Home / Artikel / Kutemukan Cinta dalam Tarbiyah

Kutemukan Cinta dalam Tarbiyah

Oleh:

Ustadz Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

 “Mungkin ada mantan mutarobbi. Tapi tak ada mantan murobbi. Tarbiyah adalah kisah cinta, yang mengantar kita ke ufuk dakwah. Setelah itu, hidup tak pernah sama lagi” (Salim A. Fillah).

Ungkapan diatas membuktikan bahwa aku mantan mutarobbi, tetapi tidak akan pernah melupakan jasa Murobbi yang telah mengantarku ke ufuk dakwah. Tahun 2000 adalah awal segalanya, ketika pertama kali kuinjakkan kaki di Kota Daeng, demikian orang menyebut kota metropolitan Makassar. Kuberanikan diri merantau jauh dari orang tercinta demi meraih cita-cita. Aku yang dibesarkan di Desa, hanya berbekal nekat melangkah ke arah yang akan mendekatkanku pada Zat yang Maha dekat.

Berawal Dari Kampus Idaman

Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar memikat hatiku sejak selebaran brosurnya melekat di tangan. Ajakannya yang sejuk, tidak muluk-muluk, lebih menunjukkan ke arah mana generasi akan dibimbing.

Hari-hari di Asrama pun mulai aku lalui dengan Indah. Meskipun pada awalnya hatiku bergolak, berharap lebih dari kenyataan yang ada. Harapanku akan mendapatkan fasilitas mewah, serba ada, lengkap dengan sarana-prasarana. Ternyata kampus idamanku tidak seperti yang dibayangkan. Untunglah senior-seniorku sering menemani setiap kali rasa jenuh itu membuncah. Syukurlah, senior sekaligus sahabatku setia menemani dengan nasehatnya:  “Kelak antum akan merasakan sesuatu yang berbeda di kampus ini. Sulit dibahasakan, jalani saja terus, segalanya akan indah pada waktunya”. Sapanya menyemangatiku.

Seiring dengan semakin banyaknya orang yang aku kenal. Rasa jenuh itu mulai memudar dan berganti dengan keceriaan.  Maklumlah mahasiswanya dari Sabang sampai Merauke. Semua suku ada, tetapi keragaman itulah ternyata diantara keunikan berguru di kampus ala pesantren ini.

Perbedaan tidak menyebakan kami saling menjauhi. Persaudaraan yang kental semakin terasa seiring dengan bimbingan Ustad-Ustad yang meleburkan kami dalam berbagai kreasi aktifitas. Rasa cinta, saling menyayangi berbalut ukhuwah tak ternilai, mulai merasuki jiwa-jiwa kami sehingga yang nampak adalah kebersamaan dengan rasa berat untuk dipisahkan.

Bertengkar, tawuran, demonstrasi, hingga pembakaran kampus, tidak aku temukan di sini. Kritik dan saran kepada Dosen selaku Ustadz dan Murobbi kami sampaikan dengan penuh hormat dan  penghargaan.  Padahal 6 tahun bukan waktu yang singkat, namun aku lalui begitu cepat dengan penuh persaudaraan.

Kutemukan Cinta Tertinggi

Setiap orang memiliki pujaan hati. Tiap kali menemukan sesuatu yang menarik, maka hal itu bisa mencuri perhatiannya, hingga berujung dengan pemujaan. Kecintaan pada materi mengantarkan pada upaya meraihnya tanpa lelah. Kecintaan pada mahluk melahirkan pemujuaan. Kecintaan pada Ilmu melahirkkan upaya mendatangi majelisnya. Kecintan pada Zat Yang Maha Kuasa melahirkan pengagungan dan ibadah.

Untuk meraih kecintaan, dibutuhkan pengorbanan, tantangan menjadi tidak berarti, keterbatasan melahirkan kreatifitas demi meraihnya. Sebagaimana pepatah mengatakan: “Lautan kan  kuseberangi, gunungpun kan kudaki”.

Demikianlah ketika benih-benih cinta telah berkecambah dalam sanubari empunya. Di dalam Al- Qur’an digambarkan adanya orang-orang yang memalingkan kecintaanya:

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَنۡدَادًا یُّحِبُّوۡنَہُمۡ کَحُبِّ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰہِ ؕوَ لَوۡ یَرَی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اِذۡ یَرَوۡنَ الۡعَذَابَ ۙ اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعَذَابِ

 “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”  (QS. Al-Baqarah: 165-166)

Semua orang memiliki rasa cinta, berhak dengan perasaanya. Itulah sebabnya ada yang melampiaskanya pada hal-hal yang tidak benar. Kecintaan pada harta benda, pangkat dan jabatan, kecintaan pada anak dan Istri, harta, tahta serta wanita.  Namun ini adalah kecintaan yang akan berakhir dengan berakhirnya kehidupan. Adapun kecintaan yang hakiki maka ia akan kekal. Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan akhir kecintaan kepada dunia pada Al Qur’an surah Abasa ayat 32 – 42 Sebagai berikut :

مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ (٣٢ (فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (٣٣) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (٣٧) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ (٣٨) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ (٣٩) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (٤٠) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (٤١) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (٤٢)

“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya  dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan, mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka”.

Tarbiyah Mengajarkan Cinta  

Hari-hari penuh indah begitu cepat berlalu. Hingga aku hampir lupa, dari mana rasa cinta ini bermula ?. Kecintaan terhadap majelis ilmu, keinginan senantiasa bersama dengan ustadz, tidak ingin berpisah dengan sahabat seperjuangan. Serta  kecintaan kepada syariat Allah dan Rasul-Nya hingga suatu waktu akhirnya kutemukan jawaban itu.  Kegiatan pekanan bernama tarbiyah itulah yang telah mengenalkanku pada kecintaan yang hakiki. Kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan pada ilmu syar’i. Hingga mengalahkan kecintaanku pada materi dan keinginan pulang yang seakan bergelimang kelalaian.

Kami yang menuntut ilmu di kampus ini, setiap hari berkutat dengan pelajaran di kelas, tuntutan akademik yang tidak ringan. Tapi untuk membumikan keilmuan itu, kami diwajibkan mengikuti khalaqah-khalaqah tarbiyah. Tidak satupun diantara kami melainkan pasti memiliki kelompok tarbiyah dengan bimbingan dari seorang Murobbi.

Ilmu yang dipelajari bukan sekedar untuk menumpuknya dalam catatan. Perbedaan khilafiyah dikalangan ulama dibutuhkan kelapangan dada dalam menyikapinya. Berguru dengan seorang Ustadz bukan untuk ta’assub dan fanatik buta padanya. Proses berguru yang panjang, ditandai dengan deretan gelar akademik, tapi bukan untuk disombongkan. Amanah ini menuntut pengamalan dan aplikasi penuh ketawaduan. Demikianlah seperangkat program yang dirancang dalam pertemuan pekanan dengan mengarahkan dan membina mutarobbi setahap demi setahap hingga mencapai derajat kesempurnaan.

Murobbiku Teladanku

Ustadz sekaligus murobbiku tidak miskin metode dalam mendekati Mutarobbinya. Metodenya yang unik, pantaslah jikalau sebagian besar Ustadz kami adalah muridnya dalam tarbiyah. Kami tidak hanya terfokus pada satu tempat belajar. Duduk melingkar di rumput hijau terkadang  menjadi pilihan di waktu sore menjelang maghrib. Bermajelis di bawah pohon area kampus menjadi pilihan di waktu pagi. Semangatnya, keluasan ilmu, dan keteladanannya itulah yang telah meruntuhkan benteng hatiku. Diriku yang dahulu kurang tertarik dengan pola belajar melingkar ini, akhirnya berubah. Perhatiannya terhadap amalan harianku mengantarkanku pada kebiasaan. Aku pun terus melakoni tarbiyah hingga kini, bahkan telah menjadi pelaku dalam mentarbiyah. Murobbiku memang Is The Best, telah mengantarkanku mencintai ilmu dan sebagai pangkal segala kebaikanku.

Kini belasan tahun lamanya aku meninggalkan Ma’had, tempat  menimba Ilmu.  Tarbiyah tetap aku lakoni sebagai aktifitas utama. Rasa syukur tak terhingga kupersembahkan semata kepada Allah Subhanahu wata’ala, zat yang maha mengatur. Sembari berdoa, semoga semua Ustadz sekaligus Murobbiku dari yang pertama hingga kini dan seterusnya serta semua sahabat seperjuanganku yang dengannya aku mengenal tarbiyah, dan selanjutnya mengalirkan benih-benih cinta yang hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya bisa tetap istiqamah. Semoga kelak kami dipertemukan dan disatukan dalam Surga-Nya. Amin

Wallahu A’lam Bishawab.

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Apakah Virus Corona Merupakan Tha’un?

Pertanyaan: Apakah virus corona merupakan tha’un dan bagaimana dengan hadits di setiap pintu Madinah terdapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *