Home / Artikel / Seri Ceramah Tarawih 8: Sifat Zuhud Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Seri Ceramah Tarawih 8: Sifat Zuhud Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Drs. Ahmad Yunus

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

Rasulullah Shallallah alaihi wasallam mengatakan: yang menjadikan umat terdahulu umat yang terbaik, terdepan dan berada pada kondisi yang luar biasa karena mereka memiliki sifat zuhud dan yakin. Adapun umat di akhir zaman ini, mereka mengalami kemunduran, kerusakan, kondisi yang kurang baik karena pada diri mereka terdapat penyakit yang disebut dengan sifat kikir dan suka berangan-angan.

Sifat zuhud adalah sifat terpuji yang disukai oleh Allah Subhanahu wata’ala, dimana seseorang yang memiliki sifat ini di dalam kehidupannya lebih mengutamakan kecintaannya kepada Allah, kepada akherat daripada mendahulukan kepentingannya terhadap dunia dan segala isinya.  Orang yang memiliki sifat memiliki keyakinan yang lebih tinggi dengan apa yang ada di tangan Allah daripada keyakinanannya apa yang ada di tangan manusia.

Ibnu Taimiyah mengatakan sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Sifat zuhud ini memiliki tingkatan, ada tiga tingkatan yaitu:

Pertama: Zuhud orang awam. Yaitu zuhud terhadap perkara haram, yakni dengan cara meninggalkannya.

Kedua: Zuhud yang bersifat Sunnah (Mustahabbah). Yaitu zuhud terhadap perkara-perkara makruh dan perkara-perkara mubah yang berlebihan. Maksudnya, perkara mubah yang melebihi kebutuhan, baik makan, minum, pakaian dan semisalnya.

Ketiga: Zuhud terhadap dunia secara umum. Maksudnya bukan mengosongkan tangan menjadi hampa dari dunia, dan bukan pula membuang dunia. Tetapi maksudnya, menjadikan hati kosong secara total dari hal-hal yang serba bersifat duniawi, sehingga hati tidak tergoda oleh dunia. Dunia tidak dibiarkan menempati hatinya, meskipun kekayaan dunia berada di tangannya. Hal ini seperti keadaan para Khulafa’ur Rasyidun dan Umar bin Abdul Aziz. Orang-orang yang zuhudnya menjadi panutan, meskipun kekayaan harta benda ada di tangannya. Begitu pula keadaan manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Ketika dunia ditaklukkan oleh Allah untuk beliau ﷺ, malah menjadikan beliau ﷺ semakin zuhud terhadap dunia.

Pernah suatu malam Rasulullah keluar malam kemudian mendapati sahabatnya, Abu Bakar  dan Umar. Kemudian Rasulullah bertanya kepada kedua sahabatnya, kenapa engkau keluar pada waktu malam seperti ini?. Abu Bakar mengatakan kami keluar ya Rasulullah karena kami lapar, kemudian Rasullullah mengatakan kalau begitu kondisi kita sama.

Mereka merasakan kondisi yang sama yaitu merasakan lapar, sifat zuhud yang dimiliki Rasullullah tidak berbeda dengan yang dimiliki kedua sahabat Rasulullah Shallallah alaihi wasallam tersebut.

Sebuah hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan:

عَنْ أَبِـي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : أَتَىَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ

Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah dan selainnya dengan beberapa sanad yang hasan)

Kalau kita membaca Al-qur’an atau hadist-hadist Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hampir tdak ada penjelasan yang kita dapatkan bagaimana Allah menilai dunia ini dengan penilaian yang besar seperti yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

….Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (Q.S An-Nisa Ayat 77)

Dalam ayat yang lain juga dijelaskan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S. Al-Hadid Ayat 20).

Jika orang tidak memiliki sifat zuhud maka dia akan tenggelam dengan dunianya, dan pada akhirnya dia akan menjadi orang yang dihinakan dengan dunianya. Sementara dia tidak punya waktu untuk berbenah diri dan memperbanyak amalan-amalan kebaikan karena terlalu banyak memikirkan persoalan dunia.

Mamuju, 8 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Apakah Virus Corona Merupakan Tha’un?

Pertanyaan: Apakah virus corona merupakan tha’un dan bagaimana dengan hadits di setiap pintu Madinah terdapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *