Home / Artikel / Seri Ceramah Tarawih 7: Sifat Malu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Seri Ceramah Tarawih 7: Sifat Malu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Oleh:

Habil

Alumni Tadribud Du’at Wahdah Islamiyah

Sifat Malu Rasulullah mencapai puncak yang paling tinggi, siapa pun bisa mengenal sifat beliau. Bahkan orang pertama yang melihat Rasulullah, orang sudah tahu sifat malu Rasulullah karena sifat malu tersebut terbaca di wajah beliau.

Mari kita senantiasa muhasabah, mengintropeksi, mengevaluasi perkembangan amal ibadah kita. Kata ulama kita sikap bijak orang-orang beriman senantiasa melihat perkembangan ibadahnya termasuk perkembangan amal ibadah kita di Bulan Ramadhan.

Di Bulan Ramadhan peluang menjadi kita menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain, memberi buka atau melayani orang berbuka akan memberikan pahala di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Mari jadikan Ramadhan ini menjadi Ramdhan terbaik kita.

Nasehat Ulama kita, bahwa sekiranya ini adalah ramadhan terakhir bagi kita, maka tentu kita akan berusaha selalu memaksimalkan diri dalam beribadah kepada Allah.

Akhlak Rasulullah yang dibahas pada malam hari ini adalah tentang sifat Malu Rasulullah. Bagaimana pemilik akhlak yang agung tidak memiliki sifat malu, sementara sifat ini termasuk keluhuran akhlak yang paling mulia. Bagaimana beliau tidak bersifat demikian sementara malu adalah salah satu cabang keimanan.

Rasa malu adalah akhlak Agama beliau yang paling menonjol, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sifat Malu Rasulullah mencapai puncak yang paling tinggi, siapa pun bisa mengenal sifat beliau. Bahkan orang yang pertama yang melihat Rasulullah, orang sudah tahu sifat malu Rasulullah karena sifat malu tersebut terbaca di wajah beliau.

Disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan yang dipingit di kamarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sifat malu Rasulullah bukanlah sesuatu yang sifatnya insidentil, sifat malu Rasulullah selalu melekat pada diri beliau. Setiap saat, setiap keadaan, setiap tempat dan kepada siapapun ia berinteraksi, semua orang bisa melihat sifat malu tersebut.

Beliau meraih akhlak malu ini dalam potretnya yang paling tinggi dan paling luas, beliau malu kepada Rabbnya, malu kepada umatnya dan malu kepada dirinya sendiri.

  1. Malu kepada RabbNya

Adalah malu yang paling agung dan paling sempurna sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia “(HR. Abu Dawud)“.

Ketika manusia tidak punya rasa malu pada RabbNya, maka ia tidak akan segan melakukan kemaksiatan. Diantara bukti malu beliau, ketika beliau ingin buang hajat, ia baru membuka kainnya jika saat sudah sampai ditempat.

Adapun hakikat malu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagamana beliau menunjukkan bagaimana gambaran malunya seorang hamba kepada RabbNya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malulah kamu kepada Allah.” Mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, kami malu kepada Allah, alhamdulillah.” Beliau bersabda, “Bukan begitu, akan tetapi hakikat malu kepada Allah adalah menjaga kepalamu dan apa yang ada padanya, menjaga perutmu dan apa yang ada padanya, dan mengingat kematian. Barang siapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan ini, ia telah malu kepada Allah secara hakiki (HR At Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib no 1724)”.

Rasa malu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah yang membuat kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri dalam sholat.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau merekah, lalu ‘Aisyah bertanya, ‘Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Lalu beliau menjawab,

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur”

Rasa malu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga sesuatu yang selama ini banyak kita sia-siakan, beliau betul-betul tidak menyiakan waktunya sedikit pun.

  1. Malu kepada ummatnya

Setelah selesai melakukan pernikahan dengan Zaenab binti Jazhi, saat malam tiba, ia mempunyai hak pada istrinya. Namun disaat yang bersamaan masih ada sahabat yang berkunjung di rumah Rasulullah sehingga beliau lebih mementingkan sahabatnya. Karena rasa malu Rasulullah, beliau tdk menegur sahabatnya tersebut. Akhirnya turun ayat tentang adab bertamu, Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar (Q.S Al-Ahzab: 53).

Kisah yang lain, sebuah hadis dari Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ مُضْطَجِعًا فِي بَيتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهَ فَاسْتَأْذَنَ أبَوُ بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ وَسَوَى ثِيَابَهَ – قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ – فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَيْتَ ثِيَابَكَ. فَقَالَ: أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ؟

Sesungguhnya ‘Aisyah berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaring miring di rumahku dalam keadaan tersingkap paha atau betisnya. Tiba-tiba Abu Bakr meminta izin (untuk sebuah keperluan) kepada beliau, Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. Abu Bakr lantas menceritakan (keperluannya).

Lantas ‘Umar meminta izin kepada beliau. Dia diizinkan, dalam keadaan beliau seperti itu. ‘Umar pun menceritakan(keperluannya).

Kemudian ‘Utsman meminta izin kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk lantas merapikan pakaiannya.

Muhammad (bin Abi Harmalah—perawi) berkata, “Aku tidak mengatakan bahwa ini terjadi pada satu hari.”

Kemudian ‘Utsman pun masuk dan menceritakan (keperluannya). Setelah ‘Utsman keluar, ‘Aisyah berkata, “Abu Bakr masuk dan engkau tidak bergerak, tidak peduli dengan keadaanmu. Kemudian ‘Umar datang, engkau juga tidak bergerak dan tidak peduli dengan keadaanmu. Namun, ketika ‘Utsman masuk, engkau segera duduk dan merapikan pakaianmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat pun malu kepadanya? “(HR. Muslim No. 2401)”.

Pada riwayat lain Rasulullah mengatakan, betul karena diantara umatku beliaulah yang paling tinggi rasa malunya, dan saya khwatir karena kondisi saya seperti ini maka ia tidak jadi menyampaikan keinginannya.

  1. Malu kepada dirinya sendiri

Dikisahkan dari salah seorang sahabat ketika mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tenyata beliau mendapati Rasulullah dalam kondisi sujud. Pada saat itu sahabat ini mengatakan, ketika saya mendekat seakan-akan saya mendengar suara gemuruh, ternyata beliau sedang menangis. Seperti inilah gambaran malunya Rasulullah kepada dirinya sendiri.

Mamuju, 7 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh   : Agus Sapto Widodo

Diedit oleh    : Abu Muadz Ashriady

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Apakah Virus Corona Merupakan Tha’un?

Pertanyaan: Apakah virus corona merupakan tha’un dan bagaimana dengan hadits di setiap pintu Madinah terdapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *