Home / Artikel / Seri Ceramah Tarawih 13: Keadilan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Seri Ceramah Tarawih 13: Keadilan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Muhammad Ali, SH

Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah Mamuju

Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Adil berasal dari bahas Arab yaitu Al-‘Adl, ada beberapa contoh tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana beliau berperilaku adil. Perilaku adil beliau luar biasa bukan hanya kepada kaum muslimin bahkan kepada orang-orang di luar Islam, hal ini sebagaimana perintah Agama kita,

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8).

Sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan wahyu, ketika orang-orang quraisy melakukan pembangunan/renovasi ka’bah, mereka berseteru siapa yang akan mengangkat hajar aswad ke tempatnya. Semua kabilah merasa terhormat jika mereka yang mengangkat sehingga tidak ada yang disepakati dan sampai kemudian sepakat bahwa siapa yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram maka dialah yang akan ditunjuk menjadi hakim.

Datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliaulah ditunjuk menjadi hakim. Saat beliau memutuskan perkara tersebut, tidak ada satupun diantara mereka yang tidak ridho dengan keputusan tersebut.

Diantara kisah keadilan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dalam hal menegakkan hukum. Ketika ada seorang wanita mencuri, dari bani Mahzum, suku terpandang dari Quraisy, kemudian informasi ini sampai pada Rasulullah dan beliau menetapkan untuk memotong tangannya.

Orang-orang Quraisy berusaha mencari orang yang bisa memberikan safaat karena ini kehinaan bagi mereka, seorang wanita terhormat di kalangan Quraisy yang akan dipotong tangannya. Maka mereka menemui Usamah bin Zaid, sahabat yang dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk melobi Rasulullah. Hal ini membuat Rasulullah menjadi marah, kemudian beliau mengatakan,

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ

Apakah engkau hendak memintakan syafaat (agar hukum had dibatalkan) dalam hal hukum had Allâh?

Lalu keesokan harinya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau memuji Allâh Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا، إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ؛ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Sungguh, yang membuat binasa orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena bila ada orang terpandang dari mereka yang mencuri,  mereka membiarkannya saja. Namun bila yang mencuri adalah orang yang lemah, maka mereka pun menegakkan had. Demi Allâh, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, tentulah aku akan memotong tangannya” (HR. Bukhari)

Pernah suatu ketika, beliau membagi harta yang datang dari Yaman kepada beberapa orang. Seorang Arab Badui melihat pembagian tersebut tidak adil, kemudian orang itu mengatakan kepada kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا مُحَمَّدُ، اعْدِلْ، فَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

“Wahai Muhammad! Bersikap adillah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka kamu! Siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?! Sungguh saya akan merugi jika saya tidak berbuat adil.

Kisah menarik yang lainnya ketika beliau menegur Usaid bin Hudhair seorang anshar suatu sedang bercakap-cakap dengan suatu kaum dan dalam percakapan itu terdapat senda gurau, tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menusuk pinggangnya dengan ranting. Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merapatkan shaf para sahabat di Perang Badar, secara tidak sengaja cambuk yang ada di tangan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai perut sahabat Sawad bin Ghoziyyah rodhiallahu ‘anhu, sebab waktu itu beliau sedikit lebih maju dari yang lain.

“Luruskan (shaf) wahai Sawad..!” demikian perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

“Engkau telah menyakitiku ya Rasulullah..” jawab Sawad. “Allah telah mengutus engkau dengan haq, maka perkenankanlah aku untuk meng-qishahmu..!” demikian pinta Sawad kepada Rasulullah untuk mencambuk tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa berfikir panjang, Rasulullah pun mempersilakan sahabatnya itu untuk membalas cambukan tersebut. “Tatkala cambukmu mengenai perutku, tak ada sehelai kainpun yang menghalanginya,” ujar Sawad kembali.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung menyingkap bagian perut beliau untuk dicambuk. Namun apa yang terjadi?. Ternyata Sawad bin Ghoziyyah melepaskan cambuk dari genggamannya dan memeluk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencium perut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar bisa berbuat adil dan tidak sedikit pun menganiaya orang lain. Mari kita mengikuti jejak beliau yang agung agar bisa berbuat adil.

Mamuju, 13 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Seri Ceramah Tarawih 18: Santun, Pemaaf & Lapang Dada Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh: Fajaruddin Djarir, SE Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju Di tengah-tengah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *