Categories
Berita

Wakil Ketua DPW Wahdah Sulbar Berpesan PATRIOT FC Kedepankan Ukhuwah

Beliau berharap para pemain mengedepankan nilai-nilai ukhuwah dalam bermain, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan bahwa seorang muslim itu adalah muslim dimana muslim yang lain selamat dari tangannya dan selamat dari lisannya. Jangan hanya karena ingin menang akhirnya mengabaikan keselamatan saudara muslim kita. Hal yang paling penting menurut beliau adalah terjaganya ukhuwah atau persaudaraan.

Mamuju – (24/02/19) Dalam rangkaian rutinitas salah satu program Tarbiyah Jazadiyah di Wahdah Islamiyah Mamuju, Patriot FC akan selalu berusaha berbenah diri. Club Futsal yang baru berumur 12 hari ini mulai diminati oleh kalangan pemuda di bumi manakarra ini.

Member Patriot FC yang senantiasa bertambah setiap pekannya menuntut manajemen tim untuk senantiasa melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik.

Sesuai tujuan awal pembentukan lembaga ini sebagai salah satu wasilah dakwah, maka muatan-muatan Islami tetap dikedepankan. Mengedepankan nilai-nilai ukhuwah dan menjaga adab-adab dalam bermain telah menjadi perhatian awal yang difokuskan manajemen tim.

Bapak Alimuddin Pasokori sebagai ketua senantiasa berharap agar setiap member memperhatikan ada-adab dalam bermain. Diantaranya terkait dengan tata cara berpakaian, dimana celana harus menutupi lutut dan larangan minum dengan tangan kiri atau sambil berdiri.

Selain itu, setiap pekan diupayakan ada penguatan yang sampaikan oleh salah seorang Ustadz tentang pentingnya menjaga ukhuwah. Terutama terkait dengan interaksi pemain saat bermain di dalam lapangan.

Ustadz Muhammad Yamin, SH., MAP yang turut bermain kali ini, saat rehat jam pertama diminta dari pihak manajemen untuk memberikan penguatan kepada para pemain.

Beliau berharap para pemain mengedepankan nilai-nilai ukhuwah dalam bermain, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan bahwa seorang muslim itu adalah muslim dimana muslim yang lain selamat dari tangannya dan selamat dari lisannya. Jangan hanya karena ingin menang akhirnya mengabaikan keselamatan saudara muslim kita. Hal yang paling penting menurut beliau adalah terjaganya ukhuwah atau persaudaraan.

Wakil Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulbar ini menambahkan bahwa jika kita telah berada dalam suatu wadah Patriot, berati kita telah menghimpun ukhuwah dan persaudaraan kita dalam sebuah wadah bernama Patriot ini.

Maka dari itu perlu ada formulir keanggotaan yang diisi bagi calon member dalam rangka bertaaruf, saling mengenal satu sama lain. Termasuk mencari tahu jika ada member yang beberapa pekan tidak datang serta berusaha mengunjungi jika ada yang sakit pungkasnya (Abu Muadz_Humas WI Mamuju).

Categories
Berita

Berantas Buta Aksara Al-Qur’an, Lazis Wahdah Mamuju Salurkan Buku Paket Dirosa

Mamuju – Berangkat dari niat bersama memberantas buta aksara Al-Quran, Tim Lazis Wahdah Mamuju menyalurkan buku paket dirosa kepada sejumlah masyarakat binaan DPC Wahdah Islamiyah Kalukku.

Penyaluran buku paket ini bagian dari program sosial wahdah islamiyah. Program ini dimaksudkan untuk membantu warga yang ingin belajar baca Al-Quran, khususnya mereka yang berada di daerah pelosok desa.

Ketua Lazis Wahdah Mamuju, Bakri mengharapkan bantuan berupa buku paket ini agar bisa dimanfaatkan oleh binaan yang ada di Kecamatan Kalukku. Adapun proses pembelajaran dipusatkan di Masjid Multazam Wahdah Islamiyah Kalukku.

Lanjut Bakri, Dirosa adalah metode pembelajaran Al-Quran khusus orang dewasa dengan sistem klasikal 20 kali pertemuan sudah bisa baca Qur’an. “Dirosa ini salah satu metode di Wahdah Islamiyah, hanya 20 kali pertemuan Insya Allah sudah bisa baca Al Quran dengan baik, lancar dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid”. Tutur Bakri.

Selain konsen dalam memfasilitasi kader Wahdah Islamiyah yang menuntut ilmu agama, Lazis Wahdah Mamuju juga aktif melakukan aksi sosial. Aksi sosial yang dimaksud berupa penggalangan dana untuk korban bencana, santunan dhuafa, program pemberdayaan ekonomi mikro dan progran rutin tebar buka puasa dan sembako setiap bulan ramadhan.

Meski demikian Bakri mengaku, program tersebut masih terbatas disebabkan karena kondisi kas Lazis Wahdah Mamuju sendiri masih minim. Olehnya itu, ia berharap dukungan ummat khususnya kader dan simpatisan Wahdah Islamiyah Mamuju agar penyaluran zakat dan infak serta shadaqahnya melalui Lazis Wahdah Mamuju pungkasnya (Ali Akbar_Humas WI Mamuju).

Categories
Berita

Lazis Wahdah Mamuju, Salurkan Bantuan untuk Bunga

Mamuju – Sebagai salah satu lembaga amil zakat, infaq dan shadaqah, Tim Lazis Wahdah Mamuju kembali menyalurkan santunan untuk meringankan beban keluarga bunga (24/02/19).

Bunga adalah bayi yatim, ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Bayi mungil bunga yang sakit terpaksa dilarikan ke RSUD Mamuju baru-baru ini. Kondisi keluarga yang serba terbatas sehingga kesulitan memenuhi keperluannya terutama kebutuhan susu bayi ini.

Sebagai bentuk kepedulian Lazis Wahdah Mamuju menyalurkan bantuan untuk meringankan beban keluarga bunga memenuhi asupan gizi dan keperluan perlengkapan bayi.

Selain santunan dari Lazis Wahdah Mamuju, juga terdapat sejumlah donasi berupa popok bayi, susu, dan perlengkapan lainnya. Donasi ini disalurkan oleh ummat secara langsung setelah melihat postingan penggalangan dana oleh Lazis Wahdah Mamuju di media sosial.

Ketua Lazis Wahdah Mamuju Bakri, S.Kep mengatakan, donasi yang dihimpun dari kader dan simpatisan Wahdah Mamuju telah disalurkan, namun ia juga berharap adanya donatur tetap yang bisa memperhatikan kondisi bayi tersebut utamanya pemenuhan asupan gizi untuk jangka panjang.

Olehnya itu, Lazis Wahdah Mamuju tetap membuka kesempatan bagi ummat muslim yang ingin berdonasi atau mengantarkan langsung donasinya kepada keluarga bunga (Ali Akbar-Humas_WI Mamuju)

Categories
Berita

Melalui Program Tarbiyah Jazadiyah, Wahdah Mamuju Launching Patriot FC

Mamuju – Wahdah Islamiyah Mamuju memberikan kesempatan kepada kader-kadernya untuk berpartisipasi dalam Program Tarbiyah Jazadiyah. Senin (11/02/2019) diadakan kegiatan launching sebuah program kepemudaan di bidang olahraga yang diberi nama PATRIOT (Patri Olahraga & Tarbiyah). Kegiatan launching ini bertempat di warkop hitam putih, Jln Husni Thamrin Mamuju.

Program PATRIOT ini berupa permainan futsal yang melibatkan para kader Wahdah Mamuju. Program ini bertujuan selain untuk kesehatan juga sebagai sarana silaturahmi para kader dari berbagai khalaqah tarbiyah yang selama ini jarang berkumpul kecuali dalam momen-momen kegiatan besar lembaga.

Selain itu, program ini untuk menfasilitasi penyaluran bakat dan potensi kader-kader muda di bidang olahraga. Kegiatan launching ini bermaksud melegalkan komunitas PATRIOT FC sebagai salah satu club futsal resmi. Dengan hal tersebut, ke depan Club ini bisa ikut serta dalam disetiap perhelatan kejuaraan futsal.

Ketua terpilih, Alimuddin Pasokori merasa senang dengan kehadiran beberapa pemuda dalam kegiatan launching kali ini. Beliau berharap bisa membesarkan nama PATRIOT FC, sesuai dengan makna logo yang beliau paparkan bahwa ada potensi terpendam dengan melihat lajur arah bola yang berwarna kuning emas.

Bapak yang lebih akrab disapa Abu Jibrann ini juga menerangkan makna logo tangan berjabat dalam posisi vertikal yang bermakna ukhuwah, tolong menolong dan saling menguatkan. Itu yang diharapkan dari klub ini, paparnya.

Sementara itu, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Mamuju Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I yang diundang mengikuti kegiatan ini mengatakan bahwa melalui komunitas PATRIOT ini diharapkan menjadi wadah untuk mendeteksi potensi dan keterampilan kader di bidang olahraga. Ia juga menjelaskan kegiatan ini bagian dari wasilah dakwah untuk menebar kebaikan kepada sesama.

Menurut Amiruddin, kegiatan dakwah tidak selamanya harus di Masjid tetapi di semua momen bisa kita manfaatkan untuk dakwah Islamiyah.

“Semua momen bisa kita manfaatkan sebagai wadah dakwah islamiyah, apalagi sehat ini penting juga untuk da’i dalam menjalani aktivitas dakwahnya”. Jelas Amiruddin.

Beliau mengutip hadist dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan”.

Hal ini menunjukkan pentingnya kita senantiasa berolahraga agar sehat dan kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri hanya dua kali sakit semasa hidupnya, bukti bahwa sehat itu penting”. Ungkap Amiruddin.

Meski demikian, Amiruddin mengakui segala wasilah dakwah yang dilakukan tidak ada gunanya jika hanya menjauhkan kita dari keridhaan Allah. Kita harapkan melalui klub olahraga futsal ini semakin memperkuat nilai-nilai ukhuwah islamiyah dan persaudaraan serta ketakwaan kepada Allah. (Humas DPD WI Mamuju: Ali Akbar)

Categories
Berita

Sisihkan 13 Tim, SD IT Wildan Juara I Prisma’19 di Rayon Mamuju

MAMUJU, wahdahmamuju.or.id – Sebuah event yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mengundang peserta dari tingkat SD/Sederajat, SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat di seluruh Indonesia. Kegiatan ini berupa lomba matematika nasional yang diberi nama Proyeksi Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Matematika Tahun 2019 (Prisma’19).

Prisma kali ini mengangkat tema “Eksistensi Generasi Unggul di Era Revolusi Industri 4.0”. Kegiatan ini telah berlangsung mulai tanggal 13 januari 2019 sampai 16 Februari 2019 di rayon-rayon yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana. Untuk rayon Mamuju diikuti oleh 14 tim yang berasal dari Sekolah-Sekolah Dasar yang ada di Kabupaten Mamuju.

SD IT Wildan Mamuju meraih juara I setelah menyisihkan 13 tim lainnya yang ikut bersaing dalam event kali ini. Sekolah Dasar Islam Terpadu yang beralamat di jalan Musa Karim ini mengutus 3 tim. Masing-masing tim beranggotakan 2 anak, tim 1 (akram Afif dan Dzakira Ananta), tim 2 (Muhammad Fauzan dan Muhammad Aflah) dan tim 3 (Faiza Anindiya dan Rifa Rahmah Wahyu).

Kepala Sekolah SD IT Wildan Mamuju, Rahmat Sophyan, S.Pd (03/02/2019) mengatakan bahwa kegiatan lomba matematika ini merupakan kegiatan pertama yang diikuti sekolahnya tapi Alhamdulillah mendapatkan juara.

“Alhamdulillah dengan izin Allah, semua kontingen kita masuk 10 besar. Salah satu tim yaitu tim 1 dari kelas 6 beranggotakan ananda Akram Afif dan Dzakira Ananta bisa meraih juara I untuk rayon mamuju. Meskipun persiapan yang sangat minim, hanya 3 hari melakukan pembinaan tapi kita tetap optimis untuk mendapatkan juara dalam lomba ini. Ujar alumni Unsulbar ini.

Selain itu, Rahmat berharap semoga pada tahap selanjutnya di tingkat nasional, kita kembali meraih hasil terbaik. Tentu doa dan dukungan dari semua pihak sangat kami butuhkan, terlebih lagi kita belum memiliki pengalaman yang cukup dalam ajang lomba seperti ini.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Wahdah Isamiyah (YPWI) Mamuju, Irwanto S.IP saat dikonfirmasi redaksi wahdahmamuju.or.id turut mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang telah dicapai. Tak lupa menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengajar atas keberhasilan anak didiknya dalam lomba kali ini.

“Kami sangat bersyukur atas prestasinya, dan berharap agar murid-murid yang lain bisa mengikuti jejak Akram Afif dan Dzakirah Ananta dalam mengukir prestasi lainnya. Terkhusus untuk ananda Akram Afif dan Dzakirah Ananta agar tidak cepat berbangga diri dan merasa puas atas capaian saat ini. Teruslah belajar dan memacu diri, semoga bisa mengulang kesuksesan untuk event yang lebih besar pada tingkat nasional di Makassar pada tanggal 23 Februari nanti pungkasnya. (Humas_WI Mamuju: Abu Muadz)

Categories
Artikel

Kutemukan Cinta dalam Tarbiyah

Oleh:

Ustadz Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I

 “Mungkin ada mantan mutarobbi. Tapi tak ada mantan murobbi. Tarbiyah adalah kisah cinta, yang mengantar kita ke ufuk dakwah. Setelah itu, hidup tak pernah sama lagi” (Salim A. Fillah).

Ungkapan diatas membuktikan bahwa aku mantan mutarobbi, tetapi tidak akan pernah melupakan jasa Murobbi yang telah mengantarku ke ufuk dakwah. Tahun 2000 adalah awal segalanya, ketika pertama kali kuinjakkan kaki di Kota Daeng, demikian orang menyebut kota metropolitan Makassar. Kuberanikan diri merantau jauh dari orang tercinta demi meraih cita-cita. Aku yang dibesarkan di Desa, hanya berbekal nekat melangkah ke arah yang akan mendekatkanku pada Zat yang Maha dekat.

Berawal Dari Kampus Idaman

Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar memikat hatiku sejak selebaran brosurnya melekat di tangan. Ajakannya yang sejuk, tidak muluk-muluk, lebih menunjukkan ke arah mana generasi akan dibimbing.

Hari-hari di Asrama pun mulai aku lalui dengan Indah. Meskipun pada awalnya hatiku bergolak, berharap lebih dari kenyataan yang ada. Harapanku akan mendapatkan fasilitas mewah, serba ada, lengkap dengan sarana-prasarana. Ternyata kampus idamanku tidak seperti yang dibayangkan. Untunglah senior-seniorku sering menemani setiap kali rasa jenuh itu membuncah. Syukurlah, senior sekaligus sahabatku setia menemani dengan nasehatnya:  “Kelak antum akan merasakan sesuatu yang berbeda di kampus ini. Sulit dibahasakan, jalani saja terus, segalanya akan indah pada waktunya”. Sapanya menyemangatiku.

Seiring dengan semakin banyaknya orang yang aku kenal. Rasa jenuh itu mulai memudar dan berganti dengan keceriaan.  Maklumlah mahasiswanya dari Sabang sampai Merauke. Semua suku ada, tetapi keragaman itulah ternyata diantara keunikan berguru di kampus ala pesantren ini.

Perbedaan tidak menyebakan kami saling menjauhi. Persaudaraan yang kental semakin terasa seiring dengan bimbingan Ustad-Ustad yang meleburkan kami dalam berbagai kreasi aktifitas. Rasa cinta, saling menyayangi berbalut ukhuwah tak ternilai, mulai merasuki jiwa-jiwa kami sehingga yang nampak adalah kebersamaan dengan rasa berat untuk dipisahkan.

Bertengkar, tawuran, demonstrasi, hingga pembakaran kampus, tidak aku temukan di sini. Kritik dan saran kepada Dosen selaku Ustadz dan Murobbi kami sampaikan dengan penuh hormat dan  penghargaan.  Padahal 6 tahun bukan waktu yang singkat, namun aku lalui begitu cepat dengan penuh persaudaraan.

Kutemukan Cinta Tertinggi

Setiap orang memiliki pujaan hati. Tiap kali menemukan sesuatu yang menarik, maka hal itu bisa mencuri perhatiannya, hingga berujung dengan pemujaan. Kecintaan pada materi mengantarkan pada upaya meraihnya tanpa lelah. Kecintaan pada mahluk melahirkan pemujuaan. Kecintaan pada Ilmu melahirkkan upaya mendatangi majelisnya. Kecintan pada Zat Yang Maha Kuasa melahirkan pengagungan dan ibadah.

Untuk meraih kecintaan, dibutuhkan pengorbanan, tantangan menjadi tidak berarti, keterbatasan melahirkan kreatifitas demi meraihnya. Sebagaimana pepatah mengatakan: “Lautan kan  kuseberangi, gunungpun kan kudaki”.

Demikianlah ketika benih-benih cinta telah berkecambah dalam sanubari empunya. Di dalam Al- Qur’an digambarkan adanya orang-orang yang memalingkan kecintaanya:

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَنۡدَادًا یُّحِبُّوۡنَہُمۡ کَحُبِّ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰہِ ؕوَ لَوۡ یَرَی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡۤا اِذۡ یَرَوۡنَ الۡعَذَابَ ۙ اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعَذَابِ

 “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”  (QS. Al-Baqarah: 165-166)

Semua orang memiliki rasa cinta, berhak dengan perasaanya. Itulah sebabnya ada yang melampiaskanya pada hal-hal yang tidak benar. Kecintaan pada harta benda, pangkat dan jabatan, kecintaan pada anak dan Istri, harta, tahta serta wanita.  Namun ini adalah kecintaan yang akan berakhir dengan berakhirnya kehidupan. Adapun kecintaan yang hakiki maka ia akan kekal. Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan akhir kecintaan kepada dunia pada Al Qur’an surah Abasa ayat 32 – 42 Sebagai berikut :

مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ (٣٢ (فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (٣٣) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (٣٤) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (٣٥) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (٣٦) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (٣٧) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ (٣٨) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ (٣٩) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (٤٠) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (٤١) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (٤٢)

“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya  dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan, mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka”.

Tarbiyah Mengajarkan Cinta  

Hari-hari penuh indah begitu cepat berlalu. Hingga aku hampir lupa, dari mana rasa cinta ini bermula ?. Kecintaan terhadap majelis ilmu, keinginan senantiasa bersama dengan ustadz, tidak ingin berpisah dengan sahabat seperjuangan. Serta  kecintaan kepada syariat Allah dan Rasul-Nya hingga suatu waktu akhirnya kutemukan jawaban itu.  Kegiatan pekanan bernama tarbiyah itulah yang telah mengenalkanku pada kecintaan yang hakiki. Kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya, kecintaan pada ilmu syar’i. Hingga mengalahkan kecintaanku pada materi dan keinginan pulang yang seakan bergelimang kelalaian.

Kami yang menuntut ilmu di kampus ini, setiap hari berkutat dengan pelajaran di kelas, tuntutan akademik yang tidak ringan. Tapi untuk membumikan keilmuan itu, kami diwajibkan mengikuti khalaqah-khalaqah tarbiyah. Tidak satupun diantara kami melainkan pasti memiliki kelompok tarbiyah dengan bimbingan dari seorang Murobbi.

Ilmu yang dipelajari bukan sekedar untuk menumpuknya dalam catatan. Perbedaan khilafiyah dikalangan ulama dibutuhkan kelapangan dada dalam menyikapinya. Berguru dengan seorang Ustadz bukan untuk ta’assub dan fanatik buta padanya. Proses berguru yang panjang, ditandai dengan deretan gelar akademik, tapi bukan untuk disombongkan. Amanah ini menuntut pengamalan dan aplikasi penuh ketawaduan. Demikianlah seperangkat program yang dirancang dalam pertemuan pekanan dengan mengarahkan dan membina mutarobbi setahap demi setahap hingga mencapai derajat kesempurnaan.

Murobbiku Teladanku

Ustadz sekaligus murobbiku tidak miskin metode dalam mendekati Mutarobbinya. Metodenya yang unik, pantaslah jikalau sebagian besar Ustadz kami adalah muridnya dalam tarbiyah. Kami tidak hanya terfokus pada satu tempat belajar. Duduk melingkar di rumput hijau terkadang  menjadi pilihan di waktu sore menjelang maghrib. Bermajelis di bawah pohon area kampus menjadi pilihan di waktu pagi. Semangatnya, keluasan ilmu, dan keteladanannya itulah yang telah meruntuhkan benteng hatiku. Diriku yang dahulu kurang tertarik dengan pola belajar melingkar ini, akhirnya berubah. Perhatiannya terhadap amalan harianku mengantarkanku pada kebiasaan. Aku pun terus melakoni tarbiyah hingga kini, bahkan telah menjadi pelaku dalam mentarbiyah. Murobbiku memang Is The Best, telah mengantarkanku mencintai ilmu dan sebagai pangkal segala kebaikanku.

Kini belasan tahun lamanya aku meninggalkan Ma’had, tempat  menimba Ilmu.  Tarbiyah tetap aku lakoni sebagai aktifitas utama. Rasa syukur tak terhingga kupersembahkan semata kepada Allah Subhanahu wata’ala, zat yang maha mengatur. Sembari berdoa, semoga semua Ustadz sekaligus Murobbiku dari yang pertama hingga kini dan seterusnya serta semua sahabat seperjuanganku yang dengannya aku mengenal tarbiyah, dan selanjutnya mengalirkan benih-benih cinta yang hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya bisa tetap istiqamah. Semoga kelak kami dipertemukan dan disatukan dalam Surga-Nya. Amin

Wallahu A’lam Bishawab.

Categories
Berita

3 Kader Wahdah Mamuju Mendapatkan Apresiasi di Mukerda VIII

Sebagai kader Wahdah dalam menjalankan tugas dakwah, mari kedepankan taawun (kerja sama) yang baik. Kehadiran kita sebagai penyanding bukan penanding ormas yang lain. Mari memahami visi misi agar kita tidak bekerja tanpa tuntunan sebagaimana arahan pimpinan umum kita.

Mamuju—Mengawali kegiatan pembukaan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) VIII Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Mamuju (19/01/2018) di aula Masjid Raya Suada Mamuju, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Mamuju, Ustadz Amiruddin, S.Pd.I., M.Pd.I mengajak para pengurus untuk memahami pentingnya kegiatan Mukerda ini.

“Kegiatan ini mendasar dan merupakan ruh dari perjuangan. Permasalahan internal dan eksternal menjadi bumbu dakwah dalam berlembaga, sikap untuk saling memahami juga tidak bisa dipisahkan. Olehnya itu, musyawarah ini menjadi hal yang urgen sehingga butuh perhatian dari pengurus.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat, Ustadz Drs. Ahmad Yunus dalam sambutannya beliau berharap amanah Mukernas dan Mukerwil mampu melejitkan semangat lembaga di daerah ini untuk bertaawun membangun ummat.

“DPD Mamuju merupakan DPD yang pertama kali menyelenggarakan Mukerda disusul DPD Polman, Pasangkayu dan Majene dan Insya Allah bulan depan DPD Mamasa. Mari meningkatkan semangat dalam upaya melakukan kerja-kerja dakwah yang bermakna bagi masyarakat”.

“Kita sebagai kader Wahdah dalam menjalankan tugas dakwah, mari kedepankan taawun (kerja sama) yang baik. Kehadiran kita sebagai penyanding bukan penanding ormas yang lain. Mari memahami visi misi agar kita tidak bekerja tanpa tuntunan sebagaimana arahan pimpinan umum kita”. Ujar ketua DPW sesaat sebelum membuka acara secara resmi.

Satu hal yang menarik dari kegiatan Mukerda kali ini adalah diumumkan 3 orang pengurus dengan kriteria kinerja terbaik dalam kepengurusan. Tiga orang yang mendapatkan apresiasi adalah Akh. Bakri, S.Kep (Ketua Laziz), Akh. Agus Sapto Widodo, S.Pd (Kolektor Lazis) dan akh Amran Madiara, S.Kep (Departemen Kaderisasi).

Ustadz Amiruddin berharap pemberian apresiasi ini tidak bermaksud merendahkan kinerja pengurus lain yang juga memiliki kontribusi besar terhadap lembaga. Program ini tidak lain untuk memotivasi kepada yang lain agar berbuat lebih banyak untuk dakwah (am: Humas_WI Mamuju)

Categories
Berita

Ketua MUI Apresiasi Kegiatan Wahdah Islamiyah Mamuju

“Kita ingin menjadi orang-orang mukmin yang hakiki, bukan sekedar beriman tetapi harus dituangkan dalam bentuk jihad atau perjuangan. Oleh karena itu, mari kita wujudkan lembaga ini sebagai sarana untuk bekerjasama dengan yang lain

Mamuju – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Mamuju hari ini (19/01/2019) menggelar Mukerda VIII. Kegiatan ini bertempat di aula Masjid Raya Suada Mamuju yang direncanakan berlangsung 2 hari ke depan. Mukerda kali ini mengangkat tema “Optimalisasi Kader & Peran Lembaga Menuju Visi 2030.

Selain Mukerda, Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus baru Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kecamatan Simboro. DPC Simboro tersebut merupakan DPC yang ketiga dibentuk DPD Wahdah Islamiyah Mamuju setelah DPC Tommo dan DPC Kalukku.

Ustadz Andi Mangendre sebagai ketua terpilih DPC Simboro saat dikonfirmasi redaksi wahdahmamuju.or.id mengatakan bahwa amanah yang diberikan kepadanya tidak mudah dan membutuhkan pengaturan waktu yang baik.

“Dengan banyaknya amanah dakwah, tambahan amanah baru ini tidak mudah. Tapi Insya Allah kami berusaha untuk mengatur waktu sehingga amanah-amanah dakwah yang lain tidak terabaikan. Selain itu, kami tetap menunggu arahan selanjutnya dari DPD”. Ungkap da’i kelahiran Bone ini.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mamuju yang turut hadir dalam kegiatan ini mengapresiasi kegiatan Wahdah Islamiyah Mamuju. Dalam arahannya, KH. Namru Asdar, S.Ag mengatakan bahwa lembaga ini merupakan salah satu jalan kita melakukan jihad fii sabilillah.

“Kita ingin menjadi orang-orang mukmin yang hakiki, bukan sekedar beriman tetapi harus dituangkan dalam bentuk jihad atau perjuangan. Oleh karena itu, mari kita wujudkan lembaga ini sebagai sarana untuk bekerjasama dengan yang lain”.

Beliau menambahkan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan dakwah, kita perlu menjaga keikhlasan. Tentu tujuan kita bukan hanya agar organisasi kita menjadi terkenal, karena sebelum kita telah banyak organisasi yang besar dan telah dikenal lebih dahulu. Tetapi tujuan kita karena Lillahi Ta’ala, Insya Allah jika kita memperlihatkan kerja-kerja dakwah dengan ikhlas dengan sendirinya kita akan dikenal, pangkasnya. (Abu Muadz_Humas WI Mamuju).

Categories
Berita

8 Mahasiswa Asal Sulbar Ikuti Program KKN II STIBA

Makassar – 252 Mahasiswa STIBA Makassar mengikuti acara pelepasan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) II STIBA Makassar (14/01/2019). Kegiatan ini menandakan bahwa KKN kampus STIBA Makassar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan berbagai daerah di Indonesia ini telah dimulai.

Dalam kegiatan ini, Ketua STIBA Makassar, Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., P.h.D. memberikan nasihat kepada peserta dengan mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “ketika ditanya mengenai orang yang terbaik adalah salah satunya adalah orang yg bermanfaat bagi orang lain”.

“Hakekat kriteria terbaik bukanlah nilai akademik akan tetapi, yang mempunyai jiwa kader militan dan berhasil ketika berhidmat kepada umat. Kedepankan di masyarakat Ilmu, akhlak, hidmat mujtama”. Terang Ustadz.

Mahasiswa asal Sulawesi Barat yang mengikuti program KKN ini berjumlah 8 orang. Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi wahdahmamuju.or.id bahwa salah satu daerah penempatan peserta KKN ini yaitu daerah palu, sigi dan donggala.

Semoga selama KKN 2 bulan ke depan terhitung per tanggal 14 Januari 2019 sampai 14 Maret 2019 berjalan lancar dan seluruh program kerja dapat dilaksanakan dengan baik. (Sudarmin Dahlan—Humas_DPD Mamuju)

Categories
Berita

TPM Wahdah Mamuju Selenggarakan Jenazah di Maliaya

Mamuju – Sebagai salah satu lembaga yang menjalankan misi sosial keagamaan, Tim Penanggulangan Musibah (TPM) Wahdah Mamuju kembali melaksanakan penyelenggaraaan jenazah di Desa Maliaya, Kec. Malunda, Kab. Majene (13/01/2019).

Koordinator Lapangan, Ali Akbar mengatakan bahwa kehadiran timnya di Desa Maliaya atas permintaan keluarga almarhum. Ia juga menjelaskan sejak terbentuk 2017 lalu hingga saat ini, TPM Wahdah Mamuju terus aktif dalam kegiatan penyelenggaraan jenazah dan pemakaman bagi ummat islam yang membutuhkan bantuan, baik di kota maupun diluar kota Mamuju.

“Sejak dibentuk 2017 lalu sampai hari ini kami selalu aktif jika ada yang  membutuhkan, termasuk hari ini di Desa Maliaya. TPM Wahdah ini salah satu program dari Ormas Islam Wahdah Islamiyah Mamuju yang bergerak dibidang sosial keAgamaan”. Jelas Ali Akbar.

Akbar juga menegaskan dalam menjalankan misi sosial, pihaknya tidak menerima imbalan biaya dalam bentuk apapun. Bahkan salah satu tujuan pembentukan TPM Wahdah ini untuk membantu meringankan beban kaum muslimin yang tertimpa musibah.

“Kami mohon do’a semua masyarakat Mamuju semoga rencana pengadaan mobil  ambulance gratis TPM Wahdah bisa segera terwujud, sehingga keberadaan kami bisa memberikan manfaat yang lebih besar untuk kaum muslimin di daerah ini”. Harapnya

Selain TPM Wahdah, juga ada LAZIS Wahdah yang terus eksis melakukan berbagai kegiatan sosial berupa penyaluran bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam, santunan kepada Duafa, bantuan pendidikan bagi penuntut ilmu agama. Selain itu penyaluran zakat fitra dan pengelolaan infaq dan shadaqah dari kader dan simpatisan Wahdah Islamiyah Mamuju rutin dilakukan lembaga ini.

Keberadaan TPM dan LAZIS Wahdah yang sudah lebih dahulu eksis, tahun ini Insya Allah Wahdah Islamiyah Mamuju juga akan membentuk Tim Tanggap Bencana yang diharapkan menjadi cikal bakal pembentukan Tim SAR Wahdah Mamuju. (aa/Humas_DPD Mamuju)