Home / Artikel / Seri Ceramah Tarawih 3: Akhlak Nabi terhadap RabbNya

Seri Ceramah Tarawih 3: Akhlak Nabi terhadap RabbNya

Oleh:

Muhammad Yamin Shaleh, SH., MAP

Bagaimana cara kita berakhlak kepada orang lain. “Orang yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain” kata Rasulullah. Muslim yang baik adalah ia yang selamat saudaranya sesama muslim dari lisan dan tangannya”. Bahkan pada binatang sekalipun kita harus berakhlak, misalnya saat kita ingin menyembelih maka pisaunya harus ditajamkan agar hewan sembelihannya tidak lama merasakan sakit.

Salah satu sifat ibadah Ramadhan adalah ibadah itu dilakukan dengan berjamaah, baik di awal sampai di akhir sampai memasuki 1 Syawal. Maka salah satu cara diantara upaya-upaya yang kita lakukan, untuk bisa memaksimalkan ibadah di Bulan Ramadhan adalah dengan berada dalam kondisi atau lingkungan yang senantiasa membersamai kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Mengkondisikan diri bersama dengan orang-orang yang selalu bersemangat beribadah. Alhamdulillah tempat ini memfasilitasi kita bisa melaksanakan semua itu.

Diantara salah satu kesyukuran kita adalah ketika Allah Subhanahu wata’ala memberikan di sekeliling kita orang-orang yang gemar beribadah. Menyemangati kita bukan hanya dengan kata-kata akan tetapi dengan perbuatan, cukup dengan satu ibadah yang ia lakukan, itu bisa menjadi menjadi vitamin di dalam hati kita. Menjadikan semangat dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di dunia ia memberi manfaat, terlebih di akhirat nanti, Insya Allah.

Hasan Al- Bashri berkata,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Semoga kebersamaan kita ini bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat antara yang satu dengan yang lain.

Melanjutkan pembahasan tentang buku yang telah dibahas sebelumnya yaitu manusia teragung sepanjang masa yaitu nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah satu diantara perkara yang kita harus saling ingat mengingatkan, menjadikan Rasulullah sebagai qudwah, sebagai teladan, karena inilah bukti kecintaan kita yang hakiki kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah wahai Muhammad: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Sehingga cinta kita kepada Allah dapat dilihat dengan bagaimana kita ittoba’ kepada Rasulullah dari segala sisi. Inilah ukuran, bukti cinta kita kepada Allah Subahanahu wata’ala.

Saat kita berbicara tentang akhlak, maka ini cakupannya luas. Salah ketika kita menganggap bahwa akhlak itu hanya pada bagaimana kita bergaul dengan orang lain. Kata Rasulullah: Sesungguhnya aku tidaklah diutus kecuali menyempurnakan akhlak yang baik.

Pernah suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Aisyah tentang bagaimana akhlak Rasulullah, maka Aisyah mengatakan akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala menyebutkan bahwa maksudnya adalah Rasulullah mejadikan Al Qur’an sebagai tabiatnya, sebagai perangainya. Apa yang datang dari Al Qur’an berupa perintah ia lakukan dan apa yang dilarang ia tinggalkan.

Akhlak itu adalah bagaimana kita menerapkan nilai-nilai kebaikan yang datang dari Rasulullah. Baik itu kaitannya dengan diri, kepada Allah, kepada orang lain dan apapun itu. Salah satu akhlak pada diri adalah menjaga diri kita dari semua keburukan jasmani dan rohani termasuk bagaimana menjadikan diri kita sehat.

Bagaimana cara kita berakhlak kepada orang lain. “Orang yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain” kata Rasulullah. Muslim yang baik adalah ia yang selamat saudaranya sesama muslim dari lisan dan tangannya”. Bahkan pada binatang sekalipun kita harus berakhlak, misalnya saat kita ingin menyembelih maka pisaunya harus ditajamkan agar hewan sembelihannya tidak lama merasakan sakit.

Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”

Kebaikan akhlak manusia adalah cakupan yang sangat luas yang dirasakan oleh semua mahluk bahkan kaitannya dengan Allah Subhanahu wata’ala.

Akhlak Rasulullah kepada Allah Subhanahu wata’ala, hal ini merupakan puncak implementasi cinta kepada Allah, yaitu diantaranya menjaga nilai-nilai ketauhidan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Perintah pertama adalah mentauhidkan Allah dan larangan pertama adalah larangan untuk menserikatkan Allah. Puncak keluhuran adalah ketika manusia menjaga akhlaknya kepada Allah dan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah tentang bagaimana interaksi beliau kepada Allah. Yang lahir dan batin semua sejalan dengan tuntunan dan pengagungan kepada Allah.

Sebagaimana dalam QS. An-Najm: 17

مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

Artinya: Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

Dalam buku ini penulis mencertikan bagaimna akhlak Rasulullah di hadapan Allah. Rasulullah tidak berpaling dan hanya mengagungkan Allah semata. Rasulullah berada di tempat mahluk paling mulia, namun Rasulullah tidak melihat kepada yang lain. Beliau dengan penulisannya berada dihadapan Allah memuliakan Allah dengan sebenar benarnya kemuliaan.

Diantara kemuliaan akhlak Rasulullah  juga disebutkan dalam buku ini yaitu kesempurnaan rasa malu Rasulullah kepada Allah, malu adalah salah satu cabang dari keimanan. Rasulullah adalah seorang yang sangat pemalu, pemalu dari seorang gadis perawan yang bersembunyi dibalik hijabnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُلاَيَأْتِيْإلاَّبِخَيْرٍ

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Keimanan itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan, rasa malu outputnya adalah kebaikan.

Pernah Rasulullah sholat sampai kakinya bengkak. Saat beliau ditanya oleh istrinya kenapa kakinya bengkak ya Rasulullah?. Rasulullah menjawab, Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur. Dan inilah rasa malu yang menentukan kebaikan, menempatkan rasa malu pada tempatnya. Bukan malu saat diajak belajar mengaji, ini adalah malu yang tidak dibenarkan.

Rasulullah pun beristighfar kepada Allah dalam setiap kesempatan minimal 100x, Rasulullah senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatan. ABG bentuk implementasi dalam keadaan berdiri, duduk.

Saat kita berbicara tentang kebaikan Rasulullah maka tidak akan ada habisnya. Intinya adalah bagaimana kita menjaga ketauhidan kita kepada Allah. Menjaga kemurnian aqidah, meninggalkan semua bentuk kesyirikan kepada Allah Subahanahu Wata’ala. Dan yang lain adalah menjaga ketaatan kita kepada Allah, menjalankan perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah

Mamuju, 3 Ramadhan 1440 H

Ditulis oleh : Agus Sapto Widodo

Diedit oleh  : Abu Muadz Ashriady

About admin wahdah mamujiu

Check Also

Apakah Virus Corona Merupakan Tha’un?

Pertanyaan: Apakah virus corona merupakan tha’un dan bagaimana dengan hadits di setiap pintu Madinah terdapat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *