Categories
Berita

Evaluasi Program kerja, Wahdah Islamiyah Sulbar Gelar Mukerwil Ke-IV.

Foto Bersama Ketua-Ketua DPD dan Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

Mamuju – Jajaran pengurus wilayah Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat kembali melaksanakan musyawarah kerja wilayah ke – IV (empat), Sabtu (12/01/19).

Agenda tahunan Wahdah Islamiyah ini dibuka oleh Sekertaris Daerah Provinsi Sulbar yang diwakili Kepala Biro Kesra Provinsi Sulawesi barat, Moh. Ali Chandra.

Tujuan utama dari kegiatan ini untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja yang telah berjalan dan menetapkan program kerja satu tahun ke depan.

Dalam sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat, Drs. Ahmad Yunus menegaskan kehadiran Wahdah Islamiyah sebagai salah satu ormas islam yang bergerak dibidang dakwah juga menyentuh bidang sosial keAgamaan, kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lingkungan hidup. Hal ini memberikan gambaran bahwa Islam tidak bisa dilepaskan dari seluruh aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, harus mendapatkan perhatian besar dalam pengelolaannya secara tehnis dan manajemen.

Ahmad Yunus berharap, momentum Musyawarah Kerja wilayah ke-4 ini menjadi titik star melakukan perencanaan dan menjadi acuan dalam aksi implementasi ditengah masyarakat.

“Kita harapkan Mukerwil ini menjadi ajang menuangkan ide dan gagasan sebagai rumusan arah kerja satu tahun kedepan, serta merumuskan solusi atas kekurangan yang terjadi satu terakhir sehingga pergerakan kerja dakwah terus berjalan ke arah yang lebih baik dengan senantiasa mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wata’ala”. Harap Ahmad Yunus.

Selaku Ketua Dewan Pimpinan Wilayah, Ahmad Yunus juga menyampaikan apresiasi kepada semua ketua-ketua DPD Wahdah Islamiyah dari 6 kabupaten lingkup sulawesi barat, yang memberikan perhatian besar dan menunjukkan semangat yang kuat, dalam mengemban amanah dan kerja dakwah di daerahnya masing-masing.

Setelah kegiatan Musyawarah Kerja wilayah ini, jajaran pengurus Wahdah Islamiyah Sulbar akan melakukan audiens dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Hal ini sebagai upaya membangun sinergi dengan pemerintah terkait program kerja di bidang Sosial keAgamaan, kesehatan dan lingkungan hidup. Pungkasnya (aa/**)

Categories
Artikel

Tahun Baru Tanpa Perayaan?

Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri, larut dalam gemerlap pesta kembang api, atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat, tetap saja tak lantas menjadikan perayaan itu jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukan banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.

Tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan ini.

Pertama, latar belakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas seluruh rakyat Hindia Belanda.

Kedua, karena latar belakang teologis. Sebagaimana diketahui, kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan Paskah  yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325, tidak tepat lagi.

Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan berwajah dua). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year.

Jadi jelas, apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin, tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani.

Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri, larut dalam gemerlap pesta kembang api, atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat, tetap saja tak lantas menjadikan perayaan itu jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukan banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.

Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,

 إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا

“Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual ibadah mereka. Dan ikut dalam peringatan tahun baru, termasuk perbuatan tasyabbuh (menyerupai suatu kaum, baik ibadah, adat-istiadat, maupun gaya hidupnya). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

  مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan  mereka.” (HR. Imam Ahmad).

At-Tasyabbuh secara bahasa  diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau  mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-tasybih berarti  peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa).  Dikatakan demikian, artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya. Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam akidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka.

Hal yang terkait  dengan pandangan hidup tertentu selain Islam, maka kaum muslimin dilarang untuk mengikuti atau meniru-nirunya. Sebab, Islam itu sendiri adalah suatu pandangan hidup yang unik dan telah dijamin Allah sebagai satu-satunya pandangan hidup yang benar.

Selain itu, perayaan tahun baru masehi tergolong tasyabbuh karena beberapa hal;

  • Dalam Islam tidak ada perayaan menyambut tahun baru. Meski ummat Islam memiliki penanggalan sendiri berupa kalender hijriah, namun tidak ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk merayakannya. Tidak ada pula contoh dari para khulafaur Rasyidin dan sababat lainnya yang memperingatinya.
  • Perayaan tahun baru masehi sendiri merupakan hari raya orang kafir yang sepaket dengan natal sebagaimana dijelaskan di atas.
  • Perayaan tahun baru masehi penuh dengan hura-hura dan maksiat. Perayaan tahun baru selalu ramai dengan pesta miras, konser musik, bahkan perzinahan.
  • Perayaan tahun baru juga selalu identik dengan meniup terompet yang meruapakan kebiasaan orang-orang Yahudi. Karena sejarah kemunculan terompet berasal dari tradisi dan budaya Yahudi.

Berdasarkan laporan dari salah satu media online, pemerintah Kota ini menyiapkan anggaran sampai 80 juta untuk menghadirkan artis ibukota dalam rangka memeriahkan perayaan tahun baru 2019. Hal ini mendapatkan penolakan keras dari warga Sulawesi Barat khususnya warga Mamuju dan tak ketinggalan warga Polewali Mandar. Masyarakat Mamuju mulai sadar dengan berbagai musibah yang menimpa negeri ini, belum hilang duka saudara  kita di NTB dan Palu, tiba-tiba kita dikejutkan dengan tsunami di Selat Sunda dan Banjir Barru.

Cukuplah musibah yang menimpa saudara-daudari kita disana menjadi pelajaran yang berharga dan menjadi bahan renungan dan intropeksi diri. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjauhkan penduduk negeri ini khususnya warga Sulawesi Barat dari Musibah. Pastikan Tahun Baru kali ini tanpa perayaan, tidak ada yang luar biasa, berjalan biasa-biasa saja sebagaimana hari-hari lainnya dan tetap semangat dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala (Ashriady Abu Muadz).

Sumber:

http://wahdahjakarta.com/tag/tahun-baru-masehi/

http://wahdah.or.id/menyikapi-tahun-baru/

http://wahdah.or.id/perayaan-tahun-baru-bolehkah/

http://mediaekspres.com/hadirkan-dorce-di-malam-tahun-baru-pemprov-sulbar-gelontorkan-dana-sampai-80-juta/

Categories
Artikel

7 Bukti Islam Tidak Radikal (Bag. 1)

Oleh:

Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

Bagaimana seharusnya ummat Islam berdakwah, bertutur kata, berinteraksi, bermasyarakat, bahkan bernegara?. Tentu hanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seharusnya kita mencontoh. Bahkan dalam segala aspek kehidupan sekalipun, maka kita akan menemukan banyak contoh dari perilaku beliau yang mencerminkan kelembutan dan tidak ekstrim.  Sangat jauh dari sikap radikalisme sebagaimana yang disematkan pada ummat Islam hari ini.

Hingga kini ungkapan intoleran, radikal, teroris, dan sejumlah label negatif lainnya kerap disematkan pada Islam. Beberapa pekan terakhir ini, tudingan radikalisme lagi-lagi dialamatkan pada Islam, hingga mengundang polemik. Salah satu stasiun televisi nasional, menggelar dialog melalui rubrik Coffee Break. Tema saat itu cukup menohok dan mengundang reaksi. Hal itu terjadi karena pembahasan fokus pada hasil studi lembaga yang merilis 41 Masjid telah terpapar radikalisme. Prof. Dr. Irfan Idris hadir mewakili BNPT, salah seorang wasekjen MUI, Fadli Zon dan pembicara lainnya nampak terlibat diskusi hangat saat itu.

Selang beberapa hari kemudian stasiun televisi tersebut kembali  menggelar diskusi yang lebih besar (ILC- TV One) dengan menghadirkan beberapa narasumber termasuk peneliti sebagai pelaku studi yang kemudian mengeluarkan daftar masjid yang dimaksud. Selanjutnya data tersebut dijadikan dasar oleh BIN dalam melakukan pemantauan, evaluasi ke beberapa masjid tersebut.

Tema radikalisme sepertinya tidak pernah habis dibicarakan. Terlebih yang menjadi objek pembicaraan adalah Ummat Islam, yang notabene sebagai penduduk terbesar di Negeri ini. Mereka yang berpenampilan sunnah, berbusana muslimah, aktif menggelar kajian-kajian keislaman selalu diidentikkan dengan sikap ekstrim dan radikal. Hmmm,…. ntah sampai kapan tudingan seperti ini berakhir.

Apakah Islam mengajarkan Radikalisme?. Pada sejumlah label negatif yang disematkan itu, apakah Islam tidak memiliki perhatian dan membiarkan pemeluknya berlumuran dengannya?. Untuk menjawabnya, tentu butuh waktu lama. Pada Tulisan kali ini, penulis akan mencoba lebih fokus pada label radikalisme yang viral akhir-akhir ini.

Apa itu Radikalisme ?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata Radikalime memiliki tiga makna :

  1. Paham atau aliran yang radikal dalam politik.
  2. Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
  3. Sikap ekstrim dalam aliran politik.

Dari defenisi dan makna di atas, benarkah Islam mengajarkan tindakan kekerasan?. Dalam sejarah dakwah Rasulullah, adakah pemaksaan?, ekstrim dalam melakukan pembaharuan?.

Islam Mengajarkan Kelembutan Bukan sebaliknya.

Mengkaji ajaran Islam, akan mengantarkan pada kesimpulan banyaknya dalil-dalil yang menjelaskan kelemah-lembutan. Berikut ini firman Allah dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 159 :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Terjemahnya :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Bagaimana seharusnya ummat Islam berdakwah, bertutur kata, berinteraksi, bermasyarakat, bahkan bernegara?. Tentu hanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seharusnya kita mencontoh. Bahkan dalam segala aspek kehidupan sekalipun, maka kita akan menemukan banyak contoh dari perilaku beliau yang mencerminkan kelembutan dan tidak ekstrim.  Sangat jauh dari sikap radikalisme sebagaimana yang disematkan pada ummat Islam hari ini.

Berikut ini sejumlah bukti-bukti kelembutan Rasulullah dalam dakwahnya. Penulis akan sebutkan secara ringkas dengan mengutip buku: “9 Pilar Keberhasilan Da’i di Medan Dakwah” karya  Syaikh Said Bin Ali Bin Wahf Al Qahthani (2001).

  1. Kelembutan Rasulullah terhadap seseorang yang meminta izin untuk berzina.

Diriwayatkan dari Abu Umamah radiyallahu ‘anhu, ia menceritakan adanya seorang pemuda yang datang menemui Nabi dan meminta izin untuk berzina. Orang-orang yang ada disekitar Nabi saat itu menghardiknya dengan mengatakan: “Enyahlah kamu dari sini” !. Tapi justru dibiarkan oleh Rasulullah, seraya meminta pemuda itu lebih mendekat. Hingga Rasulullah mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya: apakah ia senang jika orang lain melakukannya pada ibunya?, apakah ia senang jika orang lain melakukannya pada anak perempuannya?, apakah ia senang jika orang lain melakukan pada adik perempuannya?, apakah ia senang jika orang lain melakukan pada Bibinya?.

Dari semua pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah, semuanya ditolak. Pemuda itu sendiri keberatan jika sekiranya perbuatan bejat itu dilakukan pada kerabatnya sendiri. Setelah diberikan pemahaman, maka seperti itu pulalah perasaan orang lain ketika mendapatkan perlakuan bejat, zina dan semacamnya. Sebagai bukti kelembutan Rasulullah kepada pemuda itu, beliau meletakkan tangannya di atas kepala pemuda itu seraya mendoakan. Subhanallah, betapa lembut dan bijaksananya Rasulullah kepada orang yang bersalah sekalipun.

  1. Kelembutan Rasulullah terhadap Orang Yahudi.

Diriwatkan dari Aisyah Radiyallahu ‘anha bahwa ada sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya memberi salam: “Assamu alaikum” (semoga kecelakaan atasmu). Mendengar hal itu Aisyah membalasnya dengan doa yang serupa, untuk memberi pelajaran kepada mereka. Namun Rasulullah mengatakan kepada istrinya utuk menahan diri, seraya mengatakan: “Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan.“Maka Aisyah mengatakan  “Wahai Rasulullah apakah anda tidak mendengar ucapan mereka?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah katakan  dan atasmu juga “.

Rasulullah juga pernah bersabda : “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu maha lembut, mencintai kelembutan dan dia memberi karena kelemah lembutan itu sesuatu yang tidak diberikan karena kekerasan, dan memberikan sesuatu yang tidak diberikan karena selainya” (HR. Muslim).

Demikian halnya dalam hadis yang lain, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

ان الرفق لا يكون في شيء الا زانة  ولا ينزع من شيء الا شانة  ( رواه مسلم )

Artinya :

“Sesungguhnya lemah-lembut tidak akan menempel pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak terlepas dari sesuatu kecuali akan menjadi cela baginya” (HR. Muslim).

Demikianlah diantara bukti-bukti kelemahlembutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan teladan bagi ummatnya dalam menjalankan dakwah dan meneruskan misinya. Maka mungkinkah bertolak belakang dengan contoh dari Nabinya?.

Wallahu A’lam Bis Sowab.

Insyaallah bersambung …

Menanti adzan Magrib di Mamuju, 13 Desember 2018.

Categories
Artikel

MESIN ITU BERNAMA TARBIYAH (Awal Sebuah Perjuangan)

Oleh. Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

Tercatat banyak nama dan tokoh yang telah berjaza, berperan atas terwujudnya lembaga dakwah ini, penulis sengaja tidak menyebutnya satu-persatu, biarlah nama-nama mereka tercatat dalam buku catatan Malaikat yang mulia, yang tidak akan menyia-nyiakan, serta tidak melewatkan sedikitpun kebaikan-kebaikan mereka, kecuali telah tercatat dalam kitab yang terjaga.

Pagi itu cuaca terasa sejuk, cerah, namun matahari belum juga menampakkan sinarnya. Alunan takbir sahut-menyahut terdengar menggema.  Iya, hari itu bertepatan hari raya Idul Adha.  Kali pertama berlibur hari raya di kota Mamuju. Penulis tidak dilahirkan di kota ini, namun tahun delapan puluhan adalah awal kali menginjakkan kaki di kota ini. Meskipun demikian mengenalnya sebatas saja, karena selanjutnya penulis dibesarkan di Tarailu, sebuah desa kecil berjarak puluhan kilo meter dari ibu kota,  hingga selesai bangku sekolah menengah atas.

Sesekali menginjakkan kaki, membuatnya tidak mengenal banyak seluk-beluk kota ini. Itulah sebabnya pagi itu ia tersesat di persimpangan jalan. Motor yang ditumpangi bermaksud membawanya ke pesantren Hidayatullah, tapi entah kenapa lajunya membuat ragu, hingga akhirnya diturunkan di sebuah jalan sepi dan tentu saja asing baginya. Karena tidak ingin berlama-lama, maka ia pun putuskan berjalan kaki mendekati alunan suara takbir terdekat yang terdengar. Subhanallah, ternyata yang dituju sudah dekat, hingga akhirnya langkah kaki berhenti pas di pintu gerbang pesantren.

Selain pesantren Hidayatullah, Masjid Agung Mamuju tempat melabuhkan harapan. Perencanaan demi perencanaan  pun  berawal  dari sini, meskipun  pada akhirnya penulis lebih banyak di Masjid  Agung sebagai Masjid ternama di Mamuju pada waktu itu. Beberapa kenalan baru mulai membangkitkan semangat juang, dinding masjid ditempeli panflet info STIBA tempat  penulis menimba  Ilmu di Makassar, hal itu dengan harapan akan ada generasi muda di Mamuju sudi menjadi teman seperjuangan kelak membangun peradaban di kota ini, dari sebuah program pekanan bernama Tarbiyah.

Tiap kali liburan, adakalanya sebagiannya dihabiskan di kota ini. Sengaja diajukan pada ibu, karena keinginan bersama teman di Mamuju yang nantinya menjadi sahabat dalam perjuangan. Hingga suatu waktu terlontar kalimat “kamu mau jadi orang Mamuju yah ?”. Tanya Ibuku suatu waktu.

Liburan demi liburan membuahkan pertemanan dengan beberapa pemuda, beberapa tokoh Agama dan Masyarakat, meskipun secara khusus baru lingkup pengurus Masjid Agung. Tapi hal itu sudah sangat membantu. Namun belum bisa memulai program Tarbiyah. Hingga pada suatu waktu seorang teman mengabarkan bahwa di Mamuju telah ada akhwat aktifis kampus alumni UNM Makassar, yang akhirnya menjadi pelopor dan cikal bakal terkumpulnya pemuda-pemuda pengusung lembaga dakwah di daerah ini.

Titik Terang Awal Sebuah Perjuangan

Sekitar tahun 2003 adalah pertama kali diadakan Daurah di Mamuju, tentu saja penulis tidak ingin melewatkan kesempatan itu, undangan segera direspon “Inilah awal sebuah perjuangan”, gumamku saat itu. Pesertanya lumayan banyak dan mendapat respon baik, meskipun dalam perjalanan daurah saat itu, seorang mahasiswa mendebat pada bagian materi Ibadah yang penulis sajikan, tapi itu wajar toh kami sama-sama berdarah muda. Iya penulis, diantara pemateri pada daurah perdana kala itu, melengkapi pemateri lainnya.

Forum Studi Islam (FSI) Ulul Albab menjadi wadah kami pada waktu itu, berawal dari dua orang akhwat alumni tarbiyah dari Makassar, selanjutnya bertambah dengan kembalinya akhwat yang telah menyelesaikan studinya, sehingga genap menjadi 4 orang. Merekalah yang berperan sebagai pionir pertama dan utama pada saat itu, hingga kemudian menjadi awal terbentuknya Forum yang selanjutnya mewadahi berlangsungnya khalaqah-khalaqah kajian keislaman. Meskipun semakin nampak setelah pemuda yang tergabung dalam Forum itu memutuskan untuk mendatangkan seorang Da’i tetap dari Makassar. Da”i tersebut akan ditempatkan di Mamuju sebagai pembina secara rutin, disamping pembina dari Majene dan Makassar yang akan didatangkan secara berkala.

Energi dan buah tarbiyah yang mengalir dalam jiwa 4 orang akhwat, disusul dengan terlibatnya beberapa pemuda, serta seiring dengan semakin bertambahnya kader-kader yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Memilih menetap di kota ini sebagai pegawai pada istansi-istansi pemerintahan. Hal itu semakin memberi kekuatan tersendiri dan memperkuat laju pergerakan dakwah di Bumi Manakarra ini, melebihi laju dan pergerakan ormas dan lembaga lain yang telah dahulu ada. Meskipun kehadiran FSI yang selanjutnya berganti menjadi Forum Ukhuwah Pemuda Islam (FUMI) di Mamuju tentu bukan untuk menjadi penyaing, tetapi menjadi mitra bagi lembaga dakwah yang lebih dahulu ada, serta bersinergi dalam sebuah kerja-kerja dakwah.

Kehadiran Forum ini semakin menunjukkan eksistensinya seiring dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah dan kader-kadernya, hingga pada akhirnya tepatnya pada tahun 2008 resmi berubah menjadi DPC Wahdah Islamiyah Mamuju. Penulis bersama dengan belasan teman-teman pada waktu itu dikukuhkan sebagai pengurus.

Terwujudnya Lembaga Dakwah yang Lebih Kongkret

Harapan dan cita-cita besar akan hadirnya lembaga dakwah yang nantinya akan mewadahi langkah dan pergerakan kami akhirnya terwujud. Tercatat banyak nama dan tokoh yang telah berjaza, berperan atas terwujudnya lembaga dakwah ini, penulis sengaja tidak menyebutnya satu-persatu, biarlah nama-nama mereka tercatat dalam buku catatan Malaikat yang mulia, yang tidak akan menyia-nyiakan, serta tidak melewatkan sedikitpun kebaikan-kebaikan mereka, kecuali telah tercatat dalam kitab yang terjaga.

Dalam sebuah Tabligh Akbar di Masjid Nurul Muttahidah, hadir Asisten III selaku perwakilan Pemerintah Daerah yang dalam sambutannya memberikan apresiasi dan dukungan atas terbentuknya Ormas Islam ini di Mamuju. Harapannya akan bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan, khususnnya pada pembangunan sumber daya generasi muda dan pembangunan ummat ini secara umum. Ratusan jamaah yang memadati masjid pada waktu itu dengan antusias mendengarkan sambutan maupun materi yang disajikan.

Wahdah Islamiyah adalah Ormas Islam yang bergerak dibidang Dakwah, Tarbiyah, Pendidikan, Sosial dan Lingkungan Hidup. Melalui program unggulanya melahirkan kader-kader yang siap berjuang mendakwahkan Islam di atas manhaj salafus Shaleh atau yang lebih familiar dikenal sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Mereka yang tergabung dalam lembaga dakwah ini adalah orang yang mau bekerja, berpikir siang dan malam tanpa tendensi-tendensi profit. Hal itu terbukti dalam perjalanan organisasi ini dengan usianya yang sangat muda namun telah memiliki kader kurang lebih 700 orang, baik ikhwah maupun akhwat. Dari sebelumnya tanpa asset, kini telah memiliki Markaz dakwah, meliputi Masjid dan lembaga pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, SD hingga SMP.

Dakwah dan Tarbiyah Adalah Fokus Utama

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau suatu saat akan menetap berdakwah dan memiliki teman seperjuangan di Bumi Manakarra ini. Dahulu penulis hanya berharap kelak akan menghabiskan umur dan membina di sebuah pesantren, namun takdir menghendaki lain, tapi tentu saja ini adalah awal dari keinginan, dan buah dari Tarbiyah. Iya, energi inilah yang telah membentuk dan mengalir menjadi penyemangat, atas taufik dari Allah Subhanhu Wata’ala kemudian melalui mesin tarbiyahlah yang menjadi pemantik segalanya. Hingga sejumlah rekan seperjuangan menyulap rawa menjdi tanah rata sehingga terbentuk bangunan Masjid Al Ikhsan, sebuah bangunan pertama dan memicu berdirinya bangunan-bangunan berikutnya.

Kreatifitas, kerja keras serta keinginan kuat mewujudkan lembaga pendidikan yang nantinya akan menjadi wadah belajar anak dari kader-kader lembaga ini, menjadi penyemangat mendirikan sekolah, meskipun awalnya berangkat dari sebuah gubuk kecil. Namun dengan keikhlasan dan semangat juang yang terus dikobarkan melalui halaqah tarbiyah dan musyawarah, hingga akhirnya terwujud sekolah dengan sarana yang terus meningkat. Alhamdulillah saat ini telah menjadi pilihan masyarakat Mamuju untuk menyekolahkan anaknya. Kini sekolah ini tidak lagi hanya sekedar untuk internal kader, tapi telah menjadi salah satu sekolah pavorit di Mamuju. Semoga semua ini tidak menjadikan kami terlena dan tetap fokus pada tujuan utama perjuangan ini untuk mentarbiyah ummat.

Semoga tulisan sederhana ini bisa mewakili ide rekan seperjuangan, dalam merangkai jejak-jejak indah yang berserakan, hingga terangkum dalam sebuah kisah yang dapat menginspirasi pembaca tentang awal sebuah perjuangam dakwah di bumi Manakarra. Berawal dari langkah kecil dengan hanya beberapa orang pengusungnya, hingga merebak menjadi jamaah besar di bawah naungan lembaga dakwah, dengan kader-kader yang terus meningkat secara kuantitas dan kualitasnya.

Tulisan tak berharga ini kiranya dapat menggugah pembaca akan peranan energi mesin bernama tarbiyah, yang telah mengalir dalam jiwa pengusung awal dakwah di kota ini. Selanjutnya juga menjalar pada jiwa-jiwa pelanjut, hingga akhir zaman kelak.

Jika pada tulisan ini, ada yang terluput yang pembaca ketahui, maka saran perbaikan dapat dialamatkan pada email berikut ini: abu.ubaidillah77@gmail.com, semoga kelak dapat melengkapi kalimat demi kalimat, hingga menjadi paragraf, yang akan merangkai narasi lengkap dan terbukukan menjadi sejarah perjuangan dakwah di Kota Mamuju tercinta ini.

 

Saudaraku Seperjuangan  Tetaplah  Bertarbiyah !

Diselesaikan di Mamuju, 27 November 2018

Categories
Artikel

Dakwah adalah Pengorbanan

Oleh:

Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

Berdakwah merupakan kewajiban yang tidak diragukan lagi, dalam kondisi banyak yang menyerukan pada kebenaran maka merupakan fardu kifayah. Sebaliknya ketika seseorang berada dalam kondisi tidak ada yang bisa kecuali harus tampil sebagai penyeru kebenaran, maka baginya fardu ‘ain.

Allah subhanhu wata’alah berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ

وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Terjemahnya :

 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang  ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104).

Dengan berdakwah seseorang akan meraih keutamaan yang luar biasa, hal itu karena dalam melakoninya tidak semudah yang kita bayangkan, di dalamya penuh onak dan duri, tantangan demi tantangan akan menghiasi langkahnya. Baik dari internal da’i itu sendiri maupun dari eksternalnya. Tidak jarang ditemukan penolakan, cacian, serta kekurangan sarana dan media dalam berdakwah. Sementara kebutuhan akan dakwah ini menuntut menembus ke daerah-daerah paling terpencil sekalipun, sehingga ketersediaan sarana dan penunjang tercapainya dakwah ini tentu sangat dibutuhkan.

Dalam banyak edisi Majalah Hidayatullah, penulis banyak mendapatkan inspirasi, dan pencerahan bagaimana sosok da’i militan, yang diterjunkan dalam medan dakwahnya dengan perbekalan terbatas, ada yang  hanya berbekal seadanya, ada yang kehabisan bekal ketika masih dalam perjalanan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Namun setiba di daerah tujuan, mereka bisa sukses, tentu saja setelah diawali dengan perjuangan yang sangat panjang lagi menantang. Demikianlah semua dalam rangka pengorbanan. Allah Subhanahu Wata’ala ingin menguji hamba Nya, siapa diantara mereka yang paling bersabar.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ

نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Terjemahnya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk  Syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”  (QS. Al Baqarah 2: 214).

Syaikh Said bin Ali Bin Wahf Al Qahthany, dalam bukunya Muqawimaat ad Dai yat an nanjih fi Dauil Kitabi wa Sunnah Mafhumum wa Nadharun wa Tatbiiqun, menyebutkan setidaknya ada sembilan pilar yang harus dimiliki agar seorang Da’i bisa sukses dalam dakwahnya. Salah satunya adalah bersabar menghadapi ujian.

Bahtera dakwah masih akan terus bergerak menuju tujuan, Secercah harapan menuju sukses menjadi dambaan setiap penyeru, tidak terkecuali oleh penulis. Hanya kepada Allah ketetapan hati ini kami tambatkan, kemudian kepada segenap sahabat seperjuangan. Sungguh beban akan menjadi ringan bila diusung secara bersama, dan dengan kesabaran.

Memberi  Bukan Mencari Manfaat

Dakwah adalah pengorbanan, hal itu karena dalam melakoni aktifitas ini membutuhkan banyak pengorbanan, baik pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, materi, bahkan nyawa sekalipun. Dan tidak sedikit pengorbanan itu justru bersumber dari pelaku dakwah itu sendiri, mereka berdakwah sekaligus memberi dan membiyai dakwahnya. Bukan materi yang mereka cari, bukan popularitas yang mereka nanti, bukan pula pujian yang mereka harapkan.

Generasi awal ummat ini telah membuktikan sekaligus teladan terbaik kita, terkisah banyak momen yang mengisahkan pengorbanan mereka dalam perjuangan ini. Berjuang sekaligus membiayai perjuangannya, dua hal yang tidak terpisahkan lagi. Al Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menuturkan sosok Abu Talhah menyerahkan kebun kurmanya yang berhadapan dengan Masjid Rasulullah untuk dimanfaatkan dalam perjuangan Islam, sebagai bentuk respon cepat setelah turunya firman Allah pada surah Ali Imran ayat 92 :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Terjemahnya :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Abu Bakar As Siddiq, yang menyerahkan seluruh hartanya, dan tidak menyisahkan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya, Usman bin Affan, yang banyak membiayai peperangan, Abdurrahman bin Auf, yang kekayaanya tidak melupakan dirinya pada kedermawanan. Banyak lagi kisah teladan lainnya, yang menunjukkan pengorbanan terbesar mereka, padahal juga terlibat langsung dalam dakwah dan perjuangan kala itu.

Saudaraku Seperjuangan …

Dakwah membutuhkan pengorbanan, aktifitas besar dengan kebutuhan dana besar, siapa yang akan membiayai?,  dari mana dananya ?.

Seabrek pertanyaan semisal, akan selalu menemani para aktifis dakwah. kalau bukan Ummat Islam sendiri yang membiayai, maka siapa lagi ?. Maka bersyukurlah karena dakwah ini masih membutuhkan kita, berbahagialah karena dana kita masih dibutuhkan. Maka berkorbanlah dalam dakwah, niscaya akan menjadi milikmu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

Surat Al-Isra’ Ayat 7

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

Terjemahnya :

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”

Dari segi waktu, tidak sedikit yang dibutuhkan untuk mengerjakan banyak hal, waktu belajar anda menyiapakan  materi sebelum berdakwah,  maka sejak itu, waktu shalihin dan shalihat  tidak terbuang sia-sia. Siang dan malam terkuras demi pelayanan ummat, dan berbagai kesibukan dalam rangka memajukan dakwah dan tarbiyah, semuanya dalam rangka pengorbanan.

Tenaga, fisik yang anda gunakan tidak selamanya kuat, maka masa lemahmu kelak akan menuai berkah, kesibukan membuahkan lelah, maka kelak berbuah bahagia. Anak dan keluargamu yang sering ditinggal pergi, karena dakwah dan tarbiyah akan tergantikan dengan ketenangan diakhirat, Insya Allah.

Kekurangan materi, harta dan fasilitas yang juga menjadi tanggung jawabmu, semoga tercukupkan dari zat yang maha kaya, yang tidak akan menyia-nyiakan hambaNYA.

Teruntuk jiwa pejuang, …

Akhukum Fillah,

Di Bumi Manakarra Mamuju. 23 November 2018.

Categories
Artikel

Aku Cinta Nabi

Aku Cinta Nabi

Oleh:

Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

Hingga saat ini tata cara beribadah masih sering lebih mengikuti kebiasaan orang banyak daripada petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Gaya hidup, cara berpakaian, tutur kata, masih lebih mengidolakan para artis, bintang bola, dan sebagainya daripada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka sudah benarkah kecintaan kita pada beliau ?.

Bulan Rabiul Awwal, diyakini sebagai bulan kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sehingga serentak pembicaraan terpokus pada sosok manusia terbaik, sekaligus pemimpin ummat yang tidak akan tertandingi hingga akhir zaman. Situasi sebelum dan pasca kelahiran Nabi, hingga pase Nubuwah menjadi trending topik pada segala lini, terutama pada generasi perindu,  yang berupaya mencintai dan meneladaninya.

Kegiatan seremonial beserta rangkaiannya menyita perhatian publik, mereka dalam menyikapinya pun beragam, ada yang menghidupkannya dengan dalil syiar Islam dan upaya cinta Nabi, namun ada pula yang wujud kecintaanya lebih diekspresikan dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam segala aspek kehidupanya. Menghidupkan shalat berjamaah di Masjid bagi laki-laki, berarti telah mencintai Nabi, menjaga kerukunan hidup bertetangga, adalah wujud mencintai Nabi, saling menghargai, dan menghormati perbedaan, tidak tergesa-gesa menghukumi, mudah menyalahkan, menyebar kedustaan, semuanya dalam wujud kecintaan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Perintah Cinta Nabi

Disebutkan di dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

Artinya :

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari)

Mencintai Rasulullah hukumnya wajib, bahkan termasuk kewajiban terbesar dalam agama. Tidak sempurna iman seorang hamba, kecuali dengannya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan umat ini untuk mencintai Rasulullah melebihi dirinya, keluarga, harta dan seluruh manusia. Allah berfirman :

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (At-Taubah : 24).

Al Qadhi Iyadh menyatakan, ayat ini cukup menjadi anjuran dan bimbingan serta hujjah untuk mewajibkan mencintai beliau dan kelayakan beliau mendapatkan kecintaan tersebut, karena Allah menegur orang yang menjadikan harta, keluarga dan anaknya lebih dicintai dari Allah dan Rasul Nya.

Selain hadits Abu Hurairah ini, hadits-hadits yang memerintahkan kecintaan pada Nabi cukup banyak, diantaranya seperti dalam hadits Umar bin Al Khaththab :

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَر ُ رواه البخاري

Artinya :

“Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan beliau dalam keadaan memegang tangan Umar bin Al Khaththab, lalu Umar berkata kepada beliau: “Wahai, Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku,”lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri”. Lalu Umarpun berkata: “Sekarang, demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri,” lalu Nabi  bersabda: “Sekarang, wahai Umar”. (HR. Bukhari)

Kalau saja Umar Bin Khattab, mendapatkan koreksi kualitas kecintaanya pada Nabi, maka bagaimana lagi dengan kita yang hidup zaman ini. Maka mengupayakan kecintaan tertinggi seharusnya menjadi prioritas setiap pribadi Muslim, hingga mencapai derajat kecintaan yang sepurna.

Hakekat Cinta Nabi

Dalam kitab Tauhid, Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan Rahimahullah, menyebutkan bahwah, kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah, dapat diwujudkan dalam banyak hal sebagai konsekwensi Syahadat kepada beliau Sallallahu ‘alaihi Waasallam, berikut ini penulis rangkum sebagai berikut :

  1. Mencintai beliau Shallallahu Alaihi wasallam di atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”. (Qs. Al Ahzab : 6)

Seseorang dengan kecintaanya dituntut siap mengorbankan jiwa dan hartanya, sebagaimana hal itu mutlak dilakukan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Waasallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya :

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang), dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah, karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (At Taubat :120).

  1. Membenarkan semua yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah, menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya, serta beribadah hanya dengan syari’atnya.
  2. Melaksanakan semua konsekwensi dari cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa i’tikad, pernyataan ataupun amalan, sesuai dengan hak-hak Rasulullah yang Allah wajibkan kepada hati, lisan dan anggota tubuh, sehingga beriman dan membenarkan kenabian, kerasulan dan seluruh ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu melaksanakan kewajiban dengan segenap kemampuannya, berupa ketaatan, ketundukan kepada perintahnya dan meneladani sunnahnya.
  3. Mendahulukan perkataan beliau diatas perkataan yang lain, serta mengikuti sunnahnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Qs. Al Hasyr :7 ).

Renungan …

Hingga saat ini tata cara beribadah, masih sering lebih mengikuti kebiasaan orang banyak daripada petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Gaya hidup, cara berpakaian, tutur kata, masih lebih mengidolakan para artis, bintang bola, dan sebagainya, daripada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka sudah benarkah kecintaan kita pada beliau ?.

Dalam bermasyarakat, seharusnya Rasulullah menjadi teladan dalam bertetangga, namun justru tidak akrab, tidak saling mengenal satu sama lain, meskipun rumah mereka dalam satu kompleks. Demikianlah seterusnya, padahal Rasulullah adalah teladan terbaik kita dalam bertetangga. Dalam banyak hal kita masih lebih sering mendahulukan petunjuk selain petunjuk Nabi, padahal diantara konsekwensi kecintaan kita maka segalanya mesti mendahulukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah akan lebih baik, dan terus mengupayakannya dengan meneladani beliau dalam segala aspek kehidupan kita,  hingga derajat kecintaan kita akan diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Wallahu A’lam Bissowab.

Mamuju,  12 Rabiul Awwal 1440 H.

Categories
Berita

Muslimah Wahdah Mamuju Gelar Pengajian Akbar di 3 Kecamatan

MAMUJU–Muslimah Wahdah Mamuju kembali mengadakan pengajian akbar dengan tema “Membentuk Bingkai Cintai dengan Mengikuti Jejakmu”. Kegiatan ini rencananya akan digelar ahad (18/11/2018). Berbeda dari biasanya, pengajian akbar kali ini diadakan secara serentak di 3 (tiga) Kecamatan di Kabupaten Mamuju yaitu di Kecamatan Mamuju, Simboro dan Kalukku.

Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi http://wahdahmamuju.or.id, di Kecamatan Mamuju kegiatan ini akan dilangsungkan di Aula Masjid Raya Suada, di Kecamatan Simboro bertempat Masjid Al Aqsa Legenda dan di Kecamatan Kalukku bertempat di Masjid Nurul Hidayah Balatedong.

Ketua Muslimah Wahdah mamuju, Musdalifah Usman, S.Pd melihat kegiatan ini sebagai usaha bersama para muslimah untuk memperluas dakwah. “Selama ini berpusat di Mamuju, kita mencoba masuk di Kecamatan yang sudah ada kader kita disana. Hingga visi misi kita sebagai lembaga yang eksis betul-betul mampu diwujudkan demi kemaslahatan umat”. Tuturnya.

Sementara itu, Nurmi, S.Pd. AUD sangat berharap kegiatan berjalan dengan sukses. “Biidznillah kegiatan ini sukses di semua titik, dan peserta yang hadir dapat ikut di halaqah-halaqah ilmu yang ada nantinya. Harap Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan ini.

Tujuan kegiatan ini selain sebagai syi’ar kepada masyarakat juga sebagai salah satu upaya agar masyarakat di Kabupaten Mamuju dapat mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu tentu sejalan dengan tema yang diangkat dalam kegiatan ini.

Adapun target peserta yang akan dihadirkan yaitu muslimah Mamuju 100 orang, muslimah Simboro 100 orang dan muslimah Kalukku 100 orang. Semoga perjuangan wanita-wanita pengusung dakwah ini dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (Humas DPD Mamuju_Abu Muadz).

Categories
Agenda

Info Ta’lim Pekanan

Mukhtashar Minhajul Qashidin

Penulis kitab ini adalah Syaikh Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi rahimahullah. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab Ibnul Jauzi rahimahullah.

Kitab ini terbagi menjadi 4 bagian:

  1. Bagian pertama memuat masalah ibadah.
  2. Bagian kedua memuat masalah adat.
  3. Bagian ketiga menerangkan perkara-perkara yang membinasakan.
  4. Bagian keempat menerangkan perkara-perkara yang menyelamatkan.

Dalam bab pertama beliau menyebutkan masalah-masalah ibadah yang mencakup 9 pembahasan: Kitab Ilmu dan Keutamaannya, Kitab Thaharah dan Shalat, Kitab Zakat, Kitab Puasa, Kitab Haji, Kitab Adab Membaca Al Quran, Kitab Dzikir dan Doa.

Diantara yang beliau sebutkan dalam Kitab Ilmu adalah keutamaan ilmu, adab penuntut ilmu dan pengajarnya, juga menerangkan sifat-sifat ulama akhirat (ulama yang sebenarnya).

Di bagian kedua yang menerangkan masalah-masalah adat, beliau awali dengan menerangkan masalah-masalah adab makan dan minum, kemudian beliau sebutkan 7 kitab: Kitab Nikah dan Adabnya, Kitab Adab Mencari Ma’isyah (penghasilan), Kitab Halal dan Haram, Kitab Adab Berteman dan Bersaudara, Kitab Adab Safar, Kitab Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Kitab Kehidupan dan Akhlak Nabi.

Beberapa masalah dalam adab berteman sangatlah penting untuk kita. Di sana beliau menyebutkan tidak semua orang bisa kita jadikan teman baik. Orang yang akan kita jadikan teman baik haruslah memenuhi beberapa kriteria: Aqil (berakal), berakhlak yang baik, bukan seorang fasiq (senang berbuat kemaksiatan), bukan ahlul bid’ah, dan bukan seorang yang tamak kepada dunia. Beliau menyebutkan hadis yang artinya, “Seseorang itu di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan temannya.” [H.R. Al Bukhari]. Ibnu Qudamah mengingatkan bahwa seorang teman mesti ada kekurangan. Beliau berkata, “Jika mencari seorang teman yang bersih dari kesalahan niscaya kau tak akan mendapatkannya.”

Di bagian ketiga ketika menerangkan masalah perkara-perkara yang membinasakan, beliau menyebutkan 7 kitab: Kitab yang menerangkan keajaiban-keajaiban hati, kitab yang menerangkan cara melatih kalbu dan mengobati penyakit-penyakit kalbu, kitab meredam dua syahwat: syahwat perut dan farj (kemaluan), kitab penyakit-penyakit lisan, kitab celaan kepada amarah, iri dan dengki, kitab riya’, kitab ghurur (ketertipuan) dan macam-macamnya.

Di antara hal penting yang perlu kita cermati dalam bagian ini adalah penjelasan beliau tentang penyakit-penyakit lisan. Di antara yang beliau sebutkan:

  1. Berbicara sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
  2. Tenggelam dalam perbincangan yang batil; yakni perbincangan tentang maksiat.
  3. Bicara kotor dan caci maki.
  4. Banyak bergurau.
  5. Mengejek dan mengolok-olok.
  6. Menyebarkan rahasia.
  7. Ghibah.
  8. Namimah (adu domba).

Di bagian keempat beliau menyebut masalah-masalah yang menyebutkan 6 kitab: Kitab tobat dan menyebutkan syarat-syarat serta rukunnya, kitab sabar dan syukur, kitab roja’ (rasa berharap) dan khauf (rasa takut), kitab zuhud dan faqr, kitab tauhid dan tawakal, kitab mahabbah (mencintai Allah), kerinduan dan ridha kepada Allah.

Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin termasuk kitab yang penting kita baca dalam rangka melembutkan kalbu, memperbaiki akhlak dan tingkah laku kita. Oleh karena itu mempelajari kitab ini di bawah bimbingan para ulama dan para pengajar yang berkompeten akan sangat bermanfaat. Di dalamnya terkandung berlimpah faedah yang sangat banyak untuk kebaikan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari dan mengamalkan kandungannya.

Untuk itu, kami mengajak kepada kaum muslimin di Kota Mamuju dan sekitarnya untuk hadir dalam Kajian Rutin yang membahas tentang Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin ini. Kegiatan ini bertempat di Kompleks SIT Wildan, Jalan Musa Karim Mamuju setiap malam Ahad antara Maghrib – Isya.

Categories
Agenda

Info Ta’lim Pekanan

Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mau merusak syariat ini.

Banyaknya ujian yang menimpa kaum muslimin akhir-akhir ini yang sesmestinya semakin menguatkan kita untuk menuntut ilmu syar’i. Dengan hal tersebut, sebagai salah satu sarana yang dapat menjadikan kita untuk tetap berada pada ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala melalui pemahaman Agama yang benar.

Penuntut ilmu berusaha menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran Agama Allah Subhanahu Wa ta’ala. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak. Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam menyampaikan dakwah agar  lebih mudah diterima di tengah masyarakat.

Olehnya itu, kami mengajak kaum muslimin di wilayah Mamuju dan sekitarnya untuk menghadiri majelis ilmu yang beralamat di Masjid Al-Ihsan, Kompleks SIT Wildan, Jalan Musa Karim No. 32 Mamuju.

Categories
Artikel

Santri

Suka duka sebagai santri, hanya bisa dibahasakan buat mereka yang pernah nyantri. Beragam kisah dapat terukir indah dari setiap santri, eksistensi pesantren ditentukan oleh santrinya, selain peranan Masjid dan Kiyai pada setiap pesantren.

Sebuah pesantren tidak bisa berjalan tanpa santri, Masjid akan menjadi sentral aktifitas santri. Wibawa Kiyai tidak sekedar dibutuhkan sebagai Tokoh, namun juga diharapkan mampu menjadi teladan dan panutan santri.

Selama sembilan tahun saya pernah merasakan suka dan duka selaku Santri, Alhamdulillah tidak berubah jadi Santriwati…..

Di pesantrenlah saya mulai mengenal ibadah berikut menyelaminya sebagai kewajiban. Di pesantren pula saya belajar hidup mandiri, berpisah dengan keluarga dengan segala fasilitas berlebih.

Di Pesantren kami diajarkan kesederhanaan, tapi tidak membenci kemewahan. Di Pesantren diajarkan kedisiplinan, dan berbagai keteraturan.

Tidak sedikit tuduhan buruk dilekatkan dengan pesantren, dan mereka yang hidup di dalamnya, padahal dengannya kami bisa mengerti ujian hidup.

Jangan ragukan pesantren….

Catatan kecil dihari Santri

Mamuju, 22 Oktober 2018

Akhukum Fillah Amiruddin Ibn Sakka Al Bugisy