Categories
Artikel

Hatiku Milikmu

Mengapa Aku Memilih Tarbiyah?

Hatiku Milikmu

Cuplikan naskah peserta lomba menulis DPD Wahdah Islamiyah Mamuju 2019

Oleh: A. Ely Herlinawati

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

Wajah mereka sederhana;

Penampilan mereka bersahaja;

Pun sikap mereka apa adanya;

Tapi ada yang bercahaya di sana;

Tapi ada yang memancar daripadanya;

Tapi ada yang melegakan di dalamnya;

Orang-orang yang berada di jalan Nya,

Pada mereka aku belajar mengeja hidup.

—————————————————————————————————————————————

Bila ditanya “Mengapa aku memilih tarbiyah?”, karena aku butuh tarbiyah dan aku butuh berjamaah dalam dakwah. Ya, tarbiyah adalah jalan yang begitu berarti bagiku, jalan dimana aku mengenal dien ini lebih jauh, jalan dimana aku menemukan arti sahabat (baca: ukhuwah) yang sesungguhnya. Tidak ada alasan aku tidak bersyukur atas hidayah dan nikmat islam yang Allah Ta’ala berikan, dimana aku bisa berada di garis dakwah, di tengah banyaknya orang-orang baik yang belum semua Allah Ta’ala panggil hatinya untuk ikut dalam jalan dakwah ini.

Melewati proses panjang pencarian jati diri, hingga aku memutuskan untuk berada dengan jama’ah dakwah dan tarbiyah. Di jalan tarbiyah ini, aku mendapatkan pemahaman Islam yang syamil, yang sesuai dengan syariat, Al Qur’an dan Sunnah. Jalan dimana aku belajar mengeja hidup. Ya, jalan itu adalah Tarbiyah.

Ta’aruf dengan dunia tarbiyah…

Sejak mengenal kajian di SMU, aku mulai sedikit demi sedikit mengenal Islam yang sesungguhnya. Tidak dapat dipungkiri, aku yang jebolan SMP di pesantren, tidak asing lagi dengan kajian-kajian berbagai kitab dari kitab Bulughul Maram, Riyadhusshalihiin, atau kitab yang paling “fenomenal” dan menjadi “momok” bagi kami para santriwati; Aljawaahirul Kalaamiyah kitab kuning karya Syeikh Thahir bin Muhammad Salih Al Jazairiy Rahimahullah, barisan tulisan arab tanpa tanda baca yang harus diterjemahkan dengan penjelasan sintaksis dan variasi ejaan atau yang lebih dikenal dengan Nahwu-Sharaf dalam bahasa arab; tapi entah mengapa, bagiku belum terlalu berbekas di hati, mungkin karena pesantren bukan pilihanku tetapi karena paksaan orang tua yang terlalu sibuk dengan dunia kerja dan memilih pesantren sebagai tempat “penitipan”ku; entahlah, yang jelas pada saat itu aku tidak peduli, kujalani segala rutinitas pesantren dengan apa adanya dan hanya untuk memenuhi harapan orang tua.

Hingga aku mengenal tarbiyah tahun 1995, tepatnya ketika aku memasuki SMU kelas 1. Saat itu saya bersekolah pada salah satu SMU yang rajin melaksanakan kajian islam buat siswa-siswinya. Awalnya aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau “islami”, sangat membosankan pikirku. Merasa aneh juga dengan penampilan mereka; janggut tipis dan celana cingkrang bagi kakak kelas laki-laki dan jilbab besar bagi kakak kelas wanita.

Tetapi ada yang menjadi daya magnet dari komunitas ini; karena mereka begitu bersahaja dengan senyum tulus serta sapaan salam mereka disertai jabatan tangan setiap bertemu sesama mahram; karena begitu menentramkan keyakinan pada Ilahi dalam sikap-sikap ketawadhuan mereka; karena begitu mengesankan ketangguhan mereka dalam menyebarkan dakwah dan amal shaleh. Lambat laun aku menikmati berada dikomunitas ini, komunitas yang mengenalkan nilai-nilai Islam lewat tarbiyah bil hikmah.

Merangkul dalam dekapan ukhuwah yang sarat dengan nilai-nilai Islami, jauh dari sikap kepalsuan dan ada apanya. Jujur akhirnya harus aku akui, aku jatuh cinta pada jalan dakwah komunitas ini; Wahdah Islamiyah, hingga tak terasa tarbiyah menjadi sebuah rutinitas yang selalu aku rindukan. Sekedar duduk bermajelis bertemu saudari seiman dan Murobbiyah yang senantiasa mengisi kekosongan hati dan kekeringan imanku, menjadikan tarbiyah mendarah daging dalam diriku. Dan ini berlangsung hingga aku akhirnya dinyatakan lulus dan melanjutkan kuliah di Kampus Merah, ya,,,kampus yang selalu kuidam-idamkan, karena disanalah, idelisme diriku dan kesibukan hari-hariku bersama dakwah dan saudari ku seiman lebih terasa.

Ujian itu datang

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya, muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

“Dasar ekstrimis, fanatik berlebihan, kampungan…!”, ini adalah bentakan bapak yang entah sudah keberapa kalinya beliau ucapkan ketika mendapatiku berpenampilan seperti ini; jilbab besar dan kaos kaki. Aku hanya bisa diam terpaku dan menangis sebagai simbol atas segala ekspresiku. Sejak bergelut dengan dakwah kampus, aku seperti terhipnotis dalam euphoria dakwah kampus. Hingga aku melupakan dakwah dengan keluarga.

Orang tua yang bertugas di kota yang berbeda provinsi, dan hanya datang beberapa hari dalam beberapa bulan; saudara yang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, membuatku tenggelam dalam dunia ku sendiri. Tanpa kusadari, aku dan keluarga ku berada pada simpang jalan yang berbeda. Jiwa dan darah muda yang menggelora dalam memperjuangkan dakwah ini, membuat seringnya aku dan orangtuaku, terutama bapak, berada sudut pandang yang berbeda dalam memaknai dakwah islam ini.

Pejuang sepanjang masa

Apa yang kuharap

Tak selalu berarti

Lalu apa yang terbaik

Nabi suci bilang

Perang Badar tak sebesar menaklukkan diri sendiri

Memang …                 

Hingga aku harus tersudut,

di pojok terdalam gelap matahari.

Dakwah yang kuusung, rasanya tak berarti tanpa dukungan orangtua. Aku seperti berada pada dimensi dunia lain. Pada hamparan sajadah malam aku mencari; apa yang salah pada jalan dakwah ini?;  pada siapakah cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud; apakah sudah pantas aku bersikap pada orang tuaku selama ini? Padahal mereka adalah perwakilan-Mu langsung ya Rabb. Astaghfirullah…

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orantuamu. Hanyalah kepada Aku kembalimu(Qs. Lukman : 14)

Rasulullah adalah manusia pilihan Allah Ta’ala, Beliau adalah contoh dan teladan seluruh umat manusia. Dalam mendakwahkan dien ini, keluarga adalah basis pertama yang beliau dakwahi hingga mendapat dukungan penuh dalam menyebarkan Islam ini.

Akhirnya aku temui jawabannya; bukan pada jalan dakwah yang salah, tapi lebih kepada ghiroh dan metode aku yang salah dalam berdakwah ke keluarga. Setelah aku menyadari kekeliruanku, aku mulai mengintenskan komunikasi dengan kedua orang tua dan keluarga, mengubah dakwah bukan hanya dengan retorika semata tetapi memperlihatkan kepada mereka dalam wujud aksi yang nyata. Sedikit demi sedikit aku mengajak mereka pada kegiatan-kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah; majelis taklim, tahsin Qira’ah Al Qur’an, dan tabligh akbar.

Mengenalkan kepada kedua orang tua apa itu Wahdah Islamiyah, memperlihatkan kepada mereka bahwa ormas ini bukanlah seperti ormas dengan citra negatif yang selama ini  mereka pahami; tetapi ormas yang keberadaannya sudah dikenal dan eksis diterima dakwahnya di masyarakat dengan berbagai program mereka, diantaranya Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (Lazis); berupa kegiatan-kegiatan membantu dan berbagi kepada sesama muslim, pembagian ifthar di bulan Ramadhan, Tim Penyelenggaraan Jenazah (TPJ), Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA), lembaga pendidikan Islami buat generasi masa depan dalam naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).

Walaupun di awal-awal mereka tidak berminat dan bergeming, tapi itu tidak menyurutkan langkahku; karena aku yakin cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud pada cinta dan ridha mereka. Karena sejatinya pejuang sepanjang masa adalah orang tua kita, mereka adalah perantara dari penciptaan dan kehadiran kita ke dunia ini, maka saat naiflah ketika para aktifis yang menyematkan dirinya sebagai pejuang dakwah tidak berusaha meraih cinta dan ridho dari kedua orangtuanya dalam mengarungi jalan dakwah ini. Bahkan pada keadaan paling berbeda sekalipun. Cari caranya, disitulah ridha Allah Ta’ala tiba pada kita, Insya Allah

۩۩۩۩۩

Hidup adalah proses maka ia hanya akan bermakna dalam arti yang sesungguhnya jika dijalankan tahap-tahapnya. Seperti nasehat Prawoto Mangkusasmito, tokoh politik Islam masa orde lama dalam suratnya kepada anaknya “Perjuangan adalah suatu garis, suatu proses, bukan suatu titik. Yang ada ialah garis mendaki, garis menurun, garis mendatar. Pencapaiannya ialah suatu titik, yang segera akan dilalui, akan lenyap atau tumbuh, tergantung amal pemeliharaannya. Perjuangan adalah usaha penyempurnaan dan pemeliharaan yang tak kunjung putus selama hayat dikandung badan”.

Maka, “jangan pernah lelah berjuang dijalan dakwah ini, karena sejatinya kitalah yang butuh Islam, bukan Islam yang butuh kita”.

۩۩۩۩۩

#Mamuju, 29 Mei 2019 – di Penghujung Ramadhan 1440 H

Untuk akhawatifillah, ummahatifillah, murobbiyah dan asaatidzah ku:

Kalian tak pernah tahu betapa istimewanya kalian bagiku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *