Home / Artikel / Seri Ceramah Tarawih 12: Amanah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Seri Ceramah Tarawih 12: Amanah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Fajaruddin Djarir, SE

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Amanah itu bermakna pembenaran dan ketenangan hati, diantara nama-nama Allah Subahanahu Wata’ala yang mulia adalah Al-Mu’min yaitu memberikan rasa keamanan kepada hamba-hambaNya sebagaimana Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ﴿ ٣ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴿ ٤

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (Q.S Quraisy: 3-4).

Amanah ini adalah pada dasarnya akhlak yang mengumpulkan banyak kebaikan, orang bisa amanah karena ada kejujuran. Maka kejujuran adalah salah satu unsur yang membangun akhlak amanah. Begitu halnya dengan sifat adil, orang tidak bisa amanah kalau tidak adil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mendapatkan amanah menyampaikan risalah Agama ini, maka yang paling amanah dari seluruh manusia adalah Rasulullah karena Allah yang memilihnya. Kata Allah Subhanahu Wata’ala:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya…(Q.S Al-Qasas: 68)

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Suatu ketika Rasulullah diutus Khadijah untuk membawa barang dagangannya dari Syam dan pendamping Rasulullah yang membawa barang-barang dagangan tersebut, Maisaroh menceritakan bagaimana keterpercayaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau begitu terpercaya menjaga harta, menjaga barang-barang tersebut, inilah yang membuat Khadijah radhiyallahu ‘anha tertarik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang-orang Quraisy terdahulu bahkan sudah mempercayakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi rasul, bahkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin artinya yang terpercaya. Ketika kita sudah menyerahkan urusan kepadanya atau memberikan amanah kepadanya, kita sudah merasa tenang bahwa urusan itu pasti akan diselesaikan.

Sebenarnya kita manusia ini adalah orang-orang mengemban amanah dalam kehidupan kita, maka kita harus memiliki sifat amanah itu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S Al-Ahzab: 72)

Seluruh kehidupan kita adalah amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala maka dari itu kita harus menjaganya untuk kita berjalan di atas syariat Allah Subhanahu Wata’ala turunkan kepada kita.

Ketika ka’bah direnovasi oleh banyak kabilah-kabilah Arab pada waktu itu, mereka berdebat, bertengkar, sulit memutuskan kabilah mana yang berhak meletakkan kembali hajar aswad ke tempatnya. Karena tidak ada keputusan maka mereka sepakat memilih hakim untuk memutuskan hal tersebut. Hal ini terjadi sebelum kenabian, sebelum turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang pertama kali terlihat datang adalah Rasulullah, kemudian mereka sepakat menujuk Al-Amin yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu menunjukkah bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dipercaya. Bahkan saat Rasulullallah dibenci oleh mereka tetapi dalam menjaga barang-barang berharga mereka masih mempercayakan kepada nabi. Ketika beliau diintimidasi, diboikot bahkan diancam untuk dibunuh, Nabi masih berusaha menyelesaikan semua amanahnya, bahkan kepada orang yang mau membunuhnya atau orang yang memboikotnya.

Rasulullah mengajurkan kepada kita untuk selalu bersikap amanah, sebagaimana dalam sabda beliau,

لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ، وَلاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya” (HR. Ahmad).

Sebagaimna tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga yaitu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Al-Bukhari).

Ada beberapa ancaman kepada orang-orang yang tidak berlaku amanah, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk mempimpin lalu ia menyembunyikan satu jarum atau lebih, maka pada hari Kiamat nanti ia akan datang membawanya”(HR. Muslim).

Amanah ini adalah sifat yang sangat mulia, hal ini tergambar ketika Nabi Musa Alayhissalam, beliau membantu 2 orang wanita untuk memberi minum ternaknya,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. Al-Qasas: 26).

Perkara amanah itu adalah sebuah kehormatan sebenarnya, jadi orang yang tidak bisa menepati amanah walaupun perkara-perkara yang kecil maka sesungguhnya dia telah menghancurkan kehormatannya dihadapan orang yang memberikan amanah. Dan yang paling penting adalah amanah kita dihadapan Allah Subhanahu Wata’ala, atas nikmat yang Allah berikan, atas amanah pembebanan syariat Agama ini.

Mari kita ikuti penghulu kita Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam dalam urusan ini. Bagaimana menjalankan amanah dalam kehidupan kita, menegakkan Agama Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada masyarakat di sekeliling kita.

Mamuju, 12 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Apakah Virus Corona Merupakan Tha’un?

Pertanyaan: Apakah virus corona merupakan tha’un dan bagaimana dengan hadits di setiap pintu Madinah terdapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *