Categories
Artikel

ADAB  PENUNTUT  ILMU (bag 1)

Oleh. Amiruddin

Mengagumi prestasi seseorang, tidak akan pernah mengantarkan kita pada kesuksesan, kecuali dengan menginguti jejak mereka dalam mengupayakan keberhasilannya.

Siapa yang tidak mengenal kecerdasan Al imam Syaafi’i menghafalkan Al Quran diusia tujuh tahun ?, hafal kitab Al Muwattha karya Imam Malik dalam beberapa malam?. Tak terlupakan Al Imam Bukhari dari kalangan Muhaddizin, dan ulama terkemuka lainnya, yang keilmuannya telah tercatat dengan tinta emas.

Pernahkah kita bertanya, bagaimana upaya mereka bisa sampai pada derajat itu ?. Bagaimana ketekunan, adab mereka ? dan sederet pertanyaan dari hati yang kian merindu.

Torehan pena ulama menuturkan rahasia. Sungguh adab mereka menakjubkan, hingga  memantaskan hasil yang gemilang.

Siapa yang wajib beradab ?

Tersebut dalam kitab para ulama, adanya kewajiban berbekal adab dalam menuntut Ilmu syar’i. Pertama  orang yang akan menuntut Ilmu, kedua  orang yang sementara menuntut ilmu. Ketiga mereka yang telah menuntut ilmu. Hal ini membuktikan pentingnya adab bagi penuntut ilmu, demi tecapainya ilmu yang bermanfaat.

Cukuplah Abdullah bin Mubarak, sebagai teladan dalam berbekal adab sebelum menuntut ilmu :

كانوا يطلبون الأدب ثم العلم                                                                                                                  

“Adalah beliau (Abdullah bin Mubarak) terlebih dahulu mempelajari adab, lalu selanjutnya menuntut ilmu”. (Min hadyis salafi fii tholabil ilmi : 9).

Kepada siapa seharusnya beradab ?

Al Hafidz Badruddin bin Jama’ah (wafat tahun 337 H ) dalam kitabnya Tazkiratus sami’ wal mutakallim fii adaabil ilmi wal mutallim. Beliau telah meringkas adab seorang penuntu ilmu sebagai berikut: pertama, adab penuntut ilmu kepada diri sendiri. Kedua,  adab kepada guru. Ketiga,  adab kepada pelajaran. Berikut ini penulis akan sebutkan secara bertahap namun dengan ringkas.

Adab penuntut ilmu kepada diri sendiri :

a. Membersihkan hati dari segala bentuk kesibukan, hasad, kesalahan aqidah, akhlaq yang buruk, demi tercapainya ilmu.

b. Niat yang benar.

Yaitu dengan menjadikan tujuan utama dalam menuntut ilmu, dalam rangka mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala, mengamalkan ilmu, menghidupkan sunnah, serta menerangi hati dan menghiasi batin.

Sufyan At Saury dalam keluhannya bertutur :

ما علجت شيىىىأ أشد علي من نيتي                                                                                                           

Artinya :

 “Tidak ada perkara yang paling berat aku obati melainkan perkara niat”

Petuah berharga, menunjukkan ketawadhu’an sekaligus kekuatan sang Imam. Dibalik keluhannya ada kerja keras yang diupayakan. Bandingkan betapa lemahnya ummat hari ini, tak berdaya melawan godaan hati, meluruskan maksud menutut ilmu.

Dari segi amalan, sedikit namun dibanggakan tidak hanya ucapan, melainkan terpublish pada semua media sekalipun. Ini hanya akan menyisakan tangis di hari yang adil.

c. Menghindari hal-hal yang dapat memutuskan tercapainya ilmu, selagi masih muda, dan tidak terpengaruh dengan berbagai tawaran yang memalingkan sehingga waktu pun berlalu.

Itulah sebabnya, akan kita jumpai para ulama salaf begitu loba dalam memanfaatkan waktu mereka (Insya Allah akan lebih dalam pada tulisan selanjutnya).

Semoga dapat menambah spirit pembaca untuk mengupayakan, memelihara perhiasannya dalam menuntut ilmu…….Wallahu a’lam bissowab.

Insyallah bersambung……..

Sumber bacaan :  

Min Hadyis Salafi Fii Tholabil Ilmi. karya Dr. Muhammad bin Mathar Azzahranii.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *