrul ini.

Yang paling penting adalah kita berusaha untuk tidak keluar dari koridor syariat, berusaha melakukan penyelenggaraan jenazah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu alayhi wasallam, pungkasnya (am*).

Categories
Berita

Perkuat Komitmen Dakwah, Wahdah Islamiyah Sulbar Gelar Workshop Dakwah dan Kaderisasi

Diantara kader-kader yang baik itu ada yang menjadi baik dengan kuatnya ibadah yang mereka lakukan, ada pula baik karena hebat dalam keilmuan. Diibaratkan sebuah besi hanya yang terasah secara konsisten yang akan menjadi pisau yang tajam dan selalu mampu memotong dan menghancurkan kebatilan-kebatilan.

Mamuju –  Menjadi kader dakwah yang baik bukanlah sebuah hasil, melainkan proses yang harus selalu diupayakan dengan memperkuat pemahaman dan kesungguhan dalam beramal.

Diantara kader-kader yang baik itu ada yang menjadi baik dengan kuatnya ibadah yang mereka lakukan, ada pula baik karena hebat dalam keilmuan. Diibaratkan sebuah besi hanya yang terasah secara konsisten yang akan menjadi pisau yang tajam dan selalu mampu memotong dan menghancurkan kebatilan-kebatilan.

Begitu pula seorang kader dakwah, jika mereka bersemangat beramal tapi tidak diiringi dengan proses tarbiyah yang sehat, maka cepat atau lambat akan segera tumpul dan berkarat.

Semangat ini yang menjadi salah satu tujuan pelaksanaan kegiatan workshop dakwah dan kaderisasi yang dilaksanakan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Sulbar (28/09/19).

Kegiatan ini dipusatkan di Mamuju dan diikuti sejumlah pengurus departemen Dakwah dan Kaderisasi dari DPD Wahdah Islamiyah dari 6 Kabupaten di Sulawesi Barat.

Selain worshop dakwah dan kaderisasi, juga dilaksanakan Daurah Takwiniyah atau kenaikan jenjang kekaderan dari Marhalah Ta’rifiyah naik ke tingkat Marhalah Takwiniyah.

Humas Wahdah Islamiyah Sulbar, Ali Akbar menyampaikan harapan besar dari kegiatan ini menjadi momentum bagi kader-kader muda Wahdah Islamiyah mempertegas identitas dan memantapkan arah perjuangan dalam mengimplementasikan pemahaman kedalam agenda kerja.

“InsyaAllah mereka yang mengikuti kegiatan workshop hari ini diharapkan dapat memperkuat komitmen mereka dalam mengemban amanah dakwah yang memiliki rintangan dari berbagai arah,” Tutup Ali Akbar.

Categories
Berita

Bantuan LAZIS Wahdah Mamuju Ringankan Pengobatan Pak Okto

“Syukur Alhamdulillah, terima kasih banyak buat para donatur LAZIS Wahdah Mamuju. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan yang lebih baik dari ini”. Ucap Nurhayati, istri Okto.

Mamuju – Jum’at (2/8/19), LAZIS Wahdah Mamuju menyerahkan santunan kepada Okto Abdullah, yang akrab dipanggil Otto. Beliau adalah seorang Muallaf yang lahir di Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Sejak sebulan yang lalu, Pak Otto mengalami kecelakaan akibat jatuh dari motor yang mengakibatkan cedera pada pergelangan kaki kirinya. Cedera ini beliau abaikan karena tidak memiliki asuransi kesehatan (BPJS) dan mahalnya biaya untuk pengobatan dan pada akhirnya berujung infeksi yang mengakibatkan pembengkakan pada betis sebelah kiri.

Ketua LAZIS Wahdah Mamuju, Bakri, S.Kep saat ditemui redaksi wahdahmamuju.or.id mengatakan bahwa santunan ini bertujuan untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan luka paska operasi serta pembersihan pada area infeksi.  Bantuan ini adalah tindak lanjut dari program Peduli Berkah, yang merupakan salah satu program unggulan LAZIS Wahdah, terangnya.

Pemberian santunan dilaksanakan dengan mengunjungi langsung rumah dhuafa, untuk memastikan bantuan diterima langsung oleh yang berhak menerima. Di waktu yang bersamaan, LAZIS Wahdah Mamuju juga memberikan Bantuan berupa bahan makanan (sembako) seperti, beras, telur, minyak, dll. Untuk memenuhi kebutuhan pangannya, yang beberapa pekan ini hanya menkonsumsi nasi jagung.

“Syukur Alhamdulillah, terima kasih banyak buat para donatur LAZIS Wahdah Mamuju. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan yang lebih baik dari ini”. Ucap Nurhayati, istri Okto.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, program ini akan terus digalakkan LAZIS Wahdah untuk membantu kaum dhuafa. Termasuk program kemandirian untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka, sehingga tidak lagi menjadi mustahik (penerima manfaat) tapi berubah menjadi Muzakki (pemberi manfaat). Af*

Categories
Artikel

Hakikat Kemenangan dalam Islam

Hakikat Kemenangan dalam Islam

Oleh:

Ust. Muhammad Ali, SH

Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah Mamuju

Menang atau sukses adalah sesuatu yang menjadi cita-cita kita semua. Dalam kehidupan, semua manusia menginginkan menjadi menang dan sukses, namun cara pandang yang berbeda tentang makna kemenangan ini.

Kebanyakan manusia menganggap bahwa menang selalu ditujukan dengan pencapaian dunia. Jabatan yang tinggi, gaji banyak, rumah bagus, prestasi sekolah, dan lain-lain. Banyak diantara mereka yang mengejar dunia, namun banyak pula diantara mereka yang mengakhiri kehidupan dengan bunuh diri.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

“Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Dalam Agama kita atau dalam pandangan syariat, kemenangan itu dalam dilihat menjadi tiga:

  1. Al Fauzu faaizun (Minal Aa’idin Wal Faa’iziin)
  2. Al Falah muflihun (panggilan adzan Hayya ‘alal falah)
  3. An Najah (populer di Arab)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya (QS. Ali ‘Imran Ayat 185).

Kemenangan hakiki adalah ketika seseorang dimasukkan ke dalam syurga. Inilah cita-cita tertinggi seorang muslim, adapun kesuksesan yang lain hanyalah wasilah atau sarana. Kemenangan yang diinginkan adalah bukanlah kemenangan semu yang diperoleh dengan cara-cara yang yang salah atau bahkan melanggar syariat Allah Subhanahu Wata’ala.

Terdapat 2 syarat agar kemenangan ini dimiliki oleh seorang muslim, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An-Nahl Ayat 97).

Jadi syaratnya adalah Iman dan Amal Sholeh.

Ada beberap kiat agar kita dapat menjadi pemenang, yaitu diantaranya:

  1. Memiliki Iman dan aqidah yang benar
  2. Niat yang tulus dan tekad yang kuat
  3. Menuntut ilmu syar’i
  4. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala
  5. Memanfaatkan masa Muda
  6. Birul walidain (berbakti kepada kedua org tua)
  7. Akhlaqul Karimah
  8. Itqan(Profesional) dan mujahadah
  9. Amal jariyah (sedekah, Ilmu yg bermanfaat dan doa anak yg shaleh)
  10. Memperbanyak doa

Mamuju, 12 Syawal 1440 H

Penulis: Agus Sapto Widodo

Editing: Ashriady Abu Muadz

Categories
Artikel

Hatiku Milikmu

Mengapa Aku Memilih Tarbiyah?

Hatiku Milikmu

Cuplikan naskah peserta lomba menulis DPD Wahdah Islamiyah Mamuju 2019

Oleh: A. Ely Herlinawati

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

Wajah mereka sederhana;

Penampilan mereka bersahaja;

Pun sikap mereka apa adanya;

Tapi ada yang bercahaya di sana;

Tapi ada yang memancar daripadanya;

Tapi ada yang melegakan di dalamnya;

Orang-orang yang berada di jalan Nya,

Pada mereka aku belajar mengeja hidup.

—————————————————————————————————————————————

Bila ditanya “Mengapa aku memilih tarbiyah?”, karena aku butuh tarbiyah dan aku butuh berjamaah dalam dakwah. Ya, tarbiyah adalah jalan yang begitu berarti bagiku, jalan dimana aku mengenal dien ini lebih jauh, jalan dimana aku menemukan arti sahabat (baca: ukhuwah) yang sesungguhnya. Tidak ada alasan aku tidak bersyukur atas hidayah dan nikmat islam yang Allah Ta’ala berikan, dimana aku bisa berada di garis dakwah, di tengah banyaknya orang-orang baik yang belum semua Allah Ta’ala panggil hatinya untuk ikut dalam jalan dakwah ini.

Melewati proses panjang pencarian jati diri, hingga aku memutuskan untuk berada dengan jama’ah dakwah dan tarbiyah. Di jalan tarbiyah ini, aku mendapatkan pemahaman Islam yang syamil, yang sesuai dengan syariat, Al Qur’an dan Sunnah. Jalan dimana aku belajar mengeja hidup. Ya, jalan itu adalah Tarbiyah.

Ta’aruf dengan dunia tarbiyah…

Sejak mengenal kajian di SMU, aku mulai sedikit demi sedikit mengenal Islam yang sesungguhnya. Tidak dapat dipungkiri, aku yang jebolan SMP di pesantren, tidak asing lagi dengan kajian-kajian berbagai kitab dari kitab Bulughul Maram, Riyadhusshalihiin, atau kitab yang paling “fenomenal” dan menjadi “momok” bagi kami para santriwati; Aljawaahirul Kalaamiyah kitab kuning karya Syeikh Thahir bin Muhammad Salih Al Jazairiy Rahimahullah, barisan tulisan arab tanpa tanda baca yang harus diterjemahkan dengan penjelasan sintaksis dan variasi ejaan atau yang lebih dikenal dengan Nahwu-Sharaf dalam bahasa arab; tapi entah mengapa, bagiku belum terlalu berbekas di hati, mungkin karena pesantren bukan pilihanku tetapi karena paksaan orang tua yang terlalu sibuk dengan dunia kerja dan memilih pesantren sebagai tempat “penitipan”ku; entahlah, yang jelas pada saat itu aku tidak peduli, kujalani segala rutinitas pesantren dengan apa adanya dan hanya untuk memenuhi harapan orang tua.

Hingga aku mengenal tarbiyah tahun 1995, tepatnya ketika aku memasuki SMU kelas 1. Saat itu saya bersekolah pada salah satu SMU yang rajin melaksanakan kajian islam buat siswa-siswinya. Awalnya aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau “islami”, sangat membosankan pikirku. Merasa aneh juga dengan penampilan mereka; janggut tipis dan celana cingkrang bagi kakak kelas laki-laki dan jilbab besar bagi kakak kelas wanita.

Tetapi ada yang menjadi daya magnet dari komunitas ini; karena mereka begitu bersahaja dengan senyum tulus serta sapaan salam mereka disertai jabatan tangan setiap bertemu sesama mahram; karena begitu menentramkan keyakinan pada Ilahi dalam sikap-sikap ketawadhuan mereka; karena begitu mengesankan ketangguhan mereka dalam menyebarkan dakwah dan amal shaleh. Lambat laun aku menikmati berada dikomunitas ini, komunitas yang mengenalkan nilai-nilai Islam lewat tarbiyah bil hikmah.

Merangkul dalam dekapan ukhuwah yang sarat dengan nilai-nilai Islami, jauh dari sikap kepalsuan dan ada apanya. Jujur akhirnya harus aku akui, aku jatuh cinta pada jalan dakwah komunitas ini; Wahdah Islamiyah, hingga tak terasa tarbiyah menjadi sebuah rutinitas yang selalu aku rindukan. Sekedar duduk bermajelis bertemu saudari seiman dan Murobbiyah yang senantiasa mengisi kekosongan hati dan kekeringan imanku, menjadikan tarbiyah mendarah daging dalam diriku. Dan ini berlangsung hingga aku akhirnya dinyatakan lulus dan melanjutkan kuliah di Kampus Merah, ya,,,kampus yang selalu kuidam-idamkan, karena disanalah, idelisme diriku dan kesibukan hari-hariku bersama dakwah dan saudari ku seiman lebih terasa.

Ujian itu datang

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya, muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

“Dasar ekstrimis, fanatik berlebihan, kampungan…!”, ini adalah bentakan bapak yang entah sudah keberapa kalinya beliau ucapkan ketika mendapatiku berpenampilan seperti ini; jilbab besar dan kaos kaki. Aku hanya bisa diam terpaku dan menangis sebagai simbol atas segala ekspresiku. Sejak bergelut dengan dakwah kampus, aku seperti terhipnotis dalam euphoria dakwah kampus. Hingga aku melupakan dakwah dengan keluarga.

Orang tua yang bertugas di kota yang berbeda provinsi, dan hanya datang beberapa hari dalam beberapa bulan; saudara yang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, membuatku tenggelam dalam dunia ku sendiri. Tanpa kusadari, aku dan keluarga ku berada pada simpang jalan yang berbeda. Jiwa dan darah muda yang menggelora dalam memperjuangkan dakwah ini, membuat seringnya aku dan orangtuaku, terutama bapak, berada sudut pandang yang berbeda dalam memaknai dakwah islam ini.

Pejuang sepanjang masa

Apa yang kuharap

Tak selalu berarti

Lalu apa yang terbaik

Nabi suci bilang

Perang Badar tak sebesar menaklukkan diri sendiri

Memang …                 

Hingga aku harus tersudut,

di pojok terdalam gelap matahari.

Dakwah yang kuusung, rasanya tak berarti tanpa dukungan orangtua. Aku seperti berada pada dimensi dunia lain. Pada hamparan sajadah malam aku mencari; apa yang salah pada jalan dakwah ini?;  pada siapakah cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud; apakah sudah pantas aku bersikap pada orang tuaku selama ini? Padahal mereka adalah perwakilan-Mu langsung ya Rabb. Astaghfirullah…

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orantuamu. Hanyalah kepada Aku kembalimu(Qs. Lukman : 14)

Rasulullah adalah manusia pilihan Allah Ta’ala, Beliau adalah contoh dan teladan seluruh umat manusia. Dalam mendakwahkan dien ini, keluarga adalah basis pertama yang beliau dakwahi hingga mendapat dukungan penuh dalam menyebarkan Islam ini.

Akhirnya aku temui jawabannya; bukan pada jalan dakwah yang salah, tapi lebih kepada ghiroh dan metode aku yang salah dalam berdakwah ke keluarga. Setelah aku menyadari kekeliruanku, aku mulai mengintenskan komunikasi dengan kedua orang tua dan keluarga, mengubah dakwah bukan hanya dengan retorika semata tetapi memperlihatkan kepada mereka dalam wujud aksi yang nyata. Sedikit demi sedikit aku mengajak mereka pada kegiatan-kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah; majelis taklim, tahsin Qira’ah Al Qur’an, dan tabligh akbar.

Mengenalkan kepada kedua orang tua apa itu Wahdah Islamiyah, memperlihatkan kepada mereka bahwa ormas ini bukanlah seperti ormas dengan citra negatif yang selama ini  mereka pahami; tetapi ormas yang keberadaannya sudah dikenal dan eksis diterima dakwahnya di masyarakat dengan berbagai program mereka, diantaranya Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (Lazis); berupa kegiatan-kegiatan membantu dan berbagi kepada sesama muslim, pembagian ifthar di bulan Ramadhan, Tim Penyelenggaraan Jenazah (TPJ), Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA), lembaga pendidikan Islami buat generasi masa depan dalam naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).

Walaupun di awal-awal mereka tidak berminat dan bergeming, tapi itu tidak menyurutkan langkahku; karena aku yakin cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud pada cinta dan ridha mereka. Karena sejatinya pejuang sepanjang masa adalah orang tua kita, mereka adalah perantara dari penciptaan dan kehadiran kita ke dunia ini, maka saat naiflah ketika para aktifis yang menyematkan dirinya sebagai pejuang dakwah tidak berusaha meraih cinta dan ridho dari kedua orangtuanya dalam mengarungi jalan dakwah ini. Bahkan pada keadaan paling berbeda sekalipun. Cari caranya, disitulah ridha Allah Ta’ala tiba pada kita, Insya Allah

۩۩۩۩۩

Hidup adalah proses maka ia hanya akan bermakna dalam arti yang sesungguhnya jika dijalankan tahap-tahapnya. Seperti nasehat Prawoto Mangkusasmito, tokoh politik Islam masa orde lama dalam suratnya kepada anaknya “Perjuangan adalah suatu garis, suatu proses, bukan suatu titik. Yang ada ialah garis mendaki, garis menurun, garis mendatar. Pencapaiannya ialah suatu titik, yang segera akan dilalui, akan lenyap atau tumbuh, tergantung amal pemeliharaannya. Perjuangan adalah usaha penyempurnaan dan pemeliharaan yang tak kunjung putus selama hayat dikandung badan”.

Maka, “jangan pernah lelah berjuang dijalan dakwah ini, karena sejatinya kitalah yang butuh Islam, bukan Islam yang butuh kita”.

۩۩۩۩۩

#Mamuju, 29 Mei 2019 – di Penghujung Ramadhan 1440 H

Untuk akhawatifillah, ummahatifillah, murobbiyah dan asaatidzah ku:

Kalian tak pernah tahu betapa istimewanya kalian bagiku!

Categories
Artikel

Dekapan Ukhuwah Para Murabbiyah

Mengapa Aku Memilih Tarbiyah?

(Dekapan Ukhuwah Para Murabbiyah)

Cuplikan naskah peserta lomba menulis DPD Wahdah Islamiyah Mamuju 2019

Oleh: Irmawati

Dekapan ukhuwah para murabbiyah dan juga para akhwat ummahat yang menjadi alasan untuk memulai tulisan ini, walaupun kesempatan menulis sudah terbuka sejak beberapa bulan yang lalu namun jari jemari ini baru saja tertarik untuk menari di atas keyboard.

Teringat masa itu, mudik lebaran 3 tahun yang lalu, dimana kami memilih untuk mencoba mudik lewat jalur darat, lintas Kabupaten hingga lintas Propinsi. Saya yang dari Sulawesi Barat dan zauji dari Sulawesi Tenggara, berdomisili di Mamuju, dan ketika mudik berangkat dari Sulawesi Barat (Mamuju) menuju Sulawesi Tenggara (Raha).

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه

Pagi, tepatnya tanggal 2 Juli tahun 2016 mengawali langkah kami untuk melakukan safar. Saya bersama suami dan 3 orang anak beserta 2 orang ikhwah yang menyertai kami sampai Kabupaten Polman dan Palopo. Dengan penuh tawakkal kepada Allah kami pun memulai perjalanan.

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْن

Bismillah…..

Tanpa terasa, satu persatu ikhwah yang menyertai kami sampai di tujuan masing-masing dan tibalah kami di Kota Palopo. Ujian pun mulai terasa, kami yang baru melintasi kota ini masih sangat terasa asing dengan kondisi jalanan atau sekedar mencari tempat untuk istirahat. Dengan menggunakan google map sebagai pendukung untuk mencari arah dan hotel, berjam-jam kami menelusuri jalan demi jalan, akhirnya sekitar jam 11 malam kami sampai di salah satu hotel untuk sekedar merebahkan badan. Melepaskan sedikit lelah dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melanjutkan perjalanan esok harinya, prediksi perjalanan maksimal 3 hari untuk sampai ke tujuan.

Qadarullah… berangkat dari Kota Palopo, tanggal 3 di subuh hari, melewati perbatasan panjang yang menghubungkan Luwu Utara (Sulawesi Selatan) dan Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara). Di tengah teriknya matahari dan dalam kondisi tadabbur alam, menyadari betapa luas ciptaan Allah, betapa kuasaNya yang menciptakan alam ini dengan segala keelokannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemandangan selama perjalanan sungguh indah, melewati gunung dan jurang yang membuat hamparan laut nan luas terlihat sangat menyejukkan mata, kami sempat ingin berhenti sekedar untuk mengambil gambar akan tetapi sepinya jalanan mengurungkan niat untuk berhenti, khawatir kalau-kalau ada yang memanfaatkan sepinya jalanan ini.

Kami terus berlalu hingga sampai pada sebuah tanjakan, dimana di tengah jalanan terdapat sebuah batu. Dalam penglihatanku yang saat itu tidak sedang berpuasa, terlihat jelas sekali kalau batu tersebut cukup besar, tetapi berbeda di mata zauji. Batu itu terlihat kecil dan bisa dilewati, zauji pun tancap gas dan akhirnya terdengar bunyi plok…(tangki bensin kena batu itu). Saya hanya bisa berucap Innalillah dan perjalanan kami dilanjutkan kembali.

Sampai akhirnya mendapati jalanan yang lumayan rata dan rasa penasaran untuk berhenti pun muncul. Mata ini langsung mengarah pada meteran bensin, saya mengucapkan Innalillah yang kedua kalinya, bensin yang terisi penuh sebelum meninggalkan kota, kini….. sontak zauji panik. “Ummi… tangki bensin bocor”, dia sudah mulai berkaca-kaca. Seketika Allah menurunkan ketenangan kepadaku untuk tidak menambah rumit masalah. Tetap dalam do’a, begitu kataku sambil menoleh ke belakang, memandangi anak-anak yang tertidur pulas.

Ya Allah, tolonglah kami, tidak ada yang mampu menolong kami kecuali Engkau. Waktu berlalu, hampir sejam kami berhenti dan belum ada solusi. Tetap dalam do’a, tetap dalam do’a, tawakkal kepada Allah sebagaimana tawakkal diawal perjalanan, yakin bahwa ini adalah bagian dari rencana Allah.

Belum muncul ide menghubungi orang lain kecuali ikhwah teman sekampung zauji yang juga berangkat via darat namun berangkat duluan beberapa jam dari kami. Sama sekali tidak ada dipikiran kami untuk menyampaikan kondisi ini kepada keluarga kecuali yang bisa dipercaya, takut membuat mereka merasa khawatir.

Stock perasaan tenang pun mulai mengikis, mengingat waktu tetap berlalu dan kami masih di kondisi yang sama dan stock bensin juga yang semakin menipis. Diputuskan untuk memulai kembali perjalanan dengan kondisi bensin yang terus mengalir. Sambil berdo’a, mencoba menyampaikan kondisi ini di salah satu grup whatsapp dimana grup itu dihuni para murabbiyah, akhwat wa ummahat. Tangisan pecah saat perhatian mereka tertuju kepada kami, tidak henti-hentinya handpone berbunyi pertanda WA masuk di grup tersebut. Dengan segala arahan, do’a dan pertanyaan “dimana mi?, bagaimana kondisinya?”. Hal itulah yang membuat kami merasa kuat. Jazaakumullahu khairan.

Dari arah depan ada mobil open cup yang sedang melaju, kami berhenti dan berusaha minta bantuan. Alhamdulillah mereka pun berhenti, sepertinya mereka sering melewati jalanan ini. Beberapa pemuda yang menumpangi mobil tersebut dengan berbekal peralatan mandi, mencoba memberikan solusi dengn menempelkan sabun mandi batang di area tangki bensin mobil kami yang bocor.

Dan dari arah belakang sebuah mobil sedan juga hendak melewati kami, tapi karena melihat kami butuh bantuan, sepasang suami istri yang berada dalam mobil tersebut juga berhenti. Kehadiran dari 3 mobil ini dengan penumpangnya masing-masing cukup mengurangi kondisi rasa seram dan sepinya jalanan ini.

Alhamdulillah, setelah menempelkan sabun pada tangki, aliran bensinpun berubah menjadi rembesan saja meski kami tetap khawatir karena pada meteran bensin tersisa satu strip. Para pemberi bantuan menyarankan untuk segera melanjutkan perjalanan, khawatir jangan sampai bensin habis sebelum dapat perkampungan. Perjalanan kami lanjutkan dengan kawalan do’a dan perhatian dari para murobbiyah, akhwat wa ummahat.

Menurut informasi, jarak tempuh untuk sampai perkampungan di Kolaka Utara sekitar 40 Km lagi. Bensin yang tersisa satu strip dan hari pun menjelang sore. Cuaca masih terasa panas dan salah seorang dari anak kami sedang muntah di jok belakang (mabok karena AC mobil tidak on lagi). Hanya bisa berkata sabar nak, tanpa bisa mengurusinya karena di pangkuan juga ada anak yang baru berumur satu tahun yang butuh ditenangkan. Sambil menenangkan zauji agar tetap fokus menyetir.

Tangis dalam hati dan tetap minta do’a dari penghuni grup WA. Salah satu murabbiyah yang membimbingku di awal tarbiyah memberi pesan, “berdo’alah dengan bertawassul dengan amalan-amalan shaleh yang pernah dilakukan sebagaimana para pemuda-pemudah kahfi”. Tidak ada amalan yang bisa kuingat kecuali niat yang ingin membahagiakan keluarga zauji dengan kedatangan kami, dimana mudik ini adalah yang pertama kali sejak bapak mertua saya berpulang.

Dan yang masih terasa hangat diingatan adalah indahnya kebersamaan bersama muslimah-muslimah tangguh dalam kegiatan tebar ifthor di beberapa tempat di Mamuju sebelum mudik. Ada harapan besar dalam hati kami sekiranya Allah memberikan pertolongan kepada kami, bisa kembali sampai ke Mamuju lagi, berkumpul dengan keluarga, berkumpul kembali dengan para muslimah tangguh itu, kembali berada dalam halaqah tarbiyah dan majelis-majelis ilmu syar’i lainnya. Menjadi salah satu bagian dalam barisan para pejuang-pejuang dakwah sebagaimana para murabbiyah kami.

Kekuatan hati, rasa tenang, bahkan kami merasakan keajaiban, bensin yang tetap bertahan sampai mendapati bengkel itu adalah salah satu keajaiban yang Allah Azza Wajalla berikan dalam perjalanan kami. Semua atas do’a-do’a yang melangit di kejauhan sana, yang Allah perkenankan. Tidak sedikit kami membayangkan ketika Allah sang pemilik kuasa menginginkan sesuatu yang buruk dalam perjalanan ini. Bensin yang bocor di tengah teriknya matahari, hanya dengan sedikit percikan api saja kami bisa celaka, namun Allah masih menghendaki kebaikan buat kami.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Meskipun kisah perjalanan ini masih panjang karena masih harus diuji dengan antrian di pelabuhan fery yang membuat kami harus bermalam lagi ke-3 kalinya dalam perjalanan. Satu malam di Palopo, satu malam di Kolaka Utara, dan malam ke tiga ini di pelabuhan, baru sampai di tujuan di hari ke empat perjalanan.

Kisah ini cukup mengajarkan kami banyak hal, merasakan buah dari tarbiyah yang membentuk diri kami. Dari keadaan yang jahiliyah sampai bisa memahami dan merasakan arti kata sabar, tawakkal serta solidaritas yang tinggi dan ikatan ukhuwah yang begitu kuàt dari para murabbiyah, akhwat dan ummahat baik pada saat dekat maupun jauh, menjadi salah satu diantara sekian alasan “mengapa saya memilih tarbiyah”.

Dan diakhir tulisan ini terucap do’a dan harapan semoga diistiqomahkan dalam tarbiyah dan tetap semangat dalam mengemban amanah-amanah dakwah. Aamiin ….

Mamuju 16 Ramadhan 1440 H

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 18: Santun, Pemaaf & Lapang Dada Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Fajaruddin Djarir, SE

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju

Di tengah-tengah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang terjadi kecemburuan antara satu dengan yang lain, menyatukan istri-istri beliau bukanlah perkara yang mudah. Beristri lebih dari satu memang butuh pengorganisasian yang baik, bahkan dalam riwayat dijelaskan bagaimana istri-istri nabi terkadang membentuk kubu-kubu, ada kubu Aisya, ada kubu Zainab dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang suami yang bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan yang berarti.

Banyak sekali bagian-bagian dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan sifat kesantunan, pemaaf dan lapang dada beliau. Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman mengakui kelembutan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali ‘Imran Ayat 159).

Kelembutan dan sikap santun adalah sifat yang disifatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang paling sempurna akhlaknya dalam masalah ini, dalam kelapangan dada, dalam pemberian maaf, dalam kesantunan sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan beliau. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. Al-A’raf Ayat 199).

Allah juga menyebutkan tentang perkara ini adalah bagian dari sifat ‘Ibadurrahman, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik(QS. Al Furqon Ayat 63).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menghiasi diri beliau dengan sifat ini. Hal ini nampak jelas ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah kepada orang-orang Quraisy, meluruskan aqidah mereka, mencegah mereka dari melakukan kesyirikan, orang-orang Quraisy melakukan hal-hal yang buruk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tukang sihir, orang gila, menyiksa sahabat-sahabat beliau bahkan sampai berusaha membunuh Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan Anas bin Malik dalam sebuah urusan, akan tetapi Anas bin Malik ini tidak melakukannya. Kemudian dia berhenti di kerumunan anak-anak, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang dibelakangnya, pada waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak marah kepadanya melainkan memanggil Anas bin Malik dengan panggilan yang baik. Rasulullah mengatakan “Wahai Unais, apakah engkau telah pergi melakukan pekerjaan yang saya perintahkan?”.

Pada seorang anak-anak, beliau begitu lembut menegur untuk sesuatu yang belum dilakukan. Anas bin Malik pernah berkata, demi Allah saya telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 9 tahun lamanya tetapi saya tidak pernah mendengar dari beliau mengatakan kepada saya tentang apa yang saya tidak lakukan. Beliau tidak pernah bertanya kepadaku kenapa kamu tidak melakukan?, bahkan untuk bertanya seperti itu pun Rasulullah tidak melakukannya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ خَادِمٍ بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ فَضَرَبَتْ بِيَدِهَا ، فَكَسَرَتِ الْقَصْعَةَ ، فَضَمَّهَا ، وَجَعَلَ فِيهَا الطَّعَامَ وَقَالَ « كُلُوا » . وَحَبَسَ الرَّسُولَ وَالْقَصْعَةَ حَتَّى فَرَغُوا ، فَدَفَعَ الْقَصْعَةَ الصَّحِيحَةَ وَحَبَسَ الْمَكْسُورَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah berada di sebagian istrinya (yaitu ‘Aisyah). Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin yaitu Zainab binti Jahsy) mengutus pembantunya untuk mengantarkan piring berisi makanan. Lantas ketika itu ‘Aisyah memukul piring tersebut. Piring tersebut akhirnya pecah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengumpulkan bagian yang pecah tersebut. Kemudian beliau meletakkan makanan di atasnya, lalu beliau perintahkan, “Ayo makanlah kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan piring tersebut hingga selesai. Piring yang bagus diserahkan beliau, lantas piring yang pecah ditahan” (HR. Bukhari No. 2481).

Dalam kisah lain, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa khazirah (sejenis masakan daging dicampur dengan tepung) yang sudah aku masak untuk beliau. Aku katakan kepada Saudah yang berada di sebelah Nabi, “Ayo makan.” Namun Saudah enggan memakannya. Karena itu, aku katakan, “Engkau harus makan atau makanan ini aku oleskan ke wajahmu”.

Mendengar hal tersebut Saudah tetap tidak bergeming, maka aku ambil makanan tersebut dengan tanganku lalu aku oleskan pada wajahnya. ”Hal ini menyebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa lalu menyodorkan makanan tersebut kepada Saudah seraya mengatakan, “Balaslah olesi juga wajahnya.” Akhirnya Nabi pun tertawa melihat wajah Aisyah yang juga dilumuri makanan tersebut sehingga hal ini seperti permainan.

Di tengah-tengah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang terjadi kecemburuan antara satu dengan yang lain, menyatukan istri-istri beliau bukanlah perkara yang mudah. Beristri lebih dari satu memang butuh pengorganisasian yang baik, bahkan dalam riwayat dijelaskan bagaimana istri-istri nabi terkadang membentuk kubu-kubu, ada kubu Aisya, ada kubu Zainab dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang suami yang bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan yang berarti.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Serombongan orang Yahudi meminta ijin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum’, ‘Aisyah menjawab,

بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ

“Kematian atas kalian (juga) dan laknat”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur ‘Aisyah dengan mengatakan,

يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu suka dengan lemah lembut dalam segala urusan”. ‘Aisyah mengatakan, “Tidakkah Engkau mendengar ucapan mereka?”. Rasulullah menjawab,

قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

“Sungguh aku telah menjawab ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim No. 2165)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang santun, pemaaf dan memiliki kelapangan dada yang sangat tinggi dengan siapa saja beliau betinteraksi. Maka Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam Ayat 4).

 

Mamuju, 18 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

 

 

 

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 17: Canda dan Tawa Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Ziljian Adet Jibrann

Mahasiswa STIBA Makassar

Rasulullah selalu menampakkan senyumnya dihadapan sahabat-sahabat beliau. Ketika beliau tertawa, maka beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, tertawa secukupnya. Ketika  beliau tertawa tidak pernah kelihatan bagian dalam lidahnya.

Canda dan tawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencerminkan sosok teladan sepanjang masa, uswatun hasanah bagi kita semua. Nabi adalah seseorang yang sangat murah senyum, sebagaimana Jabir bi Abdullah berkata, Rasulullah tidak pernah melihatku kecuali dia senyum kepadaku.

Rasulullah selalu menampakkan senyumnya dihadapan sahabat-sahabat beliau. Ketika beliau tertawa, maka beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, tertawa secukupnya. Ketika  beliau tertawa tidak pernah kelihatan bagian dalam lidahnya.

Canda dan tawa menjadi penting untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena begitu banyak diantara manusia ketika bercanda berlebihan atau mengolok-olok Allah Subhanahu Wata’ala. Padahal mengolok-olok Allah Subhanahu Wata’ala, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah sebuah ancaman yang besar. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS. At-Taubah: 65-66).

Bercanda dengan membawa nama-nama Allah, membawa ayat-ayatNya, membawa nama Rasulullah maka ancamannya adalah sifat kekafiran. Maka dari itu, kita harus memperhatikan perkara ini ketika bercanda.

Kisah tentang candaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah diantaranya, dari Al Hasan, ada seorang sepuh datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Seorang nenek tua pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku dalam surga.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua”. Nenek tua itu pun pergi sambil menangis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًا (37) لِّأَصْحَابِ الْيَمِينِ

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya(QS. Al Waqi’ah: 35-37). (HR. Tirmidzi dalam Asy Syamail Muhammadiyah no. 205, hadits hasan menurut Syaikh Al Albani. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 2987).

Artinya, memang yang masuk surga tidak ada yang tua. Karena semua ketika itu kembali muda.

Bentuk canda yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa bersama sahabatnya. Ketika itu dihidangkan kurma diatas piring dan masing-masing ada bagiannya. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu setelah selesai memakan kurmanya, beliau meletakkan batu kurmanya di piring Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu kemudian Ali berkata kepada Rasulullah, Ya Rasulullah sebegitu laparnyakah engkau sehingga di piringmu begitu banyak biji batu kurma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian tersenyum, kemudian menunjuk piring milik Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu yang begitu bersih, kemudian Rasulullah mengatakan, siapa sebenarnya yang lebih lapar.

Inilah bentuk canda dan tawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak pernah membawa nama Allah Subhanahu Wata’ala dan ayat-ayatNya ketika bercanda. Rasulullah selalu bersikap jujur dengan candaan beliau, beliau mengatakan sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan kecuali yang benar.

Canda dan tawa Rasulullah adalah sebuah kemuliaan, maka dari itu janganlah kita bercanda dengan membawa Agama ini dalam candaan kita, janganlah kita bercanda sehingga menyakiti hati saudara-saudara kita sesama muslim.

 

Mamuju, 17 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 16: Keberanian dan Kekuatan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Oleh:

Habil

Alumni Tadribud Du’at Wahdah Islamiyah

Di medan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk sosok yang mengagumkan dalam keberanian dan keteguhan dengan memperlihatkan kondisi musuh yang berlarian saat berhadapan dengan beliau, tidak hanya sekali terjadi. Sementara beliau tetap teguh di tempatnya layaknya gunung yang menjulang tinggi, kokoh di tempatnya. Tidak bergeming, melangkah maju, tidak mundur, dan tidak goyah.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam adalah orang paling berani dan paling teguh hatinya. Tidak ada makhluk selain dia yang menandinginya dalam hal keteguhan nyali dan kekuatan hati. Beliau adalah pemberani satu-satunya, sifat-sifat keberanian yang terkumpul pada dirinya, tabiat-tabiat, keteguhan dan kekuatan yang menyatu pada diri beliau dengan sempurna.

Keberanian beliau tidak hanya di medan jihad atau perang semata, tetapi keberanian ini telah didahului dengan keberanian diplomasi yaitu diplomasi dihadapan pembesar-pembesar Quraisy sejak beliau berhijrah. Sebelum Allah menjaganya dengan derajat kenabian. Sebagaimanana hal ini terlihat dengan keberanian beliau dalam menjalankan kebenaran, tidak takut celaan, memperlihatkan kebencian yang sangat pada tuhan-tuhan kaumnya yang palsu.

Ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat beliau dengan derajat kenabian, beliau langsung menyuarakan kalimat tauhid denga hati yang teguh, keberanian yang tidak ada tandingannya dan menyatakan kebodohan tuhan-tuhan mereka dan para penyembahnya. Tidak peduli terhadap perlawanan dan rencana mereka terhadap dirinya.

Keberadaan beliau dalam medan perang sudah terpampang sejak kuku beliau mulai tumbuh, umurnya baru berkisar 15 tahun. Rasulullah ikut berperang dengan pamannya, ikut membalas panah yang diarahkan kepada pamannya. Beliau juga melemparkan panah kepada musuh-musuh pada saat itu.

Setelah beliau diangkat menjadi Nabi, Allah memberikan izin untuk beperang. Di medan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk sosok yang mengagumkan dalam keberanian dan keteguhan dengan memperlihatkan kondisi musuh yang berlarian saat berhadapan dengan beliau, tidak hanya sekali terjadi. Sementara beliau tetap teguh di tempatnya layaknya gunung yang menjulang tinggi, kokoh di tempatnya. Tidak bergeming, melangkah maju, tidak mundur, dan tidak goyah.

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya untuk mati syahid membuatnya tidak gentar dengan musuh di medan perang, dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa,

Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum muslimin, sungguh selamanya aku tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti setiap kavaleri di jalam Allah. Namun saya tidak mampu untuk menanggung biaya mereka, sedangkan mereka juga tidak memiliki kelapangan, padahal mereka merasa kecewa jika tidak ikut berperang bersamaku. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya ingin sekali berperang fi sabilillah, kemudian saya terbunuh, lalu saya berperang lagi lalu saya terbunuh, setelah itu saya berperang lagi dan terbunuh” (HR. Al-Bukhari no. 2797 dan Muslim no. 1876)

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ

“Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid)” (HR. Al-Bukhari no. 2817 dan Muslim no. 1877)

Dalam perang badar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin langsung pasukan, beliau mengarungi ombak kematian, wajah beliau terluka, gigi serinya patah, 70 orang sahabat terbunuh pada saat itu. Jika melihat perbandingan jumlah pasukan Rasulullah dengan pasukan musuh tidak berimbang akan tetapi nyali Rasulullah dan para sahabatnya tidak ciut sedikit pun berkat tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya.

Ketika Islam berperang, urusan kemenangan adalah soal kedua di mata kaum muslimin. Mereka tidak takut dengan ancaman dan intimidasi, tidak goyah dengan peristiwa-peristiwa besar. Semunya diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bertawakkal kepada-nya, merasa cukup dengan pertolongan-Nya dan yakin kepada-Nya.

Kekuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Bertarung

Kehebatan Ali tak terkalahkan, tidak ada pasukan Muslim yang mampu mengalahkannya dalam duel. Bahkan sampai 10 pasukan Muslim semuanya kalah saat menjalani latihan duel satu lawan satu dengan Ali.

Hal itu membuat Ali sedikit tinggi hati dan sampai berkata apakah ada yang lain yang bisa mengalahkanku?. Perkataanya tentu terdengar oleh Rasulullah. Kemudian Nabi Muhammad berkata: “Ali nanti sore pergilah ke belakang bukit itu, nanti di sana ada orang yang akan menantang kamu berduel.” Ali pun menjawab siap dengan perasaan percaya diri bisa mengalahkan orang tersebut. Ketika sore hari tiba, Ali langsung pergi ke belakang bukit itu. Di sana ia bertemu dengan seorang pria yang wajahnya ditutupi oleh sorban.

Dikisahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berduel dengan Ali bin Abi Thalib. Pria tersebut mengatakan kepada Ali apakah ia sudah siap berduel? Ali pun menjawab iya. Kemudian mereka pun berduel. Di putaran pertama, hebatnya pria misterius tersebut bisa menjatuhkan Ali dalam satu kali pukulan. Ali pun sampai terkejut dengan kemampuan pria tersebut. Kemudian ia menantang kembali pria itu untuk berduel. Hingga sampai 10 kali berduel, Ali bisa dikalahkan dengan mudah oleh pria itu tanpa diberi kesempatan menang sekalipun.

Ali pun menyerah dan mengaku kalah. Kemudian ia bertanya kepada pria itu, siapakah engkau sebenarnya? Lalu pria itu membuka sorban yang menutupi wajahnya. Alangkah terkejutnya Ali melihat wajah pria itu. Dia adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari kisah ini  kita bisa tahu seberapa hebat Nabi Muhammad saat bertarung. Ali yang tak terkalahkan, bisa dikalahkan dengan mudah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata, Nabi Muhammad tak hanya dikenal sebagai sosok yang mulia dalam akhlaknya, beliau adalah panglima perang terkuat, pandai dalam berdagang, cerdas dalam mengambil keputusan, dan bahkan terkenal dengan pola hidupnya yang sehat.

Ibnu Ishaq mengatakan, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku: Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthallib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling kuat. Suatu hari ia bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu kampung Mekah (sebelum hijrah).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Wahai Rukanah, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima dakwahku?. Rukanah menjawab: Seandainya aku mengetahui apa yang engkau serukan itu adalah kebenaran, pasti aku akan mengikutimu. Rasulullah menimpali: Bagaimana kiranya kukalahkan engkau dalam gulat. Apakah engkau akan meyakini kebenaran perkataanku?. Rukanah menjawab: Iya. Rasulullah berseru: Ayo berdiri. Akan kukalahkan engkau.”

Abu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Rukanah pun menyambut tantangan itu. Keduanya pun duel gulat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyergapnya dan berhasil menjatuhkannya. Rukanah pun tak berdaya. Penasaran dengan kekalahannya, Rukanah berkata: ‘Kita ulangi wahai Muhammad’. Keduanya pun kembali bergulat. Rukanah kembali berkata: ‘Wahai Muhammad, luar biasa, kau berhasil mengalahkanku!’

 

Mamuju, 16 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady