Categories
Artikel

Hakikat Kemenangan dalam Islam

Hakikat Kemenangan dalam Islam

Oleh:

Ust. Muhammad Ali, SH

Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah Mamuju

Menang atau sukses adalah sesuatu yang menjadi cita-cita kita semua. Dalam kehidupan, semua manusia menginginkan menjadi menang dan sukses, namun cara pandang yang berbeda tentang makna kemenangan ini.

Kebanyakan manusia menganggap bahwa menang selalu ditujukan dengan pencapaian dunia. Jabatan yang tinggi, gaji banyak, rumah bagus, prestasi sekolah, dan lain-lain. Banyak diantara mereka yang mengejar dunia, namun banyak pula diantara mereka yang mengakhiri kehidupan dengan bunuh diri.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

“Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Dalam Agama kita atau dalam pandangan syariat, kemenangan itu dalam dilihat menjadi tiga:

  1. Al Fauzu faaizun (Minal Aa’idin Wal Faa’iziin)
  2. Al Falah muflihun (panggilan adzan Hayya ‘alal falah)
  3. An Najah (populer di Arab)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya (QS. Ali ‘Imran Ayat 185).

Kemenangan hakiki adalah ketika seseorang dimasukkan ke dalam syurga. Inilah cita-cita tertinggi seorang muslim, adapun kesuksesan yang lain hanyalah wasilah atau sarana. Kemenangan yang diinginkan adalah bukanlah kemenangan semu yang diperoleh dengan cara-cara yang yang salah atau bahkan melanggar syariat Allah Subhanahu Wata’ala.

Terdapat 2 syarat agar kemenangan ini dimiliki oleh seorang muslim, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. An-Nahl Ayat 97).

Jadi syaratnya adalah Iman dan Amal Sholeh.

Ada beberap kiat agar kita dapat menjadi pemenang, yaitu diantaranya:

  1. Memiliki Iman dan aqidah yang benar
  2. Niat yang tulus dan tekad yang kuat
  3. Menuntut ilmu syar’i
  4. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala
  5. Memanfaatkan masa Muda
  6. Birul walidain (berbakti kepada kedua org tua)
  7. Akhlaqul Karimah
  8. Itqan(Profesional) dan mujahadah
  9. Amal jariyah (sedekah, Ilmu yg bermanfaat dan doa anak yg shaleh)
  10. Memperbanyak doa

Mamuju, 12 Syawal 1440 H

Penulis: Agus Sapto Widodo

Editing: Ashriady Abu Muadz

Categories
Artikel

Hatiku Milikmu

Mengapa Aku Memilih Tarbiyah?

Hatiku Milikmu

Cuplikan naskah peserta lomba menulis DPD Wahdah Islamiyah Mamuju 2019

Oleh: A. Ely Herlinawati

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

Wajah mereka sederhana;

Penampilan mereka bersahaja;

Pun sikap mereka apa adanya;

Tapi ada yang bercahaya di sana;

Tapi ada yang memancar daripadanya;

Tapi ada yang melegakan di dalamnya;

Orang-orang yang berada di jalan Nya,

Pada mereka aku belajar mengeja hidup.

—————————————————————————————————————————————

Bila ditanya “Mengapa aku memilih tarbiyah?”, karena aku butuh tarbiyah dan aku butuh berjamaah dalam dakwah. Ya, tarbiyah adalah jalan yang begitu berarti bagiku, jalan dimana aku mengenal dien ini lebih jauh, jalan dimana aku menemukan arti sahabat (baca: ukhuwah) yang sesungguhnya. Tidak ada alasan aku tidak bersyukur atas hidayah dan nikmat islam yang Allah Ta’ala berikan, dimana aku bisa berada di garis dakwah, di tengah banyaknya orang-orang baik yang belum semua Allah Ta’ala panggil hatinya untuk ikut dalam jalan dakwah ini.

Melewati proses panjang pencarian jati diri, hingga aku memutuskan untuk berada dengan jama’ah dakwah dan tarbiyah. Di jalan tarbiyah ini, aku mendapatkan pemahaman Islam yang syamil, yang sesuai dengan syariat, Al Qur’an dan Sunnah. Jalan dimana aku belajar mengeja hidup. Ya, jalan itu adalah Tarbiyah.

Ta’aruf dengan dunia tarbiyah…

Sejak mengenal kajian di SMU, aku mulai sedikit demi sedikit mengenal Islam yang sesungguhnya. Tidak dapat dipungkiri, aku yang jebolan SMP di pesantren, tidak asing lagi dengan kajian-kajian berbagai kitab dari kitab Bulughul Maram, Riyadhusshalihiin, atau kitab yang paling “fenomenal” dan menjadi “momok” bagi kami para santriwati; Aljawaahirul Kalaamiyah kitab kuning karya Syeikh Thahir bin Muhammad Salih Al Jazairiy Rahimahullah, barisan tulisan arab tanpa tanda baca yang harus diterjemahkan dengan penjelasan sintaksis dan variasi ejaan atau yang lebih dikenal dengan Nahwu-Sharaf dalam bahasa arab; tapi entah mengapa, bagiku belum terlalu berbekas di hati, mungkin karena pesantren bukan pilihanku tetapi karena paksaan orang tua yang terlalu sibuk dengan dunia kerja dan memilih pesantren sebagai tempat “penitipan”ku; entahlah, yang jelas pada saat itu aku tidak peduli, kujalani segala rutinitas pesantren dengan apa adanya dan hanya untuk memenuhi harapan orang tua.

Hingga aku mengenal tarbiyah tahun 1995, tepatnya ketika aku memasuki SMU kelas 1. Saat itu saya bersekolah pada salah satu SMU yang rajin melaksanakan kajian islam buat siswa-siswinya. Awalnya aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau “islami”, sangat membosankan pikirku. Merasa aneh juga dengan penampilan mereka; janggut tipis dan celana cingkrang bagi kakak kelas laki-laki dan jilbab besar bagi kakak kelas wanita.

Tetapi ada yang menjadi daya magnet dari komunitas ini; karena mereka begitu bersahaja dengan senyum tulus serta sapaan salam mereka disertai jabatan tangan setiap bertemu sesama mahram; karena begitu menentramkan keyakinan pada Ilahi dalam sikap-sikap ketawadhuan mereka; karena begitu mengesankan ketangguhan mereka dalam menyebarkan dakwah dan amal shaleh. Lambat laun aku menikmati berada dikomunitas ini, komunitas yang mengenalkan nilai-nilai Islam lewat tarbiyah bil hikmah.

Merangkul dalam dekapan ukhuwah yang sarat dengan nilai-nilai Islami, jauh dari sikap kepalsuan dan ada apanya. Jujur akhirnya harus aku akui, aku jatuh cinta pada jalan dakwah komunitas ini; Wahdah Islamiyah, hingga tak terasa tarbiyah menjadi sebuah rutinitas yang selalu aku rindukan. Sekedar duduk bermajelis bertemu saudari seiman dan Murobbiyah yang senantiasa mengisi kekosongan hati dan kekeringan imanku, menjadikan tarbiyah mendarah daging dalam diriku. Dan ini berlangsung hingga aku akhirnya dinyatakan lulus dan melanjutkan kuliah di Kampus Merah, ya,,,kampus yang selalu kuidam-idamkan, karena disanalah, idelisme diriku dan kesibukan hari-hariku bersama dakwah dan saudari ku seiman lebih terasa.

Ujian itu datang

Dan jalan dakwah itu tidaklah mudah, akan ada onak dan duri yang menghalang, karena sejatinya, muara jalan dakwah para pejuang adalah jannah-Nya.

“Dasar ekstrimis, fanatik berlebihan, kampungan…!”, ini adalah bentakan bapak yang entah sudah keberapa kalinya beliau ucapkan ketika mendapatiku berpenampilan seperti ini; jilbab besar dan kaos kaki. Aku hanya bisa diam terpaku dan menangis sebagai simbol atas segala ekspresiku. Sejak bergelut dengan dakwah kampus, aku seperti terhipnotis dalam euphoria dakwah kampus. Hingga aku melupakan dakwah dengan keluarga.

Orang tua yang bertugas di kota yang berbeda provinsi, dan hanya datang beberapa hari dalam beberapa bulan; saudara yang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, membuatku tenggelam dalam dunia ku sendiri. Tanpa kusadari, aku dan keluarga ku berada pada simpang jalan yang berbeda. Jiwa dan darah muda yang menggelora dalam memperjuangkan dakwah ini, membuat seringnya aku dan orangtuaku, terutama bapak, berada sudut pandang yang berbeda dalam memaknai dakwah islam ini.

Pejuang sepanjang masa

Apa yang kuharap

Tak selalu berarti

Lalu apa yang terbaik

Nabi suci bilang

Perang Badar tak sebesar menaklukkan diri sendiri

Memang …                 

Hingga aku harus tersudut,

di pojok terdalam gelap matahari.

Dakwah yang kuusung, rasanya tak berarti tanpa dukungan orangtua. Aku seperti berada pada dimensi dunia lain. Pada hamparan sajadah malam aku mencari; apa yang salah pada jalan dakwah ini?;  pada siapakah cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud; apakah sudah pantas aku bersikap pada orang tuaku selama ini? Padahal mereka adalah perwakilan-Mu langsung ya Rabb. Astaghfirullah…

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orantuamu. Hanyalah kepada Aku kembalimu(Qs. Lukman : 14)

Rasulullah adalah manusia pilihan Allah Ta’ala, Beliau adalah contoh dan teladan seluruh umat manusia. Dalam mendakwahkan dien ini, keluarga adalah basis pertama yang beliau dakwahi hingga mendapat dukungan penuh dalam menyebarkan Islam ini.

Akhirnya aku temui jawabannya; bukan pada jalan dakwah yang salah, tapi lebih kepada ghiroh dan metode aku yang salah dalam berdakwah ke keluarga. Setelah aku menyadari kekeliruanku, aku mulai mengintenskan komunikasi dengan kedua orang tua dan keluarga, mengubah dakwah bukan hanya dengan retorika semata tetapi memperlihatkan kepada mereka dalam wujud aksi yang nyata. Sedikit demi sedikit aku mengajak mereka pada kegiatan-kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah; majelis taklim, tahsin Qira’ah Al Qur’an, dan tabligh akbar.

Mengenalkan kepada kedua orang tua apa itu Wahdah Islamiyah, memperlihatkan kepada mereka bahwa ormas ini bukanlah seperti ormas dengan citra negatif yang selama ini  mereka pahami; tetapi ormas yang keberadaannya sudah dikenal dan eksis diterima dakwahnya di masyarakat dengan berbagai program mereka, diantaranya Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (Lazis); berupa kegiatan-kegiatan membantu dan berbagi kepada sesama muslim, pembagian ifthar di bulan Ramadhan, Tim Penyelenggaraan Jenazah (TPJ), Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA), lembaga pendidikan Islami buat generasi masa depan dalam naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).

Walaupun di awal-awal mereka tidak berminat dan bergeming, tapi itu tidak menyurutkan langkahku; karena aku yakin cinta dan ridha Ilahi Rabbi ini berwujud pada cinta dan ridha mereka. Karena sejatinya pejuang sepanjang masa adalah orang tua kita, mereka adalah perantara dari penciptaan dan kehadiran kita ke dunia ini, maka saat naiflah ketika para aktifis yang menyematkan dirinya sebagai pejuang dakwah tidak berusaha meraih cinta dan ridho dari kedua orangtuanya dalam mengarungi jalan dakwah ini. Bahkan pada keadaan paling berbeda sekalipun. Cari caranya, disitulah ridha Allah Ta’ala tiba pada kita, Insya Allah

۩۩۩۩۩

Hidup adalah proses maka ia hanya akan bermakna dalam arti yang sesungguhnya jika dijalankan tahap-tahapnya. Seperti nasehat Prawoto Mangkusasmito, tokoh politik Islam masa orde lama dalam suratnya kepada anaknya “Perjuangan adalah suatu garis, suatu proses, bukan suatu titik. Yang ada ialah garis mendaki, garis menurun, garis mendatar. Pencapaiannya ialah suatu titik, yang segera akan dilalui, akan lenyap atau tumbuh, tergantung amal pemeliharaannya. Perjuangan adalah usaha penyempurnaan dan pemeliharaan yang tak kunjung putus selama hayat dikandung badan”.

Maka, “jangan pernah lelah berjuang dijalan dakwah ini, karena sejatinya kitalah yang butuh Islam, bukan Islam yang butuh kita”.

۩۩۩۩۩

#Mamuju, 29 Mei 2019 – di Penghujung Ramadhan 1440 H

Untuk akhawatifillah, ummahatifillah, murobbiyah dan asaatidzah ku:

Kalian tak pernah tahu betapa istimewanya kalian bagiku!

Categories
Artikel

Dekapan Ukhuwah Para Murabbiyah

Mengapa Aku Memilih Tarbiyah?

(Dekapan Ukhuwah Para Murabbiyah)

Cuplikan naskah peserta lomba menulis DPD Wahdah Islamiyah Mamuju 2019

Oleh: Irmawati

Dekapan ukhuwah para murabbiyah dan juga para akhwat ummahat yang menjadi alasan untuk memulai tulisan ini, walaupun kesempatan menulis sudah terbuka sejak beberapa bulan yang lalu namun jari jemari ini baru saja tertarik untuk menari di atas keyboard.

Teringat masa itu, mudik lebaran 3 tahun yang lalu, dimana kami memilih untuk mencoba mudik lewat jalur darat, lintas Kabupaten hingga lintas Propinsi. Saya yang dari Sulawesi Barat dan zauji dari Sulawesi Tenggara, berdomisili di Mamuju, dan ketika mudik berangkat dari Sulawesi Barat (Mamuju) menuju Sulawesi Tenggara (Raha).

بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه

Pagi, tepatnya tanggal 2 Juli tahun 2016 mengawali langkah kami untuk melakukan safar. Saya bersama suami dan 3 orang anak beserta 2 orang ikhwah yang menyertai kami sampai Kabupaten Polman dan Palopo. Dengan penuh tawakkal kepada Allah kami pun memulai perjalanan.

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْن

Bismillah…..

Tanpa terasa, satu persatu ikhwah yang menyertai kami sampai di tujuan masing-masing dan tibalah kami di Kota Palopo. Ujian pun mulai terasa, kami yang baru melintasi kota ini masih sangat terasa asing dengan kondisi jalanan atau sekedar mencari tempat untuk istirahat. Dengan menggunakan google map sebagai pendukung untuk mencari arah dan hotel, berjam-jam kami menelusuri jalan demi jalan, akhirnya sekitar jam 11 malam kami sampai di salah satu hotel untuk sekedar merebahkan badan. Melepaskan sedikit lelah dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melanjutkan perjalanan esok harinya, prediksi perjalanan maksimal 3 hari untuk sampai ke tujuan.

Qadarullah… berangkat dari Kota Palopo, tanggal 3 di subuh hari, melewati perbatasan panjang yang menghubungkan Luwu Utara (Sulawesi Selatan) dan Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara). Di tengah teriknya matahari dan dalam kondisi tadabbur alam, menyadari betapa luas ciptaan Allah, betapa kuasaNya yang menciptakan alam ini dengan segala keelokannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemandangan selama perjalanan sungguh indah, melewati gunung dan jurang yang membuat hamparan laut nan luas terlihat sangat menyejukkan mata, kami sempat ingin berhenti sekedar untuk mengambil gambar akan tetapi sepinya jalanan mengurungkan niat untuk berhenti, khawatir kalau-kalau ada yang memanfaatkan sepinya jalanan ini.

Kami terus berlalu hingga sampai pada sebuah tanjakan, dimana di tengah jalanan terdapat sebuah batu. Dalam penglihatanku yang saat itu tidak sedang berpuasa, terlihat jelas sekali kalau batu tersebut cukup besar, tetapi berbeda di mata zauji. Batu itu terlihat kecil dan bisa dilewati, zauji pun tancap gas dan akhirnya terdengar bunyi plok…(tangki bensin kena batu itu). Saya hanya bisa berucap Innalillah dan perjalanan kami dilanjutkan kembali.

Sampai akhirnya mendapati jalanan yang lumayan rata dan rasa penasaran untuk berhenti pun muncul. Mata ini langsung mengarah pada meteran bensin, saya mengucapkan Innalillah yang kedua kalinya, bensin yang terisi penuh sebelum meninggalkan kota, kini….. sontak zauji panik. “Ummi… tangki bensin bocor”, dia sudah mulai berkaca-kaca. Seketika Allah menurunkan ketenangan kepadaku untuk tidak menambah rumit masalah. Tetap dalam do’a, begitu kataku sambil menoleh ke belakang, memandangi anak-anak yang tertidur pulas.

Ya Allah, tolonglah kami, tidak ada yang mampu menolong kami kecuali Engkau. Waktu berlalu, hampir sejam kami berhenti dan belum ada solusi. Tetap dalam do’a, tetap dalam do’a, tawakkal kepada Allah sebagaimana tawakkal diawal perjalanan, yakin bahwa ini adalah bagian dari rencana Allah.

Belum muncul ide menghubungi orang lain kecuali ikhwah teman sekampung zauji yang juga berangkat via darat namun berangkat duluan beberapa jam dari kami. Sama sekali tidak ada dipikiran kami untuk menyampaikan kondisi ini kepada keluarga kecuali yang bisa dipercaya, takut membuat mereka merasa khawatir.

Stock perasaan tenang pun mulai mengikis, mengingat waktu tetap berlalu dan kami masih di kondisi yang sama dan stock bensin juga yang semakin menipis. Diputuskan untuk memulai kembali perjalanan dengan kondisi bensin yang terus mengalir. Sambil berdo’a, mencoba menyampaikan kondisi ini di salah satu grup whatsapp dimana grup itu dihuni para murabbiyah, akhwat wa ummahat. Tangisan pecah saat perhatian mereka tertuju kepada kami, tidak henti-hentinya handpone berbunyi pertanda WA masuk di grup tersebut. Dengan segala arahan, do’a dan pertanyaan “dimana mi?, bagaimana kondisinya?”. Hal itulah yang membuat kami merasa kuat. Jazaakumullahu khairan.

Dari arah depan ada mobil open cup yang sedang melaju, kami berhenti dan berusaha minta bantuan. Alhamdulillah mereka pun berhenti, sepertinya mereka sering melewati jalanan ini. Beberapa pemuda yang menumpangi mobil tersebut dengan berbekal peralatan mandi, mencoba memberikan solusi dengn menempelkan sabun mandi batang di area tangki bensin mobil kami yang bocor.

Dan dari arah belakang sebuah mobil sedan juga hendak melewati kami, tapi karena melihat kami butuh bantuan, sepasang suami istri yang berada dalam mobil tersebut juga berhenti. Kehadiran dari 3 mobil ini dengan penumpangnya masing-masing cukup mengurangi kondisi rasa seram dan sepinya jalanan ini.

Alhamdulillah, setelah menempelkan sabun pada tangki, aliran bensinpun berubah menjadi rembesan saja meski kami tetap khawatir karena pada meteran bensin tersisa satu strip. Para pemberi bantuan menyarankan untuk segera melanjutkan perjalanan, khawatir jangan sampai bensin habis sebelum dapat perkampungan. Perjalanan kami lanjutkan dengan kawalan do’a dan perhatian dari para murobbiyah, akhwat wa ummahat.

Menurut informasi, jarak tempuh untuk sampai perkampungan di Kolaka Utara sekitar 40 Km lagi. Bensin yang tersisa satu strip dan hari pun menjelang sore. Cuaca masih terasa panas dan salah seorang dari anak kami sedang muntah di jok belakang (mabok karena AC mobil tidak on lagi). Hanya bisa berkata sabar nak, tanpa bisa mengurusinya karena di pangkuan juga ada anak yang baru berumur satu tahun yang butuh ditenangkan. Sambil menenangkan zauji agar tetap fokus menyetir.

Tangis dalam hati dan tetap minta do’a dari penghuni grup WA. Salah satu murabbiyah yang membimbingku di awal tarbiyah memberi pesan, “berdo’alah dengan bertawassul dengan amalan-amalan shaleh yang pernah dilakukan sebagaimana para pemuda-pemudah kahfi”. Tidak ada amalan yang bisa kuingat kecuali niat yang ingin membahagiakan keluarga zauji dengan kedatangan kami, dimana mudik ini adalah yang pertama kali sejak bapak mertua saya berpulang.

Dan yang masih terasa hangat diingatan adalah indahnya kebersamaan bersama muslimah-muslimah tangguh dalam kegiatan tebar ifthor di beberapa tempat di Mamuju sebelum mudik. Ada harapan besar dalam hati kami sekiranya Allah memberikan pertolongan kepada kami, bisa kembali sampai ke Mamuju lagi, berkumpul dengan keluarga, berkumpul kembali dengan para muslimah tangguh itu, kembali berada dalam halaqah tarbiyah dan majelis-majelis ilmu syar’i lainnya. Menjadi salah satu bagian dalam barisan para pejuang-pejuang dakwah sebagaimana para murabbiyah kami.

Kekuatan hati, rasa tenang, bahkan kami merasakan keajaiban, bensin yang tetap bertahan sampai mendapati bengkel itu adalah salah satu keajaiban yang Allah Azza Wajalla berikan dalam perjalanan kami. Semua atas do’a-do’a yang melangit di kejauhan sana, yang Allah perkenankan. Tidak sedikit kami membayangkan ketika Allah sang pemilik kuasa menginginkan sesuatu yang buruk dalam perjalanan ini. Bensin yang bocor di tengah teriknya matahari, hanya dengan sedikit percikan api saja kami bisa celaka, namun Allah masih menghendaki kebaikan buat kami.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Meskipun kisah perjalanan ini masih panjang karena masih harus diuji dengan antrian di pelabuhan fery yang membuat kami harus bermalam lagi ke-3 kalinya dalam perjalanan. Satu malam di Palopo, satu malam di Kolaka Utara, dan malam ke tiga ini di pelabuhan, baru sampai di tujuan di hari ke empat perjalanan.

Kisah ini cukup mengajarkan kami banyak hal, merasakan buah dari tarbiyah yang membentuk diri kami. Dari keadaan yang jahiliyah sampai bisa memahami dan merasakan arti kata sabar, tawakkal serta solidaritas yang tinggi dan ikatan ukhuwah yang begitu kuàt dari para murabbiyah, akhwat dan ummahat baik pada saat dekat maupun jauh, menjadi salah satu diantara sekian alasan “mengapa saya memilih tarbiyah”.

Dan diakhir tulisan ini terucap do’a dan harapan semoga diistiqomahkan dalam tarbiyah dan tetap semangat dalam mengemban amanah-amanah dakwah. Aamiin ….

Mamuju 16 Ramadhan 1440 H

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 18: Santun, Pemaaf & Lapang Dada Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Fajaruddin Djarir, SE

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju

Di tengah-tengah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang terjadi kecemburuan antara satu dengan yang lain, menyatukan istri-istri beliau bukanlah perkara yang mudah. Beristri lebih dari satu memang butuh pengorganisasian yang baik, bahkan dalam riwayat dijelaskan bagaimana istri-istri nabi terkadang membentuk kubu-kubu, ada kubu Aisya, ada kubu Zainab dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang suami yang bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan yang berarti.

Banyak sekali bagian-bagian dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan sifat kesantunan, pemaaf dan lapang dada beliau. Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman mengakui kelembutan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali ‘Imran Ayat 159).

Kelembutan dan sikap santun adalah sifat yang disifatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang paling sempurna akhlaknya dalam masalah ini, dalam kelapangan dada, dalam pemberian maaf, dalam kesantunan sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan beliau. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. Al-A’raf Ayat 199).

Allah juga menyebutkan tentang perkara ini adalah bagian dari sifat ‘Ibadurrahman, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik(QS. Al Furqon Ayat 63).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menghiasi diri beliau dengan sifat ini. Hal ini nampak jelas ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah kepada orang-orang Quraisy, meluruskan aqidah mereka, mencegah mereka dari melakukan kesyirikan, orang-orang Quraisy melakukan hal-hal yang buruk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tukang sihir, orang gila, menyiksa sahabat-sahabat beliau bahkan sampai berusaha membunuh Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan Anas bin Malik dalam sebuah urusan, akan tetapi Anas bin Malik ini tidak melakukannya. Kemudian dia berhenti di kerumunan anak-anak, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang dibelakangnya, pada waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak marah kepadanya melainkan memanggil Anas bin Malik dengan panggilan yang baik. Rasulullah mengatakan “Wahai Unais, apakah engkau telah pergi melakukan pekerjaan yang saya perintahkan?”.

Pada seorang anak-anak, beliau begitu lembut menegur untuk sesuatu yang belum dilakukan. Anas bin Malik pernah berkata, demi Allah saya telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 9 tahun lamanya tetapi saya tidak pernah mendengar dari beliau mengatakan kepada saya tentang apa yang saya tidak lakukan. Beliau tidak pernah bertanya kepadaku kenapa kamu tidak melakukan?, bahkan untuk bertanya seperti itu pun Rasulullah tidak melakukannya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ خَادِمٍ بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ فَضَرَبَتْ بِيَدِهَا ، فَكَسَرَتِ الْقَصْعَةَ ، فَضَمَّهَا ، وَجَعَلَ فِيهَا الطَّعَامَ وَقَالَ « كُلُوا » . وَحَبَسَ الرَّسُولَ وَالْقَصْعَةَ حَتَّى فَرَغُوا ، فَدَفَعَ الْقَصْعَةَ الصَّحِيحَةَ وَحَبَسَ الْمَكْسُورَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah berada di sebagian istrinya (yaitu ‘Aisyah). Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin yaitu Zainab binti Jahsy) mengutus pembantunya untuk mengantarkan piring berisi makanan. Lantas ketika itu ‘Aisyah memukul piring tersebut. Piring tersebut akhirnya pecah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengumpulkan bagian yang pecah tersebut. Kemudian beliau meletakkan makanan di atasnya, lalu beliau perintahkan, “Ayo makanlah kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan piring tersebut hingga selesai. Piring yang bagus diserahkan beliau, lantas piring yang pecah ditahan” (HR. Bukhari No. 2481).

Dalam kisah lain, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa khazirah (sejenis masakan daging dicampur dengan tepung) yang sudah aku masak untuk beliau. Aku katakan kepada Saudah yang berada di sebelah Nabi, “Ayo makan.” Namun Saudah enggan memakannya. Karena itu, aku katakan, “Engkau harus makan atau makanan ini aku oleskan ke wajahmu”.

Mendengar hal tersebut Saudah tetap tidak bergeming, maka aku ambil makanan tersebut dengan tanganku lalu aku oleskan pada wajahnya. ”Hal ini menyebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa lalu menyodorkan makanan tersebut kepada Saudah seraya mengatakan, “Balaslah olesi juga wajahnya.” Akhirnya Nabi pun tertawa melihat wajah Aisyah yang juga dilumuri makanan tersebut sehingga hal ini seperti permainan.

Di tengah-tengah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang terjadi kecemburuan antara satu dengan yang lain, menyatukan istri-istri beliau bukanlah perkara yang mudah. Beristri lebih dari satu memang butuh pengorganisasian yang baik, bahkan dalam riwayat dijelaskan bagaimana istri-istri nabi terkadang membentuk kubu-kubu, ada kubu Aisya, ada kubu Zainab dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang suami yang bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa menimbulkan permasalahan yang berarti.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Serombongan orang Yahudi meminta ijin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum’, ‘Aisyah menjawab,

بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ

“Kematian atas kalian (juga) dan laknat”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur ‘Aisyah dengan mengatakan,

يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu suka dengan lemah lembut dalam segala urusan”. ‘Aisyah mengatakan, “Tidakkah Engkau mendengar ucapan mereka?”. Rasulullah menjawab,

قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

“Sungguh aku telah menjawab ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim No. 2165)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang santun, pemaaf dan memiliki kelapangan dada yang sangat tinggi dengan siapa saja beliau betinteraksi. Maka Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam Ayat 4).

 

Mamuju, 18 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

 

 

 

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 17: Canda dan Tawa Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Ziljian Adet Jibrann

Mahasiswa STIBA Makassar

Rasulullah selalu menampakkan senyumnya dihadapan sahabat-sahabat beliau. Ketika beliau tertawa, maka beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, tertawa secukupnya. Ketika  beliau tertawa tidak pernah kelihatan bagian dalam lidahnya.

Canda dan tawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencerminkan sosok teladan sepanjang masa, uswatun hasanah bagi kita semua. Nabi adalah seseorang yang sangat murah senyum, sebagaimana Jabir bi Abdullah berkata, Rasulullah tidak pernah melihatku kecuali dia senyum kepadaku.

Rasulullah selalu menampakkan senyumnya dihadapan sahabat-sahabat beliau. Ketika beliau tertawa, maka beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, tertawa secukupnya. Ketika  beliau tertawa tidak pernah kelihatan bagian dalam lidahnya.

Canda dan tawa menjadi penting untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena begitu banyak diantara manusia ketika bercanda berlebihan atau mengolok-olok Allah Subhanahu Wata’ala. Padahal mengolok-olok Allah Subhanahu Wata’ala, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah sebuah ancaman yang besar. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS. At-Taubah: 65-66).

Bercanda dengan membawa nama-nama Allah, membawa ayat-ayatNya, membawa nama Rasulullah maka ancamannya adalah sifat kekafiran. Maka dari itu, kita harus memperhatikan perkara ini ketika bercanda.

Kisah tentang candaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah diantaranya, dari Al Hasan, ada seorang sepuh datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Seorang nenek tua pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku dalam surga.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua”. Nenek tua itu pun pergi sambil menangis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36) عُرُبًا أَتْرَابًا (37) لِّأَصْحَابِ الْيَمِينِ

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya(QS. Al Waqi’ah: 35-37). (HR. Tirmidzi dalam Asy Syamail Muhammadiyah no. 205, hadits hasan menurut Syaikh Al Albani. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 2987).

Artinya, memang yang masuk surga tidak ada yang tua. Karena semua ketika itu kembali muda.

Bentuk canda yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa bersama sahabatnya. Ketika itu dihidangkan kurma diatas piring dan masing-masing ada bagiannya. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu setelah selesai memakan kurmanya, beliau meletakkan batu kurmanya di piring Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu kemudian Ali berkata kepada Rasulullah, Ya Rasulullah sebegitu laparnyakah engkau sehingga di piringmu begitu banyak biji batu kurma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian tersenyum, kemudian menunjuk piring milik Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu yang begitu bersih, kemudian Rasulullah mengatakan, siapa sebenarnya yang lebih lapar.

Inilah bentuk canda dan tawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak pernah membawa nama Allah Subhanahu Wata’ala dan ayat-ayatNya ketika bercanda. Rasulullah selalu bersikap jujur dengan candaan beliau, beliau mengatakan sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan kecuali yang benar.

Canda dan tawa Rasulullah adalah sebuah kemuliaan, maka dari itu janganlah kita bercanda dengan membawa Agama ini dalam candaan kita, janganlah kita bercanda sehingga menyakiti hati saudara-saudara kita sesama muslim.

 

Mamuju, 17 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 16: Keberanian dan Kekuatan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Oleh:

Habil

Alumni Tadribud Du’at Wahdah Islamiyah

Di medan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk sosok yang mengagumkan dalam keberanian dan keteguhan dengan memperlihatkan kondisi musuh yang berlarian saat berhadapan dengan beliau, tidak hanya sekali terjadi. Sementara beliau tetap teguh di tempatnya layaknya gunung yang menjulang tinggi, kokoh di tempatnya. Tidak bergeming, melangkah maju, tidak mundur, dan tidak goyah.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam adalah orang paling berani dan paling teguh hatinya. Tidak ada makhluk selain dia yang menandinginya dalam hal keteguhan nyali dan kekuatan hati. Beliau adalah pemberani satu-satunya, sifat-sifat keberanian yang terkumpul pada dirinya, tabiat-tabiat, keteguhan dan kekuatan yang menyatu pada diri beliau dengan sempurna.

Keberanian beliau tidak hanya di medan jihad atau perang semata, tetapi keberanian ini telah didahului dengan keberanian diplomasi yaitu diplomasi dihadapan pembesar-pembesar Quraisy sejak beliau berhijrah. Sebelum Allah menjaganya dengan derajat kenabian. Sebagaimanana hal ini terlihat dengan keberanian beliau dalam menjalankan kebenaran, tidak takut celaan, memperlihatkan kebencian yang sangat pada tuhan-tuhan kaumnya yang palsu.

Ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat beliau dengan derajat kenabian, beliau langsung menyuarakan kalimat tauhid denga hati yang teguh, keberanian yang tidak ada tandingannya dan menyatakan kebodohan tuhan-tuhan mereka dan para penyembahnya. Tidak peduli terhadap perlawanan dan rencana mereka terhadap dirinya.

Keberadaan beliau dalam medan perang sudah terpampang sejak kuku beliau mulai tumbuh, umurnya baru berkisar 15 tahun. Rasulullah ikut berperang dengan pamannya, ikut membalas panah yang diarahkan kepada pamannya. Beliau juga melemparkan panah kepada musuh-musuh pada saat itu.

Setelah beliau diangkat menjadi Nabi, Allah memberikan izin untuk beperang. Di medan perang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk sosok yang mengagumkan dalam keberanian dan keteguhan dengan memperlihatkan kondisi musuh yang berlarian saat berhadapan dengan beliau, tidak hanya sekali terjadi. Sementara beliau tetap teguh di tempatnya layaknya gunung yang menjulang tinggi, kokoh di tempatnya. Tidak bergeming, melangkah maju, tidak mundur, dan tidak goyah.

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya untuk mati syahid membuatnya tidak gentar dengan musuh di medan perang, dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa,

Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum muslimin, sungguh selamanya aku tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti setiap kavaleri di jalam Allah. Namun saya tidak mampu untuk menanggung biaya mereka, sedangkan mereka juga tidak memiliki kelapangan, padahal mereka merasa kecewa jika tidak ikut berperang bersamaku. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya ingin sekali berperang fi sabilillah, kemudian saya terbunuh, lalu saya berperang lagi lalu saya terbunuh, setelah itu saya berperang lagi dan terbunuh” (HR. Al-Bukhari no. 2797 dan Muslim no. 1876)

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ

“Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid)” (HR. Al-Bukhari no. 2817 dan Muslim no. 1877)

Dalam perang badar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin langsung pasukan, beliau mengarungi ombak kematian, wajah beliau terluka, gigi serinya patah, 70 orang sahabat terbunuh pada saat itu. Jika melihat perbandingan jumlah pasukan Rasulullah dengan pasukan musuh tidak berimbang akan tetapi nyali Rasulullah dan para sahabatnya tidak ciut sedikit pun berkat tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya.

Ketika Islam berperang, urusan kemenangan adalah soal kedua di mata kaum muslimin. Mereka tidak takut dengan ancaman dan intimidasi, tidak goyah dengan peristiwa-peristiwa besar. Semunya diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bertawakkal kepada-nya, merasa cukup dengan pertolongan-Nya dan yakin kepada-Nya.

Kekuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Bertarung

Kehebatan Ali tak terkalahkan, tidak ada pasukan Muslim yang mampu mengalahkannya dalam duel. Bahkan sampai 10 pasukan Muslim semuanya kalah saat menjalani latihan duel satu lawan satu dengan Ali.

Hal itu membuat Ali sedikit tinggi hati dan sampai berkata apakah ada yang lain yang bisa mengalahkanku?. Perkataanya tentu terdengar oleh Rasulullah. Kemudian Nabi Muhammad berkata: “Ali nanti sore pergilah ke belakang bukit itu, nanti di sana ada orang yang akan menantang kamu berduel.” Ali pun menjawab siap dengan perasaan percaya diri bisa mengalahkan orang tersebut. Ketika sore hari tiba, Ali langsung pergi ke belakang bukit itu. Di sana ia bertemu dengan seorang pria yang wajahnya ditutupi oleh sorban.

Dikisahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berduel dengan Ali bin Abi Thalib. Pria tersebut mengatakan kepada Ali apakah ia sudah siap berduel? Ali pun menjawab iya. Kemudian mereka pun berduel. Di putaran pertama, hebatnya pria misterius tersebut bisa menjatuhkan Ali dalam satu kali pukulan. Ali pun sampai terkejut dengan kemampuan pria tersebut. Kemudian ia menantang kembali pria itu untuk berduel. Hingga sampai 10 kali berduel, Ali bisa dikalahkan dengan mudah oleh pria itu tanpa diberi kesempatan menang sekalipun.

Ali pun menyerah dan mengaku kalah. Kemudian ia bertanya kepada pria itu, siapakah engkau sebenarnya? Lalu pria itu membuka sorban yang menutupi wajahnya. Alangkah terkejutnya Ali melihat wajah pria itu. Dia adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari kisah ini  kita bisa tahu seberapa hebat Nabi Muhammad saat bertarung. Ali yang tak terkalahkan, bisa dikalahkan dengan mudah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata, Nabi Muhammad tak hanya dikenal sebagai sosok yang mulia dalam akhlaknya, beliau adalah panglima perang terkuat, pandai dalam berdagang, cerdas dalam mengambil keputusan, dan bahkan terkenal dengan pola hidupnya yang sehat.

Ibnu Ishaq mengatakan, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku: Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthallib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling kuat. Suatu hari ia bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu kampung Mekah (sebelum hijrah).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Wahai Rukanah, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima dakwahku?. Rukanah menjawab: Seandainya aku mengetahui apa yang engkau serukan itu adalah kebenaran, pasti aku akan mengikutimu. Rasulullah menimpali: Bagaimana kiranya kukalahkan engkau dalam gulat. Apakah engkau akan meyakini kebenaran perkataanku?. Rukanah menjawab: Iya. Rasulullah berseru: Ayo berdiri. Akan kukalahkan engkau.”

Abu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Rukanah pun menyambut tantangan itu. Keduanya pun duel gulat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyergapnya dan berhasil menjatuhkannya. Rukanah pun tak berdaya. Penasaran dengan kekalahannya, Rukanah berkata: ‘Kita ulangi wahai Muhammad’. Keduanya pun kembali bergulat. Rukanah kembali berkata: ‘Wahai Muhammad, luar biasa, kau berhasil mengalahkanku!’

 

Mamuju, 16 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 15: Kedermawanan & Kemurahan Hati Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:
Irwanto AR, S.IP
Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah Mamuju

Berbicara tentang kedermawanan dan kemurahan hati, maka tidak ada contoh yang terbaik selain beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah orang yang paling dermawan, manusia yang paling suci, paling mulia pergaulannya, bahkan kedermawanan beliau digambarkan sebagai angin yang berhembus, bagaimana cepatnya angin berhembus maka secepat itu pula kedermawanan beliau.

Di Bulan Ramadhan, akhlak utama dan mulia yang beliau tampakkan khususnya tentang kedermawanan ini maka lebih besar lagi pelajaran yang bisa kita ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saksi kedermawan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kita bisa mendapatkan kabar dari sahabat-sahabat beliau bahkan dari musuh-musuh beliau sekalipun.

Ketika perang hunain, kemurahan hati Rasulullah digambarkan setelah terjadi peperangan dan beliau memegang ganimah, maka dikatakan beliau adalah orang yang paling agung, dicintai karena kebaikan yang melekat pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Salah seorang sahabat, Anas Bin Malik berkata Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik, orang yang paling dermawan, dan orang yang paling berani. Ibnu umar mengatakan aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih teguh hatinya, lebih murah hatinya, lebih berani hatinya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dimintai sesuatu lalu kemudian beliau mengatakan tidak ada, selalu mengatakan iya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan sesuatu kemudian ada orang yang meminta kepadanya, Rasulullah spontan memberikannya.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata :

جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِبُرْدَةٍ… قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَسَجْتُ هَذِهِ بِيَدِي أَكْسُوكَهَا، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، فَخَرَجَ إِلَيْنَا وَإِنَّهَا إِزَارُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اكْسُنِيهَا. فَقَالَ: «نَعَمْ». فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المَجْلِسِ، ثُمَّ رَجَعَ، فَطَوَاهَا ثُمَّ أَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ القَوْمُ: مَا أَحْسَنْتَ، سَأَلْتَهَا إِيَّاهُ، لَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّهُ لاَ يَرُدُّ سَائِلًا، فَقَالَ الرَّجُلُ: وَاللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِتَكُونَ كَفَنِي يَوْمَ أَمُوتُ، قَالَ سَهْلٌ: فَكَانَتْ كَفَنَهُ

“Datang seorang wanita membawa sebuah burdah… lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menenun kain burdah ini dengan tanganku agar engkau memakainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengambil kain burdah tersebut dalam kondisi memang membutuhkannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami dengan menggunakan kain burdah tersebut sebagai sarung beliau. Maka ada seorang lelaki –diantara kaum yang hadir- berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah sarung itu kepadaku untuk aku pakai !”. Nabi berkata, “Iya“. Maka Nabi pun duduk di suatu tempat lalu kembali, lalu melipat kain burdah tersebut lalu ia kirimkan kepada orang yang meminta tadi. Maka orang-orangpun berkata kepadanya, “Bagus sikapmu…, engkau meminta kain tersebut kepada Nabi, padahal kau sudah tahu bahwa Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya?”. Maka orang itu berkata, “Demi Allah, aku tidaklah meminta kain tersebut kecuali agar kain tersebut menjadi kain kafanku jika aku meninggal”. Sahl berkata, “Maka kain tersebut akhirnya menjadi kafan orang itu” (HR Al-Bukhari no 2093).

Hadits ini menunjukkan bahwa sikap Nabi yang tidak pernah menolak orang yang meminta darinya jika ia punya, merupakan perkara yang telah diketahui oleh para sahabat.

Kemudian kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat ketika ada seorang Arab Badui, pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan bersama sahabatnya, seseorang menarik selendang beliau dari belakang, digambarkan leher Rasulullah merah. Orang ini datang dengan akhlak yang buruk untuk meminta harta kepada Rasulullah tetapi Rasulullah tersenyum lalu memberikan apa yang diminta orang tersebut.

Jadi kisah ini menunjukkan bentuk keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana bentuk ketawadhuan beliau, bentuk kesabaran beliau sekaligus bentuk kedermawanan beliau.

Kisah yang lain adalah digambarkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, Rasulullah adalah orang yang dermawan, beliau lebih dermawan lagi ketika memasuki Bulan Ramadhan. Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

 كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أجْوَدَ النَّاسِ ،

وَكَانَ أجْوَدَ مَا يَكُونُ في رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْريلُ ، وَكَانَ جِبْريلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ، حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبرِيلُ أجْوَدُ بالخَيْرِ مِن الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan sampai akhir bulan. Datanglah Jibril dan beliau membacakan kepadanya Al Qur’an dan ketika Jibril menjumpai beliau maka beliau bersikap lebih dermawan dengan kebaikan dibanding angin yang berhembus” (HR. Al Bukhari).

Maka dari itu, mari kita jadikan Bulan Ramadhan ini sebagai sarana untuk melatih diri kita dengan akhlak-akhlak mulia seperti ini yaitu menjadi pribadi yang dermawan dan tidak meletakkan dunia ini di dalam hati-hati kita.

Mamuju, 15 Ramadhan 1440 H
Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 14: Kesetiaan & Penjagaan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam terhadap Perjanjian

Oleh:

Kasman Gani

Ketua Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Mamuju

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang senantiasa memenuhi hak-hak dari istri-istri beliau. Penjagaan beliau terhadap cinta dan janjinya merupakan kisah kesetiaan suami kepada istri yang paling agung dan paling indah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling memenuhi janjinya, paling menjaga janjinya dan paling jujur di bidang ini. Bahkan musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dikisahkan bahwa suatu ketika tatkala Abu Sufyan belum masuk Islam beliau menghadap Raja Romawi yaitu Kaisar Heraclius. Heraclius ini mendapat surat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memeluk Agama Allah Subhanahu Wata’ala, untuk melaksanakan sholat, menunaikan zakat.

Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan, bagaimana pendapatmu tentang Nabi Muhammad, orang yang berani mengirimkan surat kepadaku dan mengajakku masuk Islam. Abu Sufyan mengatakan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang jujur, orang yang tidak pernah mengingkari janjinya, orang yang senantiasa melakukan ketaatan. Heraclius pun mengatakan, betul-betul beliau adalah nabi utusan Allah Subhanahu Wata’ala.

Kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau adalah orang yang paling amanah, orang yang paling jujur tatkala beliau berjanji, Rasulullah selalu memenuhi janjinya. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, bagaimanakah pendapat kalian tentang aku diutus oleh Allah Subahanhu wata’ala, apakah aku telah menyampaikannya semua, maka para sahabat mengatakan iya, semua yang disampaikan oleh Rasulullah adalah apa yang diutus Allah Subhanahu Wata’ala.

Allah Subhanahu Wata’ala mempersaksikan dalam Al-qur’an, bagaimana Rasulullah diberikan amanah oleh Allah, beliau senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (Q.S Al-Maidah: 3).

Itu persaksian Allah Subhanahu Wata’ala atas amanah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, apakah aku sudah meyampaikan amanah yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala, maka para sahabat berkata, iya. Rasulullah memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai saksi, Ya Allah saksikanlah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang senantiasa memenuhi hak-hak dari istri-istri beliau. Penjagaan beliau terhadap cinta dan janjinya merupakan kisah kesetiaan suami kepada istri yang paling agung dan paling indah.

Dari Aisyah Radiallahu ‘anha beliu berkata, aku tidak pernah cemburu pada seorang istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti aku cemburu kepada Khadijah, aku tidak sempat melihat beliau akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sering menyebut namanya, terkadang beliau menyembelih domba kemudian beliau memotong-motongnya kemudian mengirimnya kepada kawan-kawan Khadijah. Aku pernah berkata kepadanya, “seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, dia adalah (seorang utama), dan dia adalah (seorang baik), dan aku mempunyai anak darinya.

Kisah kesetiaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memenuhi kerabat-kerabat beliau, keluarga-keluarga beliau, mencapai puncak kesempurnaan akhlak Rasulullah, orang-orang yang senantiasa selalu memusuhi beliau padahal keluarga Rasulullah sendiri, bagaimana bakti Rasulullah kepada mereka.

Kisah kesetiaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memenuhi hak-hak Pamannya, Abu Thalib yang telah mendidiknya sejak kecil sampai beliau dewasa setelah kakeknya, Abdul Muthalib wafat. Ketika Abu Thalib menghadapi kematian, tergeraklah persaan setia pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu orang-orang yang setia, maka beliau berusaha keras untuk memberinya manfaat dan menyelamatkannya dari api neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pamannya berkenan masuk Islam, beliau memohon kepadanya,

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

“Paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Sebuah kalimat yang nanti akan kubela engkau di hadapan Allah”.

Namun para pemuka kekufuran terus menghalang-halangi Abu Thalib sehingga akhirnya di wafat di atas Agama leluhurnya. Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci Agama Abdul Muththalib?” Keduanya terus merayu Abu Thalib sehingga kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abu Thalib adalah, “di atas Agama Abdul Muththalib”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih karena itu, kesetiaan beliau yang besar untuk memenuhi hak-haknya terus menguasai diri beliau, sehingga beliau pun berkata, “Aku akan memohon ampunkan untukmu selama aku tidak dilarang”.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam (QS. At-Taubah Ayat 113).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menorehkan banyak sikap kesetiaan dalam memenuhi perjanjian dengan orang-orang musyrikin dan orang-orang yahudi. Diantaranya adalah kesetiaan beliau terhadap syarat-syarat perjanjian damai Hudaibiyah, yaitu syarat-syarat yang membuat marah banyak orang dari sahabat beliau.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menenangkan hatinya, beliau membuka pintu harapan dan optimisme serta kepercayaan kepada Allah baginya, beliau menjelaskan bahwa diantara akhlak kenabian dan Islam adalah memenuhi perjanjian, tidak ada penghianatan.

 

Mamuju, 14 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

 

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 13: Keadilan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Muhammad Ali, SH

Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah Mamuju

Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Adil berasal dari bahas Arab yaitu Al-‘Adl, ada beberapa contoh tentang kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana beliau berperilaku adil. Perilaku adil beliau luar biasa bukan hanya kepada kaum muslimin bahkan kepada orang-orang di luar Islam, hal ini sebagaimana perintah Agama kita,

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8).

Sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan wahyu, ketika orang-orang quraisy melakukan pembangunan/renovasi ka’bah, mereka berseteru siapa yang akan mengangkat hajar aswad ke tempatnya. Semua kabilah merasa terhormat jika mereka yang mengangkat sehingga tidak ada yang disepakati dan sampai kemudian sepakat bahwa siapa yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram maka dialah yang akan ditunjuk menjadi hakim.

Datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliaulah ditunjuk menjadi hakim. Saat beliau memutuskan perkara tersebut, tidak ada satupun diantara mereka yang tidak ridho dengan keputusan tersebut.

Diantara kisah keadilan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dalam hal menegakkan hukum. Ketika ada seorang wanita mencuri, dari bani Mahzum, suku terpandang dari Quraisy, kemudian informasi ini sampai pada Rasulullah dan beliau menetapkan untuk memotong tangannya.

Orang-orang Quraisy berusaha mencari orang yang bisa memberikan safaat karena ini kehinaan bagi mereka, seorang wanita terhormat di kalangan Quraisy yang akan dipotong tangannya. Maka mereka menemui Usamah bin Zaid, sahabat yang dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk melobi Rasulullah. Hal ini membuat Rasulullah menjadi marah, kemudian beliau mengatakan,

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ

Apakah engkau hendak memintakan syafaat (agar hukum had dibatalkan) dalam hal hukum had Allâh?

Lalu keesokan harinya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau memuji Allâh Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya, lalu bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا، إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ؛ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Sungguh, yang membuat binasa orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena bila ada orang terpandang dari mereka yang mencuri,  mereka membiarkannya saja. Namun bila yang mencuri adalah orang yang lemah, maka mereka pun menegakkan had. Demi Allâh, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, tentulah aku akan memotong tangannya” (HR. Bukhari)

Pernah suatu ketika, beliau membagi harta yang datang dari Yaman kepada beberapa orang. Seorang Arab Badui melihat pembagian tersebut tidak adil, kemudian orang itu mengatakan kepada kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا مُحَمَّدُ، اعْدِلْ، فَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

“Wahai Muhammad! Bersikap adillah!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka kamu! Siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?! Sungguh saya akan merugi jika saya tidak berbuat adil.

Kisah menarik yang lainnya ketika beliau menegur Usaid bin Hudhair seorang anshar suatu sedang bercakap-cakap dengan suatu kaum dan dalam percakapan itu terdapat senda gurau, tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menusuk pinggangnya dengan ranting. Maka Usaid berkata “Aku meminta balasan yang setara darimu”. Nabi berkata “balaslah”, ia berkata “sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakainya”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bajunya, maka ia memeluk dan mencium bagian antara pusat dan pertengahan punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia berkata “sesungguhnya inilah yang aku inginkan, wahai Rasulullah”.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merapatkan shaf para sahabat di Perang Badar, secara tidak sengaja cambuk yang ada di tangan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai perut sahabat Sawad bin Ghoziyyah rodhiallahu ‘anhu, sebab waktu itu beliau sedikit lebih maju dari yang lain.

“Luruskan (shaf) wahai Sawad..!” demikian perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

“Engkau telah menyakitiku ya Rasulullah..” jawab Sawad. “Allah telah mengutus engkau dengan haq, maka perkenankanlah aku untuk meng-qishahmu..!” demikian pinta Sawad kepada Rasulullah untuk mencambuk tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa berfikir panjang, Rasulullah pun mempersilakan sahabatnya itu untuk membalas cambukan tersebut. “Tatkala cambukmu mengenai perutku, tak ada sehelai kainpun yang menghalanginya,” ujar Sawad kembali.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung menyingkap bagian perut beliau untuk dicambuk. Namun apa yang terjadi?. Ternyata Sawad bin Ghoziyyah melepaskan cambuk dari genggamannya dan memeluk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencium perut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar bisa berbuat adil dan tidak sedikit pun menganiaya orang lain. Mari kita mengikuti jejak beliau yang agung agar bisa berbuat adil.

Mamuju, 13 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady

Categories
Artikel

Seri Ceramah Tarawih 12: Amanah Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam

Oleh:

Fajaruddin Djarir, SE

Wakil Ketua Wahdah Islamiyah Mamuju

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Amanah itu bermakna pembenaran dan ketenangan hati, diantara nama-nama Allah Subahanahu Wata’ala yang mulia adalah Al-Mu’min yaitu memberikan rasa keamanan kepada hamba-hambaNya sebagaimana Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ﴿ ٣ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴿ ٤

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (Q.S Quraisy: 3-4).

Amanah ini adalah pada dasarnya akhlak yang mengumpulkan banyak kebaikan, orang bisa amanah karena ada kejujuran. Maka kejujuran adalah salah satu unsur yang membangun akhlak amanah. Begitu halnya dengan sifat adil, orang tidak bisa amanah kalau tidak adil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mendapatkan amanah menyampaikan risalah Agama ini, maka yang paling amanah dari seluruh manusia adalah Rasulullah karena Allah yang memilihnya. Kata Allah Subhanahu Wata’ala:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya…(Q.S Al-Qasas: 68)

Diantara pilihan Allah Subhanahu Wata’ala adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah Agamanya. Sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, beliau dipersuamikan oleh Khadijah, diantara wanita yang paling mulia. Yang menjadikan Khadijah tertarik dengan Rasulullah diantaranya adalah sifat amanah beliau.

Suatu ketika Rasulullah diutus Khadijah untuk membawa barang dagangannya dari Syam dan pendamping Rasulullah yang membawa barang-barang dagangan tersebut, Maisaroh menceritakan bagaimana keterpercayaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau begitu terpercaya menjaga harta, menjaga barang-barang tersebut, inilah yang membuat Khadijah radhiyallahu ‘anha tertarik kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang-orang Quraisy terdahulu bahkan sudah mempercayakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi rasul, bahkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin artinya yang terpercaya. Ketika kita sudah menyerahkan urusan kepadanya atau memberikan amanah kepadanya, kita sudah merasa tenang bahwa urusan itu pasti akan diselesaikan.

Sebenarnya kita manusia ini adalah orang-orang mengemban amanah dalam kehidupan kita, maka kita harus memiliki sifat amanah itu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S Al-Ahzab: 72)

Seluruh kehidupan kita adalah amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala maka dari itu kita harus menjaganya untuk kita berjalan di atas syariat Allah Subhanahu Wata’ala turunkan kepada kita.

Ketika ka’bah direnovasi oleh banyak kabilah-kabilah Arab pada waktu itu, mereka berdebat, bertengkar, sulit memutuskan kabilah mana yang berhak meletakkan kembali hajar aswad ke tempatnya. Karena tidak ada keputusan maka mereka sepakat memilih hakim untuk memutuskan hal tersebut. Hal ini terjadi sebelum kenabian, sebelum turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang pertama kali terlihat datang adalah Rasulullah, kemudian mereka sepakat menujuk Al-Amin yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu menunjukkah bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dipercaya. Bahkan saat Rasulullallah dibenci oleh mereka tetapi dalam menjaga barang-barang berharga mereka masih mempercayakan kepada nabi. Ketika beliau diintimidasi, diboikot bahkan diancam untuk dibunuh, Nabi masih berusaha menyelesaikan semua amanahnya, bahkan kepada orang yang mau membunuhnya atau orang yang memboikotnya.

Rasulullah mengajurkan kepada kita untuk selalu bersikap amanah, sebagaimana dalam sabda beliau,

لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ، وَلاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya” (HR. Ahmad).

Sebagaimna tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga yaitu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Al-Bukhari).

Ada beberapa ancaman kepada orang-orang yang tidak berlaku amanah, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk mempimpin lalu ia menyembunyikan satu jarum atau lebih, maka pada hari Kiamat nanti ia akan datang membawanya”(HR. Muslim).

Amanah ini adalah sifat yang sangat mulia, hal ini tergambar ketika Nabi Musa Alayhissalam, beliau membantu 2 orang wanita untuk memberi minum ternaknya,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. Al-Qasas: 26).

Perkara amanah itu adalah sebuah kehormatan sebenarnya, jadi orang yang tidak bisa menepati amanah walaupun perkara-perkara yang kecil maka sesungguhnya dia telah menghancurkan kehormatannya dihadapan orang yang memberikan amanah. Dan yang paling penting adalah amanah kita dihadapan Allah Subhanahu Wata’ala, atas nikmat yang Allah berikan, atas amanah pembebanan syariat Agama ini.

Mari kita ikuti penghulu kita Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wasallam dalam urusan ini. Bagaimana menjalankan amanah dalam kehidupan kita, menegakkan Agama Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada masyarakat di sekeliling kita.

Mamuju, 12 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Abu Muadz Ashriady