Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 15: Kedermawanan & Kemurahan Hati Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:
Irwanto AR, S.IP
Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah Mamuju

Berbicara tentang kedermawanan dan kemurahan hati, maka tidak ada contoh yang terbaik selain beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang paling dermawan, manusia yang paling suci, paling mulia pergaulannya, bahkan kedermawanan beliau digambarkan sebagai angin yang berhembus, bagaimana cepatnya angin berhembus maka secepat itu pula kedermawanan beliau.

Di Bulan Ramadhan, akhlak utama dan mulia yang beliau tampakkan khususnya tentang kedermawanan ini maka lebih besar lagi pelajaran yang bisa kita ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saksi kedermawan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kita bisa mendapatkan kabar dari sahabat-sahabat beliau bahkan dari musuh-musuh beliau sekalipun.

Ketika perang hunain, kemurahan hati Rasulullah digambarkan setelah terjadi peperangan dan beliau memegang ganimah, maka dikatakan beliau adalah orang yang paling agung, dicintai karena kebaikan yang melekat pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Salah seorang sahabat, Anas Bin Malik berkata Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik, orang yang paling dermawan, dan orang yang paling berani. Ibnu umar mengatakan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih teguh hatinya, lebih murah hatinya, lebih berani hatinya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dimintai sesuatu lalu kemudian beliau mengatakan tidak ada, selalu mengatakan iya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan sesuatu kemudian ada orang yang meminta kepadanya, Rasulullah spontan memberikannya.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata :

جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِبُرْدَةٍ… قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَسَجْتُ هَذِهِ بِيَدِي أَكْسُوكَهَا، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، فَخَرَجَ إِلَيْنَا وَإِنَّهَا إِزَارُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اكْسُنِيهَا. فَقَالَ: «نَعَمْ». فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المَجْلِسِ، ثُمَّ رَجَعَ، فَطَوَاهَا ثُمَّ أَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ القَوْمُ: مَا أَحْسَنْتَ، سَأَلْتَهَا إِيَّاهُ، لَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ سَائِلًا، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِتَكُونَ كَفَنِي يَوْمَ أَمُوتُ، قَالَ سَهْلٌ: فَكَانَتْ كَفَنَهُ

“Datang seorang wanita membawa sebuah burdah… lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menenun kain burdah ini dengan tanganku agar engkau memakainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengambil kain burdah tersebut dalam kondisi memang membutuhkannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan menggunakan kain burdah tersebut sebagai sarung beliau. Maka ada seorang lelaki –diantara kaum yang hadir- berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah sarung itu kepadaku untuk aku pakai !”. Nabi berkata, “Iya“. Maka Nabi pun duduk di suatu tempat lalu kembali, lalu melipat kain burdah tersebut lalu ia kirimkan kepada orang yang meminta tadi. Maka orang-orangpun berkata kepadanya, “Bagus sikapmu…, engkau meminta kain tersebut kepada Nabi, padahal kau sudah tahu bahwa Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya?”. Maka orang itu berkata, “Demi Allah, aku tidaklah meminta kain tersebut kecuali agar kain tersebut menjadi kain kafanku jika aku meninggal”. Sahl berkata, “Maka kain tersebut akhirnya menjadi kafan orang itu” (HR Al-Bukhari no 2093).

Hadits ini menunjukkan bahwa sikap Nabi yang tidak pernah menolak orang yang meminta darinya jika ia punya, merupakan perkara yang telah diketahui oleh para sahabat.

Kemudian kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat ketika ada seorang Arab Badui, pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan bersama sahabatnya, seseorang menarik selendang beliau dari belakang, digambarkan leher Rasulullah merah. Orang ini datang dengan akhlak yang buruk untuk meminta harta kepada Rasulullah tetapi Rasulullah tersenyum lalu memberikan apa yang diminta orang tersebut.

Jadi kisah ini menunjukkan bentuk keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana bentuk ketawadhuan beliau, bentuk kesabaran beliau sekaligus bentuk kedermawanan beliau.

Kisah yang lain adalah digambarkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, Rasulullah adalah orang yang dermawan, beliau lebih dermawan lagi ketika memasuki Bulan Ramadhan. Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

 كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أجْوَدَ النَّاسِ ،

وَكَانَ أجْوَدَ مَا يَكُونُ في رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْريلُ ، وَكَانَ جِبْريلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ، حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِن الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan sampai akhir bulan. Datanglah Jibril dan beliau membacakan kepadanya Al Qur’an dan ketika Jibril menjumpai beliau maka beliau bersikap lebih dermawan dengan kebaikan dibanding angin yang berhembus” (HR. Al Bukhari).

Maka dari itu, mari kita jadikan Bulan Ramadhan ini sebagai sarana untuk melatih diri kita dengan akhlak-akhlak mulia seperti ini yaitu menjadi pribadi yang dermawan dan tidak meletakkan dunia ini di dalam hati-hati kita.

Mamuju, 15 Ramadhan 1440 H
Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 14: Kesetiaan & Penjagaan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam terhadap Perjanjian

Oleh:

Kasman Gani

Ketua Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Mamuju

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang senantiasa memenuhi hak-hak dari istri-istri beliau. Penjagaan beliau terhadap cinta dan janjinya merupakan kisah kesetiaan suami kepada istri yang paling agung dan paling indah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling memenuhi janjinya, paling menjaga janjinya dan paling jujur di bidang ini. Bahkan musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dikisahkan bahwa suatu ketika tatkala Abu Sufyan belum masuk Islam beliau menghadap Raja Romawi yaitu Kaisar Heraclius. Heraclius ini mendapat surat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memeluk Agama Allah Subhanahu Wata’ala, untuk melaksanakan sholat, menunaikan zakat.

Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan, bagaimana pendapatmu tentang Nabi Muhammad, orang yang berani mengirimkan surat kepadaku dan mengajakku masuk Islam. Abu Sufyan mengatakan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang jujur, orang yang tidak pernah mengingkari janjinya, orang yang senantiasa melakukan ketaatan. Heraclius pun mengatakan, betul-betul beliau adalah nabi utusan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau adalah orang yang paling amanah, orang yang paling jujur tatkala beliau berjanji, Rasulullah selalu memenuhi janjinya. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, bagaimanakah pendapat kalian tentang aku diutus oleh Allah Subahanhu wata’ala, apakah aku telah menyampaikannya semua, maka para sahabat mengatakan iya, semua yang disampaikan oleh Rasulullah adalah apa yang diutus Allah Subhanahu Wata’ala.

Allah Subhanahu Wata’ala mempersaksikan dalam Al-qur’an, bagaimana Rasulullah diberikan amanah oleh Allah, beliau senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (Q.S Al-Maidah: 3).

Itu persaksian Allah Subhanahu Wata’ala atas amanah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, apakah aku sudah meyampaikan amanah yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala, maka para sahabat berkata, iya. Rasulullah memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai saksi, Ya Allah saksikanlah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang senantiasa memenuhi hak-hak dari istri-istri beliau. Penjagaan beliau terhadap cinta dan janjinya merupakan kisah kesetiaan suami kepada istri yang paling agung dan paling indah.

Dari Aisyah Radiallahu ‘anha beliu berkata, aku tidak pernah cemburu pada seorang istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti aku cemburu kepada Khadijah, aku tidak sempat melihat beliau akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sering menyebut namanya, terkadang beliau menyembelih domba kemudian beliau memotong-motongnya kemudian mengirimnya kepada kawan-kawan Khadijah. Aku pernah berkata kepadanya, “seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, dia adalah (seorang utama), dan dia adalah (seorang baik), dan aku mempunyai anak darinya.

Kisah kesetiaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memenuhi kerabat-kerabat beliau, keluarga-keluarga beliau, mencapai puncak kesempurnaan akhlak Rasulullah, orang-orang yang senantiasa selalu memusuhi beliau padahal keluarga Rasulullah sendiri, bagaimana bakti Rasulullah kepada mereka.

Kisah kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memenuhi hak-hak Pamannya, Abu Thalib yang telah mendidiknya sejak kecil sampai beliau dewasa setelah kakeknya, Abdul Muthalib wafat. Ketika Abu Thalib menghadapi kematian, tergeraklah persaan setia pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu orang-orang yang setia, maka beliau berusaha keras untuk memberinya manfaat dan menyelamatkannya dari api neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pamannya berkenan masuk Islam, beliau memohon kepadanya,

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

“Paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Sebuah kalimat yang nanti akan kubela engkau di hadapan Allah”.

Namun para pemuka kekufuran terus menghalang-halangi Abu Thalib sehingga akhirnya di wafat di atas Agama leluhurnya. Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci Agama Abdul Muththalib?” Keduanya terus merayu Abu Thalib sehingga kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abu Thalib adalah, “di atas Agama Abdul Muththalib”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih karena itu, kesetiaan beliau yang besar untuk memenuhi hak-haknya terus menguasai diri beliau, sehingga beliau pun berkata, “Aku akan memohon ampunkan untukmu selama aku tidak dilarang”.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam (QS. At-Taubah Ayat 113).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menorehkan banyak sikap kesetiaan dalam memenuhi perjanjian dengan orang-orang musyrikin dan orang-orang yahudi. Diantaranya adalah kesetiaan beliau terhadap syarat-syarat perjanjian damai Hudaibiyah, yaitu syarat-syarat yang membuat marah banyak orang dari sahabat beliau.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menenangkan hatinya, beliau membuka pintu harapan dan optimisme serta kepercayaan kepada Allah baginya, beliau menjelaskan bahwa diantara akhlak kenabian dan Islam adalah memenuhi perjanjian, tidak ada penghianatan.

 

Mamuju, 14 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

 

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 13: Keadilan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Muhammad Ali, SH

Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah Mamuju

Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Adil berasal dari bahas Arab yaitu Al-‘Adl, ada beberapa contoh tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana beliau berperilaku adil. Perilaku adil beliau luar biasa bukan hanya kepada kaum muslimin bahkan kepada orang-orang di luar Islam, hal ini sebagaimana perintah Agama kita,

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8).

Sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan wahyu, ketika orang-orang quraisy melakukan pembangunan/renovasi ka’bah, mereka berseteru siapa yang akan mengangkat hajar aswad ke tempatnya. Semua kabilah merasa terhormat jika mereka yang mengangkat sehingga tidak ada yang disepakati dan sampai kemudian sepakat bahwa siapa yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram maka dialah yang akan ditunjuk menjadi hakim.

Datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliaulah ditunjuk menjadi hakim. Saat beliau memutuskan perkara tersebut, tidak ada satupun diantara mereka yang tidak ridho dengan keputusan tersebut.

Diantara kisah keadilan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dalam hal menegakkan hukum. Ketika ada seorang wanita mencuri, dari bani Mahzum, suku terpandang dari Quraisy, kemudian informasi ini sampai pada Rasulullah dan beliau menetapkan untuk memotong tangannya.

Orang-orang Quraisy berusaha mencari orang yang bisa memberikan safaat karena ini kehinaan bagi mereka, seorang wanita terhormat di kalangan Quraisy yang akan dipotong tangannya. Maka mereka menemui Usamah bin Zaid, sahabat yang dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk melobi Rasulullah. Hal ini membuat Rasulullah menjadi marah, kemudian beliau mengatakan,

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ

Apakah engkau hendak memintakan syafaat (agar hukum had dibatalkan) dalam hal hukum had Allâh?

Lalu keesokan harinya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau memuji Allâh Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا، إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ؛ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Sungguh, yang membuat binasa orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena bila ada orang terpandang dari mereka yang mencuri,  mereka membiarkannya saja. Namun bila yang mencuri adalah orang yang lemah, maka mereka pun menegakkan had. Demi Allâh, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, tentulah aku akan memotong tangannya” (HR. Bukhari)

Pernah suatu ketika, beliau membagi harta yang datang dari Yaman kepada beberapa orang. Seorang Arab Badui melihat pembagian tersebut tidak adil, kemudian orang itu mengatakan kepada kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا مُحَمَّدُ، اعْدِلْ، فَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

“Wahai Muhammad! Bersikap adillah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka kamu! Siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?! Sungguh saya akan merugi jika saya tidak berbuat adil.

Kisah menarik yang lainnya ketika beliau menegur Usaid bin Hudhair seorang anshar suatu sedang bercakap-cakap dengan suatu kaum dan dalam percakapan itu terdapat senda gurau, tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menusuk pinggangnya dengan ranting. Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merapatkan shaf para sahabat di Perang Badar, secara tidak sengaja cambuk yang ada di tangan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai perut sahabat Sawad bin Ghoziyyah rodhiallahu ‘anhu, sebab waktu itu beliau sedikit lebih maju dari yang lain.

“Luruskan (shaf) wahai Sawad..!” demikian perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

“Engkau telah menyakitiku ya Rasulullah..” jawab Sawad. “Allah telah mengutus engkau dengan haq, maka perkenankanlah aku untuk meng-qishahmu..!” demikian pinta Sawad kepada Rasulullah untuk mencambuk tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa berfikir panjang, Rasulullah pun mempersilakan sahabatnya itu untuk membalas cambukan tersebut. “Tatkala cambukmu mengenai perutku, tak ada sehelai kainpun yang menghalanginya,” ujar Sawad kembali.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung menyingkap bagian perut beliau untuk dicambuk. Namun apa yang terjadi?. Ternyata Sawad bin Ghoziyyah melepaskan cambuk dari genggamannya dan memeluk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencium perut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar bisa berbuat adil dan tidak sedikit pun menganiaya orang lain. Mari kita mengikuti jejak beliau yang agung agar bisa berbuat adil.

Mamuju, 13 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 12: Amanah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Fajaruddin Djarir, SE

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Amanah itu bermakna pembenaran dan ketenangan hati, diantara nama-nama Allah Subahanahu Wata’ala yang mulia adalah Al-Mu’min yaitu memberikan rasa keamanan kepada hamba-hambaNya sebagaimana Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ﴿ ٣ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴿ ٤

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (Q.S Quraisy: 3-4).

Amanah ini adalah pada dasarnya akhlak yang mengumpulkan banyak kebaikan, orang bisa amanah karena ada kejujuran. Maka kejujuran adalah salah satu unsur yang membangun akhlak amanah. Begitu halnya dengan sifat adil, orang tidak bisa amanah kalau tidak adil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mendapatkan amanah menyampaikan risalah Agama ini, maka yang paling amanah dari seluruh manusia adalah Rasulullah karena Allah yang memilihnya. Kata Allah Subhanahu Wata’ala:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya…(Q.S Al-Qasas: 68)

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Suatu ketika Rasulullah diutus Khadijah untuk membawa barang dagangannya dari Syam dan pendamping Rasulullah yang membawa barang-barang dagangan tersebut, Maisaroh menceritakan bagaimana keterpercayaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau begitu terpercaya menjaga harta, menjaga barang-barang tersebut, inilah yang membuat Khadijah radhiyallahu ‘anha tertarik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang-orang Quraisy terdahulu bahkan sudah mempercayakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi rasul, bahkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin artinya yang terpercaya. Ketika kita sudah menyerahkan urusan kepadanya atau memberikan amanah kepadanya, kita sudah merasa tenang bahwa urusan itu pasti akan diselesaikan.

Sebenarnya kita manusia ini adalah orang-orang mengemban amanah dalam kehidupan kita, maka kita harus memiliki sifat amanah itu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S Al-Ahzab: 72)

Seluruh kehidupan kita adalah amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala maka dari itu kita harus menjaganya untuk kita berjalan di atas syariat Allah Subhanahu Wata’ala turunkan kepada kita.

Ketika ka’bah direnovasi oleh banyak kabilah-kabilah Arab pada waktu itu, mereka berdebat, bertengkar, sulit memutuskan kabilah mana yang berhak meletakkan kembali hajar aswad ke tempatnya. Karena tidak ada keputusan maka mereka sepakat memilih hakim untuk memutuskan hal tersebut. Hal ini terjadi sebelum kenabian, sebelum turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang pertama kali terlihat datang adalah Rasulullah, kemudian mereka sepakat menujuk Al-Amin yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu menunjukkah bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dipercaya. Bahkan saat Rasulullallah dibenci oleh mereka tetapi dalam menjaga barang-barang berharga mereka masih mempercayakan kepada nabi. Ketika beliau diintimidasi, diboikot bahkan diancam untuk dibunuh, Nabi masih berusaha menyelesaikan semua amanahnya, bahkan kepada orang yang mau membunuhnya atau orang yang memboikotnya.

Rasulullah mengajurkan kepada kita untuk selalu bersikap amanah, sebagaimana dalam sabda beliau,

لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ، وَلاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya” (HR. Ahmad).

Sebagaimna tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga yaitu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Al-Bukhari).

Ada beberapa ancaman kepada orang-orang yang tidak berlaku amanah, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk mempimpin lalu ia menyembunyikan satu jarum atau lebih, maka pada hari Kiamat nanti ia akan datang membawanya”(HR. Muslim).

Amanah ini adalah sifat yang sangat mulia, hal ini tergambar ketika Nabi Musa Alayhissalam, beliau membantu 2 orang wanita untuk memberi minum ternaknya,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. Al-Qasas: 26).

Perkara amanah itu adalah sebuah kehormatan sebenarnya, jadi orang yang tidak bisa menepati amanah walaupun perkara-perkara yang kecil maka sesungguhnya dia telah menghancurkan kehormatannya dihadapan orang yang memberikan amanah. Dan yang paling penting adalah amanah kita dihadapan Allah Subhanahu Wata’ala, atas nikmat yang Allah berikan, atas amanah pembebanan syariat Agama ini.

Mari kita ikuti penghulu kita Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam dalam urusan ini. Bagaimana menjalankan amanah dalam kehidupan kita, menegakkan Agama Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada masyarakat di sekeliling kita.

Mamuju, 12 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 11: Sikap Lemah Lembut Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Muhammad Yamin Saleh, SH., M.AP

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari dalam dakwah. Salah satu cara yang terbaik dalam berdakwah adalah dengan menyertakan sikap kelemahlembutan dalam berdakwah.

Salah satu yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam adalah mereka mencitrakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebarkan Islam dengan kekerasan, dengan peperangan, dengan pedang sehingga yang tercitra adalah islam ini sebagai Agama keras. Tuduhan-tuduhan tentang radikalisme itu bukanlah perkara baru tetapi dari dahulu, hanya warisan-warisan jahiliyah yang terus dikembangkan hingga sekarang.

Padahal Allah Subahanahu Wata’ala berfirman,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Konsep utama dakwah itu adalah menyebarkan rahmah, kasih sayang ke tengah-tengah manusia, diseluruh penjuru dunia. Maka tidak mungkin dakwah kasih sayang itu akan berhasil disebarkan dengan cara-cara kekerasan.

Bagaimana kelemahlembutan Rasulullah dalam berdakwah.

Dakwah ini adalah tugas utama kita di dalam kehidupan ini, dia adalah ciri yang dilekatkan Allah Subahanhu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada oranag-orang yang mengaku pengikut Rasulullah, sebagaimana Allah Subahanahu Wata’ala berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,”… (QS. Yusuf: 108)

Apa tujuan dakwah adalah bagaimana mengajak sebanyak-banyaknya orang kepada penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dakwah dihiasi oleh perkara-perkara yang disukai oleh manusia, salah satunya adalah kelembutan, hikmah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Kebaikan serta sikap kita terhadap dakwah dibaratkan permata emas dengan pembungkusnya, jika pembungkusnya menarik, baik, indah maka orang akan tertarik untuk membukanya. Jika pembungkusnya kurang menarik maka tentu akan membuat orang tertarik dengan yang bukan kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari dalam dakwah. Salah satu cara yang terbaik dalam berdakwah adalah dengan menyertakan sikap kelemahlembutan dalam berdakwah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan buat mereka lari.(Muttafaq ‘Alaih)

Salah satu cara yang terbaik dalam berdakwah adalah dengan menyertakan kelemahlembutan dalam berdakwah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek” (HR. Muslim no. 2594)

Kelemahlembutan kita dalam dakwah akan semakin memperindah tampilan dakwah itu, tetapi ketika mencabut kelemahlembutan dari dakwah maka dakwah itu akan menjadi sesuatu yang menakutkan, tidak lagi menjadi pemberi kabar gembira tetapi justru membuat orang lari dari dakwah.

Maka Allah Subhanahu Wata’ala di dalam memperlakukan kita juga dengan lemah lembut sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ

Wahai Aisya sesungguhnya Allah Subhanu Wata’ala itu adalah lemah lembut dan sangat menyukai kelembutan (HR. Muslim no. 2593)

Kelemahlembutan harus diberikan kepada orang-orang yang menerima dakwah itu karena tabiat manusia itu lebih suka menyelisihi orang yang musuhi. Jika kita datang dengan cara yang tidak baik maka orang tidak akan menyukai kita, ketika kita tidak disukai oleh orang maka tabiat manusia itu adalah menyelisihi apa yang dia tidak sukai.

Kalau orang mengidolakan seseorang secara berlebihan, maka hilang akalnya. Makanya pelaku-pelaku dakwah itu sebelum dikenal dakwahnya, dia harus dicintai oleh orang dengan dakwahnya.

Kedua, secara asal tidak ada orang yang ingin diperlakukan secara kasar, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah kepada orang sebagaimana kita didatangi dengan cara yang kita sukai. Kelemahlembutan adalah sikap yang tidak bisa dipisahkan dari dakwah begitu juga dengan Rasullullah, banyak kisa yang ditunjukkan Rasulullah dalam berdakwah.

Anas bin Malik mengatakan bahwa saya menemani Rasulullah sejak usia 10 tahun, saya tidak pernah mendapatkan Rasulullah marah ketika mendapatkan saya melakukan perbuatan yang beliau tidak sukai.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlemahlembut kepada seorang Arab Badui yang datang kencing ke Masjid. Setelah selesai kencing, Rasullullah menyuruh para sahabat untuk menyiram kencing tersebut dengan air kemudian orang tersebut dinasehati.

 

Mamuju, 11 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 10: Kesabaran Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Ashriady, SKM., M.Kes

Ketua Departemen Humas dan Soskes Wahdah Islamiyah Mamuju

Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam mengeluh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Ya Allah kemanakah engkau akan arahkan tubuhku dan diriku ini?, apakah kepada masa depan yang tidak jelas?, ataukah kepada masyarakat Makkah yang sudah menolak dakwah ini?. Tetapi ya Allah, jika engkau tidak murka kepadaku atau perbuatanku ini tetap engkau ridhoi sebagai pencipta maka aku tidak peduli walaupun semua darahku harus mengucur habis.

Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri, secara istilah berarti menahan diri dari melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Secara istilah syar’i, sabar dapat dikategorikan menjadi 3 jenis: sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sabar dalam menghindarkan diri dari kemaksiatan, sabar dalam menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Sabar dalam Melaksanakan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Kehadiran kita melaksanakan shalat tarawih 1 juz 1 malam secara berjamaah di tempat ini adalah salah bentuk kesabaran kita melakukan ketaatan kepada Allah Subahanahu Wata’ala. Hal ini bukanlah perkara yang mudah bagi sebagian orang akan tetapi kita harus tetap bersabar di atasnya, berupaya menahan diri walaupun mungkin sebagian kita masih merasakan berat untuk berdiri lama bersama imam dengan tarawih 1 juz 1 malam ini.

Adapun kita yang diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk berdiri lama, maka bersyukurlah. Semoga ini menjadi tanda-tanda bahwa kita merasakan kebahagiaan, sebagaimana perkataan seorang ulama yang lahir di abad ke 6 Hijriyah, Al Imam Abu Ali Al Hasan bin Ali Al-Jauzajani bahwa salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang mukmin adalah ketika diberikan kemudahan dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sabar dalam Menjauhi Kemaksiaatan

Melakukan kemaksiatan itu tidak sesulit melakukan ketaatan bahkan kemaksiatan itu terkadang diselimuti dengan keindahan yang menggiurkan, maka dari itu kita harus berusaha menahan diri dari melakukan kemaksiatan tersebut. Lihatlah apa yang telah menimpa Nabi Yusuf Alayhissalam saat beliau diajak berzina oleh seorang wanita cantik dan istri Raja Al-Aziz, tetapi beliau menolak dan mengatakan saya takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sabar dalam Menerima Takdir Allah Subhanahu Wata’ala

Sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setelah kita berusaha melakukan berbagai upaya maka selanjutnya kita serahkan urusan kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai sang pengatur kehidupan ini. Sebagaimana perkataan Ubadah Ibnu Shamit: ”Engkau tidak akan pernah merasakan lezatnya dan indahnya kehidupan sampai engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan untukmu tidak ada yang mampu untuk menghalanginya, dan apa yang tidak ditetapkan untukmu tidak ada yang mampu memberikannya”. Inilah adalah perkara aqidah, dimana kita harus senantiasa bersabar menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Tidak ada orang yang diterpa berbagai bentuk musibah, kesulitan, kesengsaraan dan problem yang berata sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau tetap dalam keadaan sabar dan berharap pahala kepala Allah Subhanu Wata’ala. Sifat sabar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dapat dilihat dalam seluruh aktifitas beliau baik ketika berinteraksi dengan keluarga, ketika berdakwah maupun ketika beliau berada di medan perang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabar di atas keyatiman, kemiskinan, kelaparan dan kesulitan hidup. Rasulullah dilahirkan setelah Ayahnya meninggal, Abdullah bin Muththalib meninggal di usia 25 tahun yang pada waktu itu Rasulullah masih dalam kandungan. Tentu ini cobaan terberat bagi seorang anak.

Paman beliau, Abu Thalib wafat beliau bersabar, saat istri beliau wafat, beliau tetap sabar. Mereka mengusir dan memerangi beliau dan beliau tetap sabar. Paman beliau Hamzah bin Abdul Muththalib terbunuh, putra beliau wafat, beliau tetap sabar. Istri beliau yang suci dituduh melakukan perbuatan keji secara dusta dan palsu, beliau tetap sabar.

Beliau bersabar sekalipun kerabatnya dibunuh, para sahabatnya dibantai, para pengikutnya diusir, para musuh bersatu padu memusuhinya, para seterunya berkonspirasi terhadapnya, orang-orang yang berkumpul satu kata memeranginya.

Beliau bersabar terhadap dunia dan segala kenikmatan dan keindahannya, hati beliau tidak sedikitpun tergoda olehnya. Suatu ketika Rasulullah mengunjungi rumah istrinya dan kemudian beliau bertanya “adakah sesuatu yang bisa dimakan?”. Istri beliau menjawab “yang kita punya cuman air”.

Kita bisa membayangkan bagaimana kondisi rumah Rasulullah, orang termulia dan teragung akan tetapi di rumah beliau hanya tersedia air putih bahkan dalam sebuah riwayat dijelaskan terkadang beliau selama 2 hari tidak pernah merasakan kenyang. Suatu kondisi yang sangat berbeda dengan yang kita rasakan saat ini, di rumah kita berlimpah makanan dengan berbagai variasinya.

Kesabaran Rasulullah dalam urusan dakwah merupakan teladan dan contoh terbaik sehingga Allah Subhanahu Wata’ala menegakkan bangunan Agama ini. Beliau adalah orang yang sabar dan berharap pahala kepada Allah dalam segala urusan hidupnya, sabar adalah baju besi beliau, perisai, rekan dan sekutunya.

Setip kali ucapan musuh-musuh mengganggunya, beliau teringat Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan,…(Q.S Thaha ayat 130)

Setiap kali kekuatan musuh membuatnya khawatir dan rencana makar orang-orang kafir mengguncang tempat tidur Rasulullah, beliau teringat Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar… (Q.S Al-Ahqaf ayat 35).

Dari Urwah bin Az-Zubair beliau berkata, Aku bertanya kepada Abdullah bin Amr tentang perbuatan paling berat yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin terhadap Rasulullah, dia berkata, “Aku melihat Uqbah bin Abu Mu’aith mendatangi Nabi yang sedang shalat, dia membelitkan kainnya ke leher Nabi lalu mencekik beliau dengan sangat kuatnya. Lalu Abu Bakar datang dan menyingkirkannya dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata:

أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّىَ ٱللَّهُ

Apakah kalian hendak membunuh seorang laki-laki yang berkata, “Tuhanku adalah Allah?….” (Q.S Ghafir ayat 28)

Suatu hari Nabi Shallallahi ‘alaihi wasallam sedang shalat di dekat Ka’bah, saat itu Abu Jahal dan rekan-rekannya sedang duduk, sebagian berkata kepada sebagian yang lain, “Siapa diantara kalian yang mau menghadirkan jeroan unta Bani Fulan lalu meletakkannya di punggung Muhammad manakala dia sujud”?. Maka orang paling celaka bangkit dan datang membawanya, dia menunggu sesaat sampai Rasulullah sujud dan dia meletakkannya di atas punggung Rasulullah, diantara kedua pundaknya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Saat itu aku melihat, namun aku tidak bisa berbuat apa pun, seandainya aku mempunyai kekuatan saat itu”.

Lalu mereka tertawa dan saling melempar perbuatan, sementara Rasulullah sendiri tetap sujud tidak bangkit, sampai Fathimah datang dna membuangnya dari punggung beliau, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dan mengucapkan “Ya Allah, adzablah Quraisy”. Beliau mengucapkannya tiga kali.

Waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah di Kota Makkah, beliau belum mendapatkan keberhasilan yang begitu gemilang. Sekitar 13 Tahun Rasulullah berdakwah hanya sekitar 70 orang yang menjadi pengikut beliau dari ribuan penduduk Kota Makkah. Maka dari hal tersebut, saat dakwah Rasulullah berjalan kurang lebih 8 – 9 tahun di Kota Makkah, beliau berinisiatif untuk mencari lokasi dakwah yang lain apalagi pada saat itu pamannya Abu Thalib dan istri beliau Khadijah telah meninggal dunia.

Pilihan lokasi dakwah Rasulullah tertuju pada sebuah kota yang jaraknya sekitar 60 km dari Kota Makkah. Kota ini bernama Thaif, sebuah kota yang terdiri dari pegunungan dengan kondisi cuaca yang sejuk bahkan digambarkan bahwa di kota ini pada siang hari pun, orang masih menggunakan selimut.

Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam berangkat menuju ke Kota Thaif dengan berjalan kaki sejauh 60 km ini. Setelah sampai disana, bertemu dengan pemimpin suku yang mendiami kota itu, suku tersebut bernama Bani Tsaqif, akan tetapi dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditolak oleh mereka. Ternyata Abu Lahab, Paman Rasulullah sendiri yang membuntuti dari belakang telah menyebar kebohongan kepada masyarakat Kota Thaif ini dan mengatakan “Jangan engkau mengikuti ajaran Muhammad, sesunguhnya dia itu penipu, pembohong, penyihir sehingga akhirnya Rasulullah pun diusir dari kota tersebut.

Bahkan pada waktu itu, Rasulullah tidak hanya sekedar diusir tapi para penduduk kota ini berkumpul dan ingin merajam Rasulullah. Seluruh penduduk Kota Thaif berkumpul melempari Rasulullah dengan batu, yang dilempari bukan tubuh Rasulullah tetapi kaki beliau. Suatu bentuk penyiksaan yang menyesakkan dada, saat Rasulullah melangkahkan kakinya maka mereka pun berlomba-lomba melempari kaki Rasulullah. Pada saat Rasulullah mengangkat kaki kirinya maka kaki kirinya yang dilempar, pada saat Rasulullah mengangkat kaki kanan maka kaki kanan pun yang dilempari masyarakat Kota Thaif tersebut. Kedua kaki Rasulullah berlumuran darah, suatu bentuk penyiksaan kepada orang yang mulia namun Rasulullah  Shallallahi ‘alaihi wasallam tetap bersabar, beliau sedikit demi sedikit melangkahkan kakinya sambil menahan rasa sakit kemudian akhirnya singgah istirahat di bawah sebuah pohon dengan kondisi bercucuran keringat dan kakinya berlumuran darah.

Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam mengeluh kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Ya Allah kemanakah engkau akan arahkan tubuhku dan diriku ini?, apakah kepada masa depan yang tidak jelas?, ataukah kepada masyarakat Makkah yang sudah menolak dakwah ini?. Tetapi ya Allah, jika engkau tidak murka kepadaku atau perbuatanku ini tetap engkau ridhoi sebagai pencipta maka aku tidak peduli walaupun semua darahku harus mengucur habis.

Permintaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun diijabah oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Datang Malaikat Jibril menemui Rasulullah bersama Malaikat Gunung, kemudian Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah, wahai Muhammad sesunguhnya apa yang engkau minta, jika engkau menginginkan maka tinggal engkau perintahkan kepada Malaikat Gunung ini untuk menyatukan gunung-gunung yang ada di Kota Thaif ini dengan gunung yag ada di Kota Makkah sehingga dua Kota ini hancur lebur, Allah binasakan dengan segala isinya dan kamu bisa bebas berdakwah di dalamnya atau engkau bersabar mendakwahi mereka, keluhanmu ya Muhammad…, Allah telah mendengarnya.

Kata Rasulullah, saya akan bersabar. Semoga saja dari kota ini akan lahir orang-orang yang akan beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Akhirnya setelah pembebasan Kota Mekkah, banyak penduduk Kota Thaif yang masuk Islam, salah satunya adalah Abu Huraerah, salah seorang sahabat Nabi yang merupakan perawi hadist yang paling banyak. Inilah salah satu hikmah besar dibalik kesabaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesabaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpindah kepada bentuk lain dari kesabaran dalam menghadapi orang-orang musyrikin, sabar menghadapi mereka di medan perang dan jihad, sabar di atas tusukan tombak tajam, ujung anak panah dan kilatan pedang, kesabaran seperti yang diperlihatkan oleh para Rasul Ulul Azmi.

Dalam perang Uhud, gigi seri beliau patah, wajah beliau yang mulia terluka, luka-luka mendera beliau. Beliau tetap sabar dan mengharap pahala dari Allah. Ibnu Mas’ud menceritakan hal ini, di berkata, “seolah-olah aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan seorang Nabi dari para Nabi, yang kaumnya memukulnya sampai berdarah sementara dia mengusap darah dari wajahnya sambil berucap,

 اللهم اغفر لقومي فانهم لا يعملون

‘Ya Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui”

Maha benar Allah yang berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar di atas akhlak yang agung” (Q.S Al-Qalam ayat 4)

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 9: Kasih Sayang Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Ziljian Adet Jibrann

Mahasiswa STIBA Makassar

Ketika Aisyah Radhiallahu’anha ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah. Maka Aisyah menjawab, “Rasulullah menjahit bajunya sendiri, memperbaiki sandalnya sendiri, membantu pekerjaan istri-istrinya dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para suami-suami yang lain”

Salah satu firman Allah Subhanahu Wata’ala yang masyhur di tengah kita semua:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (Q.S Al-Anbiyâ’ :107)

Apabila Allah Subhanahu Wata’ala mengatakn demikian, bagaimana mungkin Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang diutus di tengah-tengah ummat tidak memiliki rasa rahmat. Tentulah sifat rahmat itu melekat pada nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam.

Sikap rahmat, sikap kasih sayang ini menyangkut persoalan yang luas. Sikap kasih sayang Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam kepada seluruh ummatnya, kepada seluruh keluarganya bahkan bukan hanya di dunia ini tetapi juga di akherat kelak. Bahkan tidak hanya untuk ummatnya tetapi juga kepada orang-orang kafir yang jelas menolak risalah Allah Subhanahu Wata’ala, Rasulullah juga menunjukkan sikat kasih sayang tersebut kepada mereka.

Wujud kasih sayang Rasulullah kepada ummatnya

Salah satu contoh kasih sayang Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam kepada ummatnya adalah Nabi tidak memberatkan kepada ummatnya dalam melakukan amalan-amalan. Bahkan beliau pernah mengatakan:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap hendak menunaikan shalat” (HR. Bukhari).

Masih banyak hal lain yang serupa dengan hadist ini.

Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam mendatangi Masjid dan kemudian melakukan sholat tarwih, kemudian kaum muslimin sholat di belakang, menjadi makmum di belakang beliau. Pada hari kedua jamaah bertambah banyak, pada hari ketiga atau keempat maka kaum muslimin sudah berkumpul di Masjid menunggu kedatangan Rasulullah tapi beliau tidak muncul pada malam itu. Pada pagi harinya Rasulullah baru menjelaskan maksud perbuatan beliau tersebut, Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda:

 قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم

“Sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan (yaitu berkumpul menanti shalat berjamaah) dan tidaklah ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, melainkan karena aku khawatir bila (shalat tarawih) diwajibkan atas kalian”… (HR. Bukhari & Muslim).

Wujud kasih sayang Rasulullah di akherat kelak

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menunjukkan rasa kasih sayangnya di akherat kelak sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda: ”Setiap nabi ada doa yang dikabulkan, dan setiap nabi bersegera berdoa agar dikabulkan. Akan tetapi aku simpan doaku untuk dapat memberikan syafa’at kepada umatku pada hari Kiamat. Dan sesungguhnya, syafa’atku ini akan diperoleh, insya Allah, bagi orang yang mati dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun” (HR. Muslim, no.199).

Inilah potret seorang Nabi yang selalu memikirkan ummatnya, bahkan sampai di akherat kelak.

Wujud kasih sayang Rasulullah terhadap Keluarganya

Kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bukan dilihat dari banyaknya istri beliau tetapi ditunjukkan bagaimana beliau bersikap terhadap istri-istri beliau.

Ketika Aisyah Radhiallâhu’anha ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah. Maka Aisyah menjawab, “Rasulullah menjahit bajunya sendiri, memperbaiki sandalnya sendiri, membantu pekerjaan istri-istrinya dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para suami-suami yang lain”.

Kasih sayang Rasulullah terhadap keluarga dan anak-anak mengundang decak kagum di masyarakat, kasih sayang yang belum pernah ada tandingannya.

Dari Aisyah Radhiallâhu’anha beliau berkata, beberapa orang dari Arab pedalaman datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya”. Orang-orang pedalaman berkata, “Demi Allah, kami tidak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أو أملك لك أن نزع الله من قلبك الرحمة؟!”

“Aku tetap memiliki (kasih sayang) sekalipun jika Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian”.

Kasih sayang Nabi tidak terbatas pada anak-anak dan cucu-cucunya semata, lebih dari itu juga untuk anak-anak kaum muslimin secara umum. Asma’ binti Umais istri Ja’far bin Abu Thalib, berkata, Rasulullah datang kepada kami, beliau memanggil putra-putra Ja’far, aku melihat beliau mencium mereka dengan kedua matanya meneteskan air mata, aku berkata kepada beliau, wahai Rasulullah, adakah berita tentang Ja’far telah sampai kepadamu?. Maka beliau menjawab, Ya dia terbunuh hari ini. Asma’ berkata, maka kami berdiri sambil menangis dan beliau sendiri pulang, beliau besabda:

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Masakkan makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya” (HR. Tirmizi, no. 998, dinyatakan hasan oleh Abu Dawud, no.  3132, ibnu Majah, no.  1610 dan dinyatakan hasan juga oleh Ibnu Katsir dan Syekh Albani).

 

Mamuju, 9 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 8: Sifat Zuhud Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Drs. Ahmad Yunus

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

Rasulullah Shallallah alaihi wasallam mengatakan: yang menjadikan umat terdahulu umat yang terbaik, terdepan dan berada pada kondisi yang luar biasa karena mereka memiliki sifat zuhud dan yakin. Adapun umat di akhir zaman ini, mereka mengalami kemunduran, kerusakan, kondisi yang kurang baik karena pada diri mereka terdapat penyakit yang disebut dengan sifat kikir dan suka berangan-angan.

Sifat zuhud adalah sifat terpuji yang disukai oleh Allah Subhanahu wata’ala, dimana seseorang yang memiliki sifat ini di dalam kehidupannya lebih mengutamakan kecintaannya kepada Allah, kepada akherat daripada mendahulukan kepentingannya terhadap dunia dan segala isinya.  Orang yang memiliki sifat memiliki keyakinan yang lebih tinggi dengan apa yang ada di tangan Allah daripada keyakinanannya apa yang ada di tangan manusia.

Ibnu Taimiyah mengatakan sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Sifat zuhud ini memiliki tingkatan, ada tiga tingkatan yaitu:

Pertama: Zuhud orang awam. Yaitu zuhud terhadap perkara haram, yakni dengan cara meninggalkannya.

Kedua: Zuhud yang bersifat Sunnah (Mustahabbah). Yaitu zuhud terhadap perkara-perkara makruh dan perkara-perkara mubah yang berlebihan. Maksudnya, perkara mubah yang melebihi kebutuhan, baik makan, minum, pakaian dan semisalnya.

Ketiga: Zuhud terhadap dunia secara umum. Maksudnya bukan mengosongkan tangan menjadi hampa dari dunia, dan bukan pula membuang dunia. Tetapi maksudnya, menjadikan hati kosong secara total dari hal-hal yang serba bersifat duniawi, sehingga hati tidak tergoda oleh dunia. Dunia tidak dibiarkan menempati hatinya, meskipun kekayaan dunia berada di tangannya. Hal ini seperti keadaan para Khulafa’ur Rasyidun dan Umar bin Abdul Aziz. Orang-orang yang zuhudnya menjadi panutan, meskipun kekayaan harta benda ada di tangannya. Begitu pula keadaan manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Ketika dunia ditaklukkan oleh Allah untuk beliau ﷺ, malah menjadikan beliau ﷺ semakin zuhud terhadap dunia.

Pernah suatu malam Rasulullah keluar malam kemudian mendapati sahabatnya, Abu Bakar  dan Umar. Kemudian Rasulullah bertanya kepada kedua sahabatnya, kenapa engkau keluar pada waktu malam seperti ini?. Abu Bakar mengatakan kami keluar ya Rasulullah karena kami lapar, kemudian Rasullullah mengatakan kalau begitu kondisi kita sama.

Mereka merasakan kondisi yang sama yaitu merasakan lapar, sifat zuhud yang dimiliki Rasullullah tidak berbeda dengan yang dimiliki kedua sahabat Rasulullah Shallallah alaihi wasallam tersebut.

Sebuah hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan:

عَنْ أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ

Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan)

Kalau kita membaca Al-qur’an atau hadist-hadist Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hampir tdak ada penjelasan yang kita dapatkan bagaimana Allah menilai dunia ini dengan penilaian yang besar seperti yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

….Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (Q.S An-Nisa Ayat 77)

Dalam ayat yang lain juga dijelaskan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S. Al-Hadid Ayat 20).

Jika orang tidak memiliki sifat zuhud maka dia akan tenggelam dengan dunianya, dan pada akhirnya dia akan menjadi orang yang dihinakan dengan dunianya. Sementara dia tidak punya waktu untuk berbenah diri dan memperbanyak amalan-amalan kebaikan karena terlalu banyak memikirkan persoalan dunia.

Mamuju, 8 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 7: Sifat Malu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Oleh:

Habil

Alumni Tadribud Du’at Wahdah Islamiyah

Sifat Malu Rasulullah mencapai puncak yang paling tinggi, siapa pun bisa mengenal sifat beliau. Bahkan orang pertama yang melihat Rasulullah, orang sudah tahu sifat malu Rasulullah karena sifat malu tersebut terbaca di wajah beliau.

Mari kita senantiasa muhasabah, mengintropeksi, mengevaluasi perkembangan amal ibadah kita. Kata ulama kita sikap bijak orang-orang beriman senantiasa melihat perkembangan ibadahnya termasuk perkembangan amal ibadah kita di Bulan Ramadhan.

Di Bulan Ramadhan peluang menjadi kita menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain, memberi buka atau melayani orang berbuka akan memberikan pahala di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Mari jadikan Ramadhan ini menjadi Ramdhan terbaik kita.

Nasehat Ulama kita, bahwa sekiranya ini adalah ramadhan terakhir bagi kita, maka tentu kita akan berusaha selalu memaksimalkan diri dalam beribadah kepada Allah.

Akhlak Rasulullah yang dibahas pada malam hari ini adalah tentang sifat Malu Rasulullah. Bagaimana pemilik akhlak yang agung tidak memiliki sifat malu, sementara sifat ini termasuk keluhuran akhlak yang paling mulia. Bagaimana beliau tidak bersifat demikian sementara malu adalah salah satu cabang keimanan.

Rasa malu adalah akhlak Agama beliau yang paling menonjol, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sifat Malu Rasulullah mencapai puncak yang paling tinggi, siapa pun bisa mengenal sifat beliau. Bahkan orang yang pertama yang melihat Rasulullah, orang sudah tahu sifat malu Rasulullah karena sifat malu tersebut terbaca di wajah beliau.

Disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan yang dipingit di kamarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sifat malu Rasulullah bukanlah sesuatu yang sifatnya insidentil, sifat malu Rasulullah selalu melekat pada diri beliau. Setiap saat, setiap keadaan, setiap tempat dan kepada siapapun ia berinteraksi, semua orang bisa melihat sifat malu tersebut.

Beliau meraih akhlak malu ini dalam potretnya yang paling tinggi dan paling luas, beliau malu kepada Rabbnya, malu kepada umatnya dan malu kepada dirinya sendiri.

  1. Malu kepada RabbNya

Adalah malu yang paling agung dan paling sempurna sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia “(HR. Abu Dawud)“.

Ketika manusia tidak punya rasa malu pada RabbNya, maka ia tidak akan segan melakukan kemaksiatan. Diantara bukti malu beliau, ketika beliau ingin buang hajat, ia baru membuka kainnya jika saat sudah sampai ditempat.

Adapun hakikat malu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagamana beliau menunjukkan bagaimana gambaran malunya seorang hamba kepada RabbNya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malulah kamu kepada Allah.” Mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, kami malu kepada Allah, alhamdulillah.” Beliau bersabda, “Bukan begitu, akan tetapi hakikat malu kepada Allah adalah menjaga kepalamu dan apa yang ada padanya, menjaga perutmu dan apa yang ada padanya, dan mengingat kematian. Barang siapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan ini, ia telah malu kepada Allah secara hakiki (HR At Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib no 1724)”.

Rasa malu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah yang membuat kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri dalam sholat.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu ‘Aisyah bertanya, ‘Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Lalu beliau menjawab,

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”

Rasa malu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga sesuatu yang selama ini banyak kita sia-siakan, beliau betul-betul tidak menyiakan waktunya sedikit pun.

  1. Malu kepada ummatnya

Setelah selesai melakukan pernikahan dengan Zaenab binti Jazhi, saat malam tiba, ia mempunyai hak pada istrinya. Namun disaat yang bersamaan masih ada sahabat yang berkunjung di rumah Rasulullah sehingga beliau lebih mementingkan sahabatnya. Karena rasa malu Rasulullah, beliau tdk menegur sahabatnya tersebut. Akhirnya turun ayat tentang adab bertamu, Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar (Q.S Al-Ahzab: 53).

Kisah yang lain, sebuah hadis dari Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ مُضْطَجِعًا فِي بَيتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهَ فَاسْتَأْذَنَ أبَوُ بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ وَسَوَى ثِيَابَهَ – قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ – فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَيْتَ ثِيَابَكَ. فَقَالَ: أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ؟

Sesungguhnya ‘Aisyah berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaring miring di rumahku dalam keadaan tersingkap paha atau betisnya. Tiba-tiba Abu Bakr meminta izin (untuk sebuah keperluan) kepada beliau, Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. Abu Bakr lantas menceritakan (keperluannya).

Lantas ‘Umar meminta izin kepada beliau. Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. ‘Umar pun menceritakan(keperluannya).

Kemudian ‘Utsman meminta izin kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk lantas merapikan pakaiannya.

Muhammad (bin Abi Harmalah—perawi) berkata, “Aku tidak mengatakan bahwa ini terjadi pada satu hari.”

Kemudian ‘Utsman pun masuk dan menceritakan (keperluannya). Setelah ‘Utsman keluar, ‘Aisyah berkata, “Abu Bakr masuk dan engkau tidak bergerak, tidak peduli dengan keadaanmu. Kemudian ‘Umar datang, engkau juga tidak bergerak dan tidak peduli dengan keadaanmu. Namun, ketika ‘Utsman masuk, engkau segera duduk dan merapikan pakaianmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat pun malu kepadanya? “(HR. Muslim No. 2401)”.

Pada riwayat lain Rasulullah mengatakan, betul karena diantara umatku beliaulah yang paling tinggi rasa malunya, dan saya khwatir karena kondisi saya seperti ini maka ia tidak jadi menyampaikan keinginannya.

  1. Malu kepada dirinya sendiri

Dikisahkan dari salah seorang sahabat ketika mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tenyata beliau mendapati Rasulullah dalam kondisi sujud. Pada saat itu sahabat ini mengatakan, ketika saya mendekat seakan-akan saya mendengar suara gemuruh, ternyata beliau sedang menangis. Seperti inilah gambaran malunya Rasulullah kepada dirinya sendiri.

Mamuju, 7 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh   : Agus Sapto Widodo

Diedit oleh    : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 6: Tawadhu’ (Rendah Hati) Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Oleh:

Irwanto Ar, S.IP

Digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tunduk, ketika ingin naik di kendaraanNya, dagunya hampir menyentuh pelana untanya. Menunduk bentuk ketawadhuan, tidak ada kesombongan, tidak ada sikap jumawa, merasa hebat, merasa menang, merasa kuat, setelah kemudian dikatakan sebagai seorang pemenang.

Malam ini kita sudah memasuki malam ke 6 di Bulan Ramadhan dan kita mulai menghitung hari, ada kekhawatiran jangan sampai Ramadhan ini berlalu tanpa mendapatkan hikmah darinya. Kita khawatir jika tdk mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Jibril alaihi wasalam pernah berdoa dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Rasulullah naik ke atas mimbar dan mengatakan amin, saat itu malaikat Jibril berdoa dan Rasulullah mengaminkan, salah satu diantara 3 doa Jibril adalah kecelakaan bagi mereka menjumpai Bulan Ramadhan dan keluar darinya namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengaminkan, oleh karena itu mari kita khawatir dan takut serta berharap agar ibadah yang kita lakukan mendapatkan pahala disisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Kita akan membicarakan tentang sebuah akhlak yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kemuliaan. Orang-orang yang kata imam syafii: tawadhu adalah akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang mulia.

Dalam bahasa keseharian kita, tawadhu artinya rendah hati dan lawan tawadhu adalah sombong. Jika ada yang bertanya, apakah kita menginginkan berteman dengan orang-orang yang sombong?. Maka siapa pun tidak akan ada yang mau berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat sombong. Bahkan orang sombong sekalipun tidak akan mau berkenalan atau berteman dengan orang sombong.

Cukuplah kemudian kejelekan sifat sombong ini, dari pelaku sombong tersebut berkenaan dengan mereka. Kemudian bagaimana kita memahami tawadhu ini dari perspektif Allah dan RasulNya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji dzarrah.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (HR. Muslim No. 91)

Dzarrah menggambarkan partikel paling kecil, maka sebesar itu saja kesombongan yang ada dalam hati manusia, maka dia tidak akan masuk surga kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi Makna tawadhu adalah menerima kebenaran dan memuliakan orang-orang. Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang tunduk atau siap menerima kebenaran darimana pun datangnya.

Sebagaimana gambaran orang-orang beriman ketika diseru Allah dan Rasul-Nya mereka mengatakan:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum di antara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati)” (QS. An Nuur: 51)

Kemudian bagaimana makhluk Allah yang bernama iblis ketika menolak diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala menyembah. Menolak dan mengatakan sesungguhnya saya lebih baik daripada Adam. Inilah bentuk kesombongan dan kemudian melahirkan pembangkangan dari iblis.

Contoh teladan dari manusia yang mulia tentang sifat tawadhu. Disebutkan ketika Rasulullah di Fathu Makkah di tahun ke 8 Hijriyah setelah beliau kurang lebih 8 tahun terusir dari Makkah dan kembali setelah berhasil kemenangan kaum muslimin. Beliau masuk Makkah digambarkan dengan ketawadhuan beliau, padahal beliau datang sebagai pemenang.

Digambarkan bagaimana beliau tunduk, ketika ingin naik di kendaraanNya, dagunya hampir menyentuh pelana untanya. Menunduk bentuk ketawadhuan, tidak ada kesombongan, tidak ada sikap jumawa, merasa hebat, merasa menang, merasa kuat, setelah kemudian dikatakan sebagai seorang pemenang.

Itu semua terjadi karena kesadarannya bahwa kemenangan yang beliau dapatkan bukanlah karena kemampuan beliau tetapi sesuatu datanganya dari Allah Subhanahu wata’ala. Maka lihatlah contoh yang lain yang juga Allah sebutkan di dalam Al-qur’an tentang manusia yang sombong, yang diberikan kekayaan kemudian dia menganggap itu ada karena kemampuannya, itulah Qorun. Allah Subahanahu wata’ala berfirman:

قَالَ اِنَّمَاۤ اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”(QS. Al Qashash:78)

Ketika suatu hari seorang Arab badui ingin bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasaalam. Arab badui ini grogi, gemetar dan takut karena ingin bertemu dengan Rasulullah yang namanya sudah dikenal. Rasulullallah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat orang ini kemudian mengatakan: “Tenang, buatlah dirimu rileks! Aku bukanlah seorang raja. Tetapi aku hanyalah putra seorang perempuan yang makan daging kering”.

Saat terjadi perang khandaq dilakukan penggalian parit sejauh 5 meter, Rasulullah pun ikut menggali parit tersebut. Padahal beliau adalah panglima perang, beliau adalah pemimpin bahkan pada waktu itu sedang musim paceklik. Terdapat seorang sahabat yang mengeluhkan keadaannya bahwa ia dalam kondisi lapar, ternyata kondisi Rasulullah pun seperti itu keadaannya, sama dalam kondisi lapar.

Contoh yang lain ketika ada wanita yang terganggu akalnya (kurang waras) sangat ingin dilayani oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan: “tunjukkan saya dimana jalan yang akan engkau tuju, nanti saya antar”. Pemimpin besar tapi memiliki ketawadhuan yang tinggi sampai rakyat yang terendah juga ingin dilayani beliau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika beliau berkendaraan atau naik onta selalu ada orang yang di bonceng. Sampai ada sebuah buku yang meyebutkan bahwa 30 sahabat yang pernah dibonceng Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Shafiyyah salah satu istri beliau, yang keluarganya (Bapak, Paman, Saudara) terbunuh saat berperang dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusiawi jika Shafiyyah menaruh dendam terhadap Rasulullah akan tetapi berkat ketawadhuan beliau dapat meluluhkan hati Shafiyyah sehingga kemudian menjadi istrinya. Salah satu bentuk ketawadhuan Rasulullah ketika Shafiyyah akan naik ke atas unta, maka Rasulullah menegakkan lututnya untuk menjadi tangga, akhirnya Shafiyyah naik ke atas unta dengan menginjak paha Rasulullah.

Rasulullah sebaik-baik teladan, banyak kepribadian beliau yang bisa kita ambil pelajaran, Wallahu’alam.

Mamuju, 6 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh        : Agus Sapto Widodo

Diedit oleh        : Abu Muadz Ashriady